Buronan Polisi yang tertangkap berakhir Kebajikan

Kisah Inspirasi

Buronan Polisi yang tertangkap berakhir Kebajikan


Seorang pemuda 24 tahun yang baru menyelesaikan pendidikan kesarjanaan ditangkap polisi dengan kasus pembunuhan dan sedang menjalani hukuman penjara selama 15 tahun, nekad melarikan diri dari tahanan hingga menjadi buron incaran para polisi saat itu.
Pemuda yang dikenal sangat bengis dengan kejahatan pembunuhan, melarikan diri menjebol pintu sel dan bersembunyi di hutan yang jauh dari pemukiman warga, kini hidup sebatang kara tanpa sanak saudara. Sebut saja Casper nama pemuda buron yang melarikan diri dari incaran petugas keamanan.




Sebulan sudah Casper tinggal dihutan tanpa persedian sandang,pangan,papan. Namun untuk bertahan hidup Casper membuat gubuk kecil serta memakan segala buah dan hewan yang ditemuinya di hutan serta menampung air hujan di daun pisang. Waktu terus berlalu dan dalam dirinya mulai merasa jenuh
dibalik persembunyiannya yang sangat angker.
Setiap hari dia merenung dalam hati dan bermimpi dalam tidurnya kalau Ia akan menyerahkan diri pada polisi secepatnya.
Pikiran itu terus menghantui dirinya yang tinggal menyepi seorang diri di hutan. Tak terasa menjalani hidup dibalik persembunyian yang sudah setahun,justru membuat dirinya berubah pikiran untuk tetap berada dalam persembunyian yang panjang. Berbekal ilmu kesarjanaan bidang pertanian ternyata ini yang membuatnya lebih mencintai alam hijau dari pada menyerahkan diri ke polisi dalam bilik sempit dan penak. Kini hidupnya mulai menyatu dengan alam sekitar, serta giat melakukan cocok tanam untuk mempertahankan hidupnya. Suatu ketika di pagi hari Casper beranjak hendak mencari kayu bakar, Ia berjalan melintasi gunung dan bukit tinggi dan disitu Ia melihat keindahan alam dibalik puncak gunung hingga beberapa menit matanya jauh memandang ,tiba-tiba Ia tertelungkup dan tengadah ke langit sambil meneteskan airmata mengucap syukur pada sang pencipta akan kebesaran nikmat yang diberikan pada manusia dengan alam yang indah nan takjub.
Dalam hati Ia berkata "Jika Engkau memberikan Aku kesempatan hidup di hari ini dan akan datang, Aku bertobat padaMu dari segala dosa yang aku perbuat. Dengan anugerah Mu yang telah Engkau tunjukan dihari ini padaku, telah membuka mata batinku beriman kepadaMu. Tunjukilah jalan yang lurus bagi hambaMu yang bertobat, dan golongkan hambaMu ini kedalam golongan orang-orang yang beriman".

Setelah menghapus airmata dan merasa tenang dalam dirinya, Ia pun melanjutkan perjalanan kembali ke gubuknya. Di dalam perjalanan Ia melihat seorang bapak-bapak sedang mengumpulkan ranting pohon kering. Dirinya sempat kaget dan bersembunyi di balik rindangnya pohon sambil memerhati bapak yang tadi mengumpulkan ranting pohon kering. Merasa yakin kalau itu bukan polisi yang sedang mengincarnya, akhirnya Ia menampakan diri dan menyapa memberi salam pada seorang bapak tersebut. Sang bapak yang saat itu sedang mengumpulkan ranting kering, terkejut dan berpaling. Dalam hatinya merasa aneh ditengah hutan ada orang lain selain dirinya yang bekerja sebagai pengumpul ranting kering.
Akhirnya keduanya saling mengenal dan sempat berbicara panjang lebar hingga terjalin suatu keakraban antara orangtua dan anak.

Hampir setiap hari keduanya ketemu dalam hutan mencari ranting kering,dan sampai akhirnya seiring waktu yang berjalan Casper diajak tinggal di rumah sang bapak di sebuah dusun kecil ketika itu usia Casper sudah 35 tahun.
Dusun kecil yang tentram dan damai membuat hati Casper terketuk ingin kembali hidup baru dan mengabdi pada sang ilahi untuk hidup di jalan yang benar.
Tak tahan airmatanya menetes melihat para anak-anak,remaja,pemuda tak bersekolah yang hanya menghabiskan masanya dengan bertani dan mencari ranting kayu kering di hutan untuk di jual. Hingga akhirnya timbul niatnya untuk membangun dusun kecil yang makmur dan membangun sebuah sekolah untuk mengajarkan pendidikan pada para anak-anak,remaja,pemuda dan para orangtua buta huruf.

Berbekal ilmu pendidikan kesarjanaan yang dimilikinya dan melalui persetujuan kepala adat dusun akhirnya Ia di izinkan mendirikan sebuah bangunan sekolah di dusun itu.
Memberi penyuluhan & pengetahuan cara bercocok tanam pada warga dusun,sudah menjadi rutinitas Casper menyampaikan di kelas. meskipun bangunannya hanya beratap jerami berdinding bambu.
Mengajar sendiri sebagai guru pada warga dusun,Casper merasa senang dan berterima kasih pada Sang ilahi yang telah memberikan kesempatan hidup baginya untuk berbuat baik pada semua makhluk ciptaan-Nya.
Para warga dusun sangat simpatik padanya selama Ia berada di dusun mereka, yang telah banyak melakukan perubahan dan keceriaan di hati warga dusun melalui pendidikan memberantas buta huruf dan cara bercocok tanam.

Kedekatan warga dusun terhadap Casper semakin melekat dan dicintai,hingga Ia menikah dengan warga dusun dan membangun sebuah keluarga bahagia.
Namun apa dikata keberadaan Casper di dusun itu telah diketahui pihak keamanan polisi sebagai tempat persembunyian buronan yang mereka cari.
Sampai akhirnya Polisi menangkap Casper di dusun itu.
Isak tangis yang mendalam para warga dusun terhadap kecintaan mereka pada Casper ketika melihat Casper di borgol dan naik ke mobil tahanan. Warga dusun yang tak mengetahui hal itu terjadi bahwa Casper adalah seorang buronan incaran polisi sejak lama, kini terungkap. Di antara mereka para warga dusun seperti bermimpi bahwa dibalik kejahatan ada kebajikan yang sangat berarti mereka dapatkan dari sosok Casper.


Pembelajaran :

Jangan selalu katakan "Masih ada waktu" atau "nanti saja". Gunakan waktumu dengan bijak,Hidup ini terlalu singkat jika hanya menyesal.
Perbuatan adalah cerminan isi hati. Jika hati dipenuhi kebaikan, maka sikap dan tindakan akan baik, begitu sebaliknya. Orang yang malas telah membuang kesempatan yang diberikan Tuhan. Padahal Tuhan tidak pernah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia.


>

No comments:

Post a comment