Sobat pengunjung setia blog jally junkiez,. Mungkin suatu saat Anda akan merasa panik karena dikejar dosa. Begitu takutnya Anda hingga seluruh pekerjaan Anda berantakan. Mungkin saja untuk sekedar refreshing akibat tekanan pekerjaan yang bertensi tinggi, Anda dan rekan-rekan sekerja bersenang-senang, lantas melupakan batas-batas kebolehan yang telah menjadi ukuran. Misalnya untuk sekedar cuci mata dan kemudian berujung berbuat zina. Untuk sekedar menimbang keadaan seseorang tapi justruasyik menebar fitnah dan sebagainya.

Pada saat Anda menyadari bahwa semua itu melanggar batas kebolehan yang ada pada diri Anda, maka semuanya sudah terlambat, karena semua sudah terjadi. Kalau Anda memikirkan dengan apa yang sudah terjadi, dan Anda merasa bersalah, maka hal itu bisa mempengaruhi kerja Anda. Bukan saja ditempat kerja, ditengah-tengah lingkungan Anda, bahkan didalam hidup berumah tangga pun akan tidak merasa tentram. Perasaan dikejar dosa semacam ini bisa mengakibatkan ketakutan yang sangat serius.

Secara umum, takut terhadap rasa bersalah ini muncul dalam dua bentuk, yakni:

  • Rasa bersalah horizontal, yakni rsa bersalah yang Anda lakukan berdasarkan kedudukan Anda sebagai makhluk sosial. Anda melakukan kesalahan kepada sesama manusia dengan melanggar kesepakatan-kesepakatan dan norma hukum adat dan hukum negara. Sanksi atas pelanggaran ini diambil berdasarkan norma hukum yang berlaku ditempat Anda.
  • Rasa bersalah vertikal, yakni rasa bersalah yang muncul setelah Anda melakukan perbuatan tertentu berdasarkan kedudukan Anda sebagai makhluk individu. Anda melakukan kesalahan dengan melanggar norma agama. Perasaan bersalah ini menempatkan Anda berhadapan dengan sanksi hukum Tuhan yang menguasai seluruh hidup Anda.


Adakalanya suatu ketentuan bersifat reatif, artinya terkadang boleh menurut hukum adat namun terlarang bagi hukum agama, demikian pula sebaliknya. Misalnya disuatu tempat dalam sebuah pesta adat dibolehkan meminum-minuman keras sehingga memabuk-mabukan. Walaupun boleh secara adat, namun terlarang bagi agama. Bahkan apa yang boleh dilakukan oleh suatu agama tertentu belum tentu dibolehkan oleh agama yang lain. Misalnya mengkonsumsi daging babi. Banyak agama membolehkannya, namun dilarang keras oleh agama tertentu. Sebaliknya ada pula hal yang dibenarkan menurut norma agama, namun tidak dibenarkan oleh hukum negara, misalnya praktik poligami dan nikah siri, melakukan tindak kekerasan terhadap anak untuk menegakan ibadah shalat, atau perjuangan jihad fisabilillah yang memperjuangkan amar ma'ruf nahi munkar yang sering berbenturan dengan hukum negara.




Banyak contoh-contoh yang dapat kita temui terkait dua bentuk rasa bersalah yang telah disebutkan diatas. Kadang-kadang ketakutan atas dosa yang telah dilakukan tidak rasional. Namun rasional atau tidak, tekanan rasa takut itu dapat membuat orang akan menerima akibat psikologi yang tidak ringan. Yang paling mengerikan adalah azab yang dijanjikan Sang Pencipta alam jagad raya ini, yaitu pembalasan yang sangat pedih di alam neraka. Sebagai umat beragama tentu Anda sangat percaya akan adanya hari akhir dan neraka yang penuh penyiksaan abadi dan memiliki tingkat penyiksaan yang tak ada bandingnya.
Konon dunia hanyalah wadah pengujian, dan akhirat adalah tempat yang sesungguhnya. Hal inilah yang membuat banyak diantara kita sedapat mungkin menghindari pedihnya siksaan neraka, namun sayangnya banyak diantara kita yang tak mempedulikannya.

Takut terhadap rasa bersalah atau rasa berdosa itu sangat baik. Bukankah dengan demikian Anda dapat mengontrol kendali diri Anda untuk tidak berbuat salah pada siapapun dengan alasan apapun? Yang menjadi masalah adalah bila Anda merasa takut karena dihantui oleh rasa bersalah atau dosa, tetapi Anda tidak menemukan bagaimana cara untuk keluar dari rasa takut tersebut.
Sebagian besar para pendosa hidup dalam ketakutan kehidupan dibalik dinding penjara yang kita kenal ganas, kadang-kadang lebih menentramkan mereka daripada harus hidup diluar penjara. Didalam penjara, mereka lebih sering berhadapan dengan orang-orang yang kasar, yang sok jagoan dan sok berkuasa. Namun apa yang mereka hadapi itu tak berkaitan dengan rasa bersalah dan rasa berdosa yang menggumpal dalam hatinya. Mereka hidup dalam situasi yang keras diluar cengkraman rasa bersalah yang akut. Justru diluar penjara ia akan berhadapan dengan orang yang tak lagi bersahabat, penuh dengan curiga, dendam, dan pandangan merendahkan. Ini reaksi wajar yang terdapat pada orang yang telah melakukan dosa.

Kalau boleh memilih, mereka akan memilih hidup disuatu tempat yang tidak mengundang hadirnya kembali bayangan dosa-dosa yang pernah diperbuatnya. Disuatu tempat terpencil yang jauh dari keramaian, atau jauh dikota lain yang tak memiliki akses dengan kota yang membawa kenangan pahit atas dosa-dosanya. Atau kalau tidak bisa mendapatkan tempat semacam itu, maka mungkin Anda lebih takut hidup diluar penjara daripada didalamnya dan memilih untuk kembali ke penjara dan hidup didalamnya.

Ini baru pada tahapan takut secara horizontal. Siksaan duniawi saja sudah begitu menakutkan, apalagi siksaan akhirat nanti. Bukankah sangat mengerikan bila Allah menuntut pertanggungjawaban Anda terhadap perbuatan-perbuatan Anda yang telah melanggar ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya? Allah telah berulang-ulang memperingatkan dengan ancaman siksaan yang pedih. Tidakkah Anda mendengarkan?





Rasa tidak percaya pada kemampuan sendiri akan sangat mengganggu aktifitas Anda sehari-hari. Apapun jenisnya yang Anda kerjakan, jika tanpa disertai kepercayaan bahwa Anda mampu mengerjakannya, maka hasilnya tidak akan optimal. Ketidakpercayaan pada diri sendiri merupakan salah satu dari bentuk ketakutan yang sangat dihindari banyak orang, disamping beberapa ketakutan yang sudah di paparkan pada artikel sebelumnya, Penulis sengaja membedakan pengertian antara ketidakmampuan diri dan ketidakpercayaan diri untuk kepentingan pembahasan mengenai rasa takut dalam artikel ini. Ketidakmampuan diri yang dimaksud disini lebih ditekankan pada kondisi lahiriah, sedangkan ketidakpercayaan diri lebih ditekankan pada pembahasan batiniah. Pendekatan ini penulis harapkan dapat mempermudah Anda mengikuti alur bahasan yang disajikan berikut ini.

Walaupun mengacu pada pendekatan yang berbeda, namun ketidakmampuan diri dan ketidakpercayaan diri mempunyai hubungan yang kuat satu sama yang lain. Misalnya orang dengan masalah ketidakberdayaan diri akan mempengaruhi kepercayaan dirinya. Sebaliknya, orang yang mempunyai masalah dengan ketidakpercayaan diri juga akan mempengaruhi ketidakberdayaan dirinya.




Ketidakpercayaan diri merupakan faktor yang sangat menentukan besar kecilnya bobot keberanian Anda. Artinya, semakin besar rasa percaya diri Anda, maka semakin besar pula keberanian Anda. Sebaliknya juga demikian. Hal ini juga mengindikasikan bahwa semakin besar bobot kepercayaan diri Anda, semakin dekatlah Anda mencapai pintu sukses.
Berikut ini akan dipaparkan tingkatan kepercayaan diri yang dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, yakni:

  1. Rendah diri, yakni suatu keyakinan pada diri yang menganggap diri sendiri tidak memiliki kemampuan yang berarti, atau kurang berharga yang ditimbulkan karena ketidakmampuan psikologis, sosial, atau keadaan jasmani yang kurang sempurna.
  2. Kurang percaya diri, yakni suatu keraguan pada kemampuan diri ketika menghadapi situasi tertentu, yang bahkan cenderung menghindari situasi yang penuh resiko dan tantangan.
  3. Cukup percaya diri, yakni suatu keyakinan pada diri bahwa dengan kemampuan jasmaniah dan akal budi yang dimilikinya, ia merasa mampu menghadapi situasi, mampu meraih apa saja yang diinginkannya, direncanakannya, dan diusahakannya.
  4. Sangat percaya diri, yakni memiliki kepercayaan diriyang berlebihan dengan keyakinan bahwa ia mampu menghadapi resiko terberat dimana orang lain tidak mampu melakukannya.


Orang yang rendah diri sering berusaha menyembunyikan dirinya dari pergaulan sosial, ia lebih sering memilih menyendiri daripada bercengkrama bersama teman, kelompoknya, selalu menarik diri dalam setiap aktifitas kelompok sebaya, selalu ragu-ragu dalam bertindak dan menolak untuk melakukan persaingan positif. Ia lebih suka memilih kenyamanan di zona aman. Ia selalu merasa terlalu bodoh untuk memikirkan sesuatu, dan terlalu lemah untuk mengerjakan sesuatu. Itu sebabnya ia cenderung menolak atau menghindari tugas yang dibebankan kepadanya.

Perasaan rendah diri biasanya timbul karena beberapa hal, antara lain

  • Pengaruh faktor internal yang ada pada dirinya. Misalnya menyadari bahwa ia memiliki kualitas kecerdasan dibawah rata-rata sehingga tak mau bersaing dengan orang lain. Memiliki tingkat emosional yang rendah sehingga mudah strees, depresi, cemas, tidak bersemangat, merasa tak berdaya, dan mudah tersinggung dan mudah putus asa.
  • Mengalami insiden yang mengakibatkan cacat tubuh atau menderita cacat tubuh sejak lahir yang bersifat permanen atau menderita penyakit yang berkepanjangan.
  • Pengaruh faktor eksternal yang menimpanya, misalnya masalah kemiskinan, ketidakharminisan keluarga karena suatu perbuatan yang memalukan dan sebagainya.


Kurang percaya diri berbeda dengan rendah diri.  Bila Anda seorang yang merasa ragu atau bimbang atas kemampuan Anda dalam menghadapi suatu situasi, boleh jadi Anda dalam posisi yang kurang percaya diri. Kurang percaya diri ini bersifat insidental dan situasional, jadi bukan merupakan sesuatu yang permanen. Anda mungkin merasa kurang percaya diri ketika berhadapan dengan satu kondisi tertentu, namun justru sangat percaya diri ketika menghadapi kondisi lainnya. Begitu pula sebaliknya. Jadi perasaan kurang percaya diri yang ada pada diri Anda akan sangat tergantung pada situasinya, bukan merupakan perasaan yang menetap dan bukan pula trade mark Anda.

Pada saat mengalami kegagalan, Anda sering merasakan bahwa tantangan yang Anda hadapi itu di luar keberdayaan Anda, atau Anda menyesali telah menggunakan pendekatan yang salah atau kurang tepat. Dalam kondisi seperti ini, emosional Anda agak meningkat dan sensitif terhadap kritik. Anda selalu merenungkan apa yang salah pada diri Anda sehingga Anda mengalami kegagalan.

Kalau Anda tidak berbenah bangkit dari kegagalan, rasa kurang percaya diri ini akan semakin menggerogoti kepercayaan Anda. Anda merasa diperlakukan tidak adil oleh Sang Maha Pencipta, yang memberikan banyak kelebihan pada orang lain, tapi hanya memberikan sedikit kemampuan untuk Anda. Sikap ini mulai menempatkan Anda pada posisi bahaya. Anda akan mulai melebih-lebihkan kesulitan setiap pekerjaan, dan melebih-lebihkan ketidakmampuan Anda mengatasinya. Anda bukan saja bimbang untuk meraih kesuksesan masa depan, namun bisa jadi tidak peduli pada masa depan.




Takur terhadap ketidakberdayaan diri berawal dari pemahaman tentang keberdayaan diri yang tidak profesional. Kalau Anda menilai diri sendiri tidak memiliki keberdayaan yang berarti dan kurang berharga akbibat ketidakberdayaan psokologis, sosial, atau keadaan jasmani yang kurang sempurna, maka dengan mudah Anda akan mengalami ketakutan yang bersifat serius.

Takut terhadap ketidakberdayaan diri ini dapat dibedakan menjadi dua, yakni takut yang disebabkan oleh faktor internal seperti mengalami cacat, susuah berkomunikasi atau menderita penyakit tertentu. Kedua, takut terhadap ketidakberdayaan diri yang disebabkan oleh faktor eksternal, misalanya akibat kelemahan ekonomi orangtua, broken home, atau masalah lingkungan lainnya. Kedua jenis ketakutan ini akan memaksa Anda memasuki dunia rendah diri.




Beberapa sebab yang melatar belakangi ketakutan terhadap ketidakberdayaan diri antara lain adalah:
  • Anda memiliki kondisi tubuh yang tidak sempurna, sehingga Anda menjadi rendah diri dan menolak melakukan persaingan. Akibatnya, keberdayaan Anda tidak bertambah dan Anda merasa tidak berdaya berbuat apa saja.
  • Anda merasa terlalu miskin untuk mendapatkan barang-barang yang dapat memacu keberdayaan diri, sehingga Anda merasa seberapapun beratnya Anda berusaha, hasil yang dicapai tidak akan maksimal. Hal ini akan membuat Anda berhenti berusaha.
  • Anda merasa diperlakukan tidak adil oleh keadaan, sehingga Anda memberontak dengan melakukan aksi tidak berbuat apa-apa. Dengan melakukan ini, Anda berharap orang lain mengerti keadaan Anda dan dapat memahami kekurangan Anda.
  • Anda salah dalam mengenali diri Anda, dan membuka peluang seluas-luasnya untuk ketidakberdayaan, dan menutup peluang rapat-rapat untuk sebuah keberdayaan. Hal ini cenderung menempatkan Anda pada zona aman untuk tempat menentramkan diri.
  • Anda merasa lebih nyaman dengan ketidakberdayaan ini karena tidak diminta untuk melakukan sesuatu yang memiliki resiko besar, tidak dihadapkan pada ancaman bahaya, dan akan mendapatkan rasa iba dari orang lain.
  • Anda pernah melakukan pekerjaan yang berakhir dengan kegagalan dan mendapat ejekan dari orang lain yang menyudutkan harga diri Anda yang akhirnya membuat Anda menjadi tidak percaya pada keberdayaan Anda.
  • Anda mendapat tekanan cukup besar dari keluarga untuk melakukan pekerjaan yang Anda pikir di luar kemampuan Anda. Untuk menghindari pekerjaan itu, Anda dengan sengaja mengecilkan keberdayaan Anda.


Anda akan terkubang pada ketidapercayaan akan keberdayaan diri, dan selalu menempati posisi dibawah posisi orang lain. Akibatnya, apapun yang Anda lakukan seolah-olah dalam kendali dan hinaan orang lain. Kalau saja gejala ini berkembang tanpa upaya normalisasi, maka selamanya Anda akan hidup dalam jerat-jerat ketakutan.

Pada satu kasus, misalnya ketika tiba-tiba terjadi sebuah kecelakaan hebat, seorang remaja terpaksa kehilangan kedua kakinya. Mungkin benar ia merasakan langit diatas kepalanya terasa runtuh, dan bumi dibawahnya terbelah dan menjepitnya. Ia lalu menyikapi kehilangan kedua kakinya itu sebagai kehilangan segala-galanya. Bukan ketakutanakan kehilangan kaki yang menghantuinya, malainkan takut pada hinaan dan ejekan atas ketidaksempurnaan dirinya dan kehilangan keberdayaannya untuk menghadapi segala macam situasi yang akan datang.

Kehilangan sebagian tubuh itu disikapinya sebagai bencana besar dalam hidupnya, mengoyak-ngoyak kepercayaan dirinya. Pada kondisi seperti ini, Ia lebih suka memasuki zona aman, dengan memilih berdiam diri tidak melakukan apa-apa dikamarnya, memutuskan untuk mengurung diri tanpa komunikasi dengan teman-temannya, dan melanjutkan hidupnya dari belas kasihan orangtua. Ia terlalu takut untuk mencoba keluar rumah atau mencoba melakukan sesuatu yang baru. Ia takut dikasihani temannya, takut diejek, takut ditertawakan, takut dianggap sampah, dan banyak lagi jenis takut lainnya. Maka ia akan menghabiskan seluruh hidupnya dalam jerat ketakutan seperti itu, sampai pada saatnya ia berani keluar dari zona aman  dan berani menanggung resiko yang menimpahnya. Sampai ia menyadari bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah berada ditengah-tengah masyarakat yang ramai, bukan sendirian dikamarnya.

Takut terhadap ketidakberdayaan diri yang akut akan membuat Anda secara psikologis menjadi orang yang tidak percaya diri. Kepribadian ini merupakan sinyal bahwa apapun yang akan Anda kerjakan akan berakhir dengan kegagalan.




Apakah Anda sering merasa bimbang ketika membuka pintu rumah untuk berangkat melakukan aktifitas sehari-hari? Anda merasa takut kalau-kalau hari tiba-tiba turun hujan dengan derasnya pada saat Anda berada di tempat kerja, sehingga rekan bisnis Anda tak bersedia, dan negosiasi bisnis yang Anda rencanakan tak bisa berjalan? Anda takut kalau-kalau rencana meeting Anda dalam memaparkan rencana kerja tiba-tiba batal karena ada beberapa staff direksi yang tidak menyukai Anda? Mungkin Anda takut jangan-jangan Anda akan dirampok pada saat menarik uang di bank? Kalau Anda sering menjumpai masalah seperti contoh disebutkan tadi diatas, berarti Anda telah berprasangka buruk terhadap sesuatu atau pada seseorang, dan Anda merasa takut prasangka buruk itu benar-benar terjadi.




Sebuah prasangka buruk juga dapat dilontarkan seseorang pada diri Anda. Semakin banyak orang yang menaruh prasangka buruk kepada Anda, semakin tinggi ketakutan Anda terhadap prasangka itu. Tidaklah baik Anda berprasangka buruk kepada orang lain. Tidaklah baik pula Anda merasa takut ketika orang lain berprasangka buruk kepada Anda.
Berikut ini ada beberapa penyebab munculnya ketakutan Anda terhadap prasangka buruk orang lain kepada Anda, antara lain adalah:

  • Anda tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk bersaing dengan orang lain, sehingga menganggap orang lain akan menjatuhkan Anda dengan segala cara yang bisa dilakukan.
  • Andapernah melakukan kesalahan tertentu pada seseorang dan menganggap orang tersebut berencana membalas dendam dengan menjatuhkan Anda atau menggagalkan rencana Anda.
  • Anda memiliki kelemahan yang diketahui orang lain, dan merasa orang tersebut akan memanfaatkan kelemahan Anda itu untuk menjatuhkan Anda.
  • Anda merasa cemburu pada kemampuan profesional seseorang yang dengan cepat mendapatkan tempat dihati atasan Anda. Anda merasa kehadirannya itu dapat mengancam posisi dan kedudukan Anda yang selama ini memberi rasa nyaman pada Anda.
  • Anda merasa lemah dan tak berdaya sehingga menganggap seseorang itu tidak menaruh kepercayaan pada Anda.
  • Anda menyimpan rahasia tertentu yang akan melukai perasaan seseorang, sehingga Anda takut seseorang itu mengetahui rahasia Anda dan melakukan tindakan pemerasan terhadap Anda.


Sebuah prasangka buruk memang dapat menimbulkan ketakutan. Dengan timbulnya perasaan ini akan menyebabkan terganggunya ketenangan  Anda. Suatu hari mungkin Anda merasa takut ketika dalam perjalanan pulang dari kantor, kendaraan yang Anda kemudikan tampak dibuntuti oleh seseorang. Dari balik kaca spion Anda bisa melihat seorang pemuda bertato dengan kaca mata hitam berada dibelakang kendaraan Anda. Ketika Anda berhenti diperempatan lampu merah, kendaraan itu berhenti tepat disamping kendaraan Anda. Pengendara yang tampak sangar itu menoleh ke arah Anda dan memandang Anda tanpa tersenyum. Namun ketakutan Anda pelan-pelan sirna ketika lampu hijau menyala, dan orang itu justru berbelok ke kanan dan tidak lagi membuntuti kendaraan Anda.




Ketika Anda sedang berada dalam Bis angkutan dan duduk disebelah Anda seorang laki-laki berjaket kulit. Berkali-kali ia melihat ke arah tas yang Anda tempatkan diatas bagasi yang mana berisi barang-barang berharga yang baru saja Anda beli. Anda tiba-tiba merasa takut, jangan-jangan lelaki itu tahu betul apa yang ada di dalam tas Anda. Dan Anda bertindak cepat untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk dengan menurunkan tas dari bagasi dan meletakkan di pangkuan Anda. Anda mungkin akan merasa lega setelah tahu bahwa lelaki itu bekerja disebuah pabrik tas kulit yang salah satu produksinya adalah tas yang Anda gunakan itu.

Takut yang diakibatkan menaruh prasangka buruk juga sering dianggap pada orang yang takut kehilangan sesuatu. Akibat takut kehilangan perhatian dan kasih sayang dari kekasihnya, seorang pemuda akan selalu berprasangka buruk pada setiap lelaki yang berteman baik dengan kekasihnya. Bahkan dalam dunia anak-anak, selalu ada kemungkinan seorang anak tidak suka atas kehadiran adiknya karena takut kehilangan perhatian dan kasih sayang ibu. Ia selalu bersikap soudzon atau berprasangka buruk terhadap siapapun yang mencoba dekat dengan ibunya.

Sebaliknya, Anda mungkin juga pernah takut bila seseorang akan menaruh prasangka buruk pada Anda. Karena perjalan ke kantor macet total, Anda dipastikan akan terlambat menghadiri pertemuan dengan staff direksi. Walaupun Anda sudah menelpon menjelaskan kondisi perjalanan Anda saat ini, bukan tidak mungkin Anda merasa bersalah, dan menaruh perasaan takut, jangan-jangan semua orang berprasangka buruk terhadap Anda dan tidak mempercayai kejujuran Anda. Terlebih lagi pada kasus lain, dimana Anda terpaksa meminta pengunduran waktu untuk melunasi tunggakan kredit Anda. Anda tentu merasa sangat takut jangan-jangan lembaga kredit itu berprasangka buruk pada Anda dan menganggap Anda hanya mencari-cari alasan untuk menghindari kewajiban, padahal Anda telah seratus persen jujur.

Begitu pula dengan orang yang memperlakukan tubuhnya dengan "tidak umum" berpeluang untuk mengundang prasangka buruk, apakah ia bertato, bertindik, mengecat rambut warna warni, atau berdandan yang aneh-aneh. Takut akibat timbulnya prasangka buruk ini membuat seseorang lebih memilih memasuki zona aman, ia merasa nyaman dengan tidak melakukan apa-apa. Kekhawatiran yang ditimbulkan dari adanya prasangka buruk juga dapat melahirkan reaksi lain dengan melakukan tindakan protektif yang berlebihan. Dengan alasan kewaspadaan, rasa takut yang diakibatkan prasangka buruk berupa kecurigaan, baik juga dilakukan. Akan tetapi kalau hal itu menjadi kebiasaan, apalagi dilakukan dengan cara yang berlebihan, tentu akan dapat mempengaruh ketenangan Anda juga.




Paling umum yang seringkali ditemui salah satu bentuk ketakutan adalah takut terhadap kehilangan. Baik itu kehilangan yang berhubungan dengan aspek psikologi, material ataupun pergaulan sosial. Takut akan kehilangan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Merasa bahwa harta benda adalah milik Anda yang telah dengan susah payah Anda dapatkan, sehingga kehilangan itu semua merupakan kehilangan besar dari sebagian hidup Anda.
  • Merasa bahwa harta yang Anda miliki adalah kekuatan bagi Anda untuk bertindak melindungi keluarga dan orang-orang yang menjadi tanggung jawab Anda. Kehilangan harta benda berarti kehilangan kekuatan untuk melakukan tindakan yang menjadi tanggung jawab Anda.
  • Merasa bahwa perhatian dan kasih sayang adalah sumber kekuatan dan tujuan hidup Anda, maka kehilangan orang yang Anda cintai dapat membuat Anda kehilangan gairah, semangat, dan orientasi bagi perjuangan Anda di dunia ini.
  • Merasa bahwa rekan bisnis, jabatan dan jaringan kerja merupakan penunjang bagi eksistensi Anda dalam mengemban amanat Sang Maha Pencipta, maka kehilangan itu semua akan membuat Anda tak berdaya dan lumpuh secara moral.
  • Merasa bahwa wujud dari apa yang telah Anda raih tak akan mampu digantikan lagi apabila hilang, dengan keyakinan bahwa masa kejayaan Anda dalam meraih kesuksesan telah berlalu, dan kini yang ada pada Anda hanyalah sisa-sisa kekuatan yang sudah sangat jauh berkurang.




Takut akan kehilangan yang berhubungan dengan aspek psikologis misalnya adalah takut kehilangan perhatian, cinta, dukungan, dan kasih sayang. Wujud yang paling mudah dikenali dalam aspek ini adalah perasaan cemburu. Anda merasa cemburu apabila orang yang Anda sayangi memberikan perhatian lebih pada orang lain dan mengabaikan Anda. Anda merasa takut kehilangan dirinya. Secara emosional, orang dapat melakukan tindakan apa saja yang kadangkala diluar akal sehat dalam upaya mempertahankan miliknya itu. Emosional yang tak terkendali dengan baik akan mampu membuat Anda gelap mata dan melakukan tindakan berbahaya sampai mengancam keselamatan jiwa Anda.

Takut kehilangan perhatian dan kepercayaan dari atasan, takut kehilangan kemesraan dan kehangatan keluarga, takut kehilangan dukungan dari orang yang Anda cintai, bahkan yang paling menonjol adalah takut kehilangan kehormatan dan harga diri,  sering membuat Anda melampiaskannya dengan melakukan tindakan-tindakan yang negatif. Ketakutan akan kehilangan pada hal-hal semacam inilah yang membutuhkan pengendalian diri yang rasional.

Dalam pergaulan sosial Anda mungkin pernah merasa takut akan kehilangan mitra bisnis, takut kehilangan seorang karyawan yang handal, atau takut kehilangan jaringan kerja. Merasa takut kehilangan akan hal tadi akan membuat Anda selalu dalam posisi tegang dan tidak percaya pada siapapun. Ketakutan semacam ini sering membuat Anda melakukan hal yang seharusnya tidak Anda lakukan, misalnya dalam skala "waras" Anda mengupayakan suap atau hadiah tendensius untuk menjaga hubungan baik Anda dengan orang-orang disekitar lingkungan Anda. Dalam skala kurang waras, Anda akan mengupayakan tindakan intimidasi tertentu.

Takut akan kehilangan ini tampak pula pada saat Anda mengalami kondisi post power syndrome (PPS), saat Anda memasuki usia pensiun, saat Anda tiba-tiba saja kehilangan pekerjaan, kegiatan, teman-teman kantor, kebanggaan posisi kehormatan dan pangkat, atau hal-hal yang sering mengiringi PPS itu. Anda sering merasa tercampak ke titik nadir. Apalagi bila disertai oleh perubahan-perubahan fisik lain akibat ketuaan, seperti kulit keriput, pandangan mata mulai kabur, pendengaran mulai tuli, daya pikir mulai pikun, sering sakit-sakitan, sampai kemampuan seksual yang selama ini dibanggakan tiba-tiba kehilangan keperkasaannya.

Sisi baik dari rasa takut kehilangan barang lahiriah atau barang material adalah membuat Anda mati-matian mengupayakan proteksi terhadap harta kekayaan, mulai memiliki brankas, memelihara anjing penjaga, menggaji security dan algojo atau memagari rumah Anda dengan tembok tinggi dan kamera CCTV, ini semua Anda lakukan dengan dalih demi keamanan walaupun alasan yang sebenarnya adalah demi mengurangi ketakutan.

Intensitas harga kehilangan terhadap sesuatu sangat relatif. Ada orang yang demi menjaga keutuhan cinta kasihnya agar jangan sampai hilang, rela mengorbankan semua harta bendanya. Ada juga yang sebaliknya, demi menjaga harta bendanya ia rela mengorbankan orang-orang yang dekat dengannya. Selain itu ada juga suatu kondisi dimana demi menjaga hubungan baik dengan jaringan bisnisnya, ia rela mengorbankan orang-orang yang dicintainya, sekaligus harta benda yang dimilikinya. Ini akan Anda sikapi dengan dasar sejauh mana Anda memberi harga pada sesuatu yang penting itu agar tidak hilang.

Ketakutan akan kehilangan sesuatu, pada umumnya didampingi dengan pengorbanan untuk kehilangan sesuatu yang lain. Pada kasus-kasus penyanderaan dan penculikan, hal itu tampak jelas. Takut terhadap kehilangan akan seseorang yang begitu fungsional bagi Anda, harus ditebus dengan keberanian untuk kehilangan sesuatu yang lain. Sebuah kalimat yang pasti sudah Anda kenal dan poluar didunia kriminal adalah memberikan pilihan, "Harta atau nyawa Anda"?

Kehilangan merupakan peristiwa katastroval yang menyedihkan. Dampak kehilangan ini seperti virus yang dapat menimbulkan kecemasan pada orang lain. Misalnya saja tragedi bencana lumpur lapindo di siduarjo, membuat masyarakat yang berada dekat dengan lokasi bencana begitu takut kalau rumah dan harta benda mereka juga ikut menjadi korban. Demikian juga halnya pada peristiwa-perintiwa kebakaran, bencana banjir, atau bencana alam lainnya yang sering menyapu habis harta kekayaan masyarakat. Dampak peristiwa kehilangan misal akibat bencana alam akan membuat orang lain mempersiapkan tindakan prefentif. Hal ini wajar dilakukan, karena ketakutan akan kehilangan ini adalah hal yang manusiawi. Memang sulit untuk bersikap tegar ketika semua yang Anda miliki yang merupakan hasil perjuangan sepanjang hidup Anda itu tiba-tiba harus hilang. Tapi itulah kehidupan. Tidak ada satupun milik Anda yang abadi di dunia ini. Keabadian di dunia ini adalah ketidakabadian itu sendiri.