Memandang Kegagalan dari Sisi yang Lebih Indah



Pengunjung setia blog jallyjunkiez.com, di kesempatan kali ini penulis akan mengulas sedikit tentang memandang kegagalan dari sisi yang lebih indah atau lebih baik. Oleh karena kegagalan sering membuat banyak orang sulit untuk move on, sehingga tidak salahnya penulis berbagi pengetahuan pada pengunjung sekalian untuk sama-sama kita mengetahuinya.

Sejarah telah menunjukkan pada kita bahwa pemenang-pemenang terkenal biasanya menemui hambatan yang menyakitkan dalam hidupnya sebelum mereka mencapai keberhasilan. Mereka yang berhasil disebabkan mereka tidak pernah berkecil hati karena kegagalan-kegagalan yang menimpahnya. Anda mungkin pernah mengetahui di tahun 1952 Edmund Hillary seorang pendaki gunung tertinggi Mount Everest mati-matian mencoba menaklukan gunung tertinggi tersebut. Sayangnya ia gagal. Beberapa minggu setelah kegagalannya, pendaki gunung legendaris asal selandia baru itu menyampaikan pidato di hadapan sejumlah orang di inggris "Gunung Everest, pertama kau mengalahkanku. Akan tetapi di lain waktu Aku akan menaklukanmu. Karena kau tidak dapat tumbuh lebih tinggi lagi. Sementara Aku masih akan terus bertumbuh".




Setahun kemudian Edmund Hillary kembali menepati janjinya, dan dia berhasil menaklukan puncak gunung mount everest. Dan yang terpenting dialah orang pertama yang berhasil rekor tersebut. Kala itu bersama Edmund Hillary ikut juga seorang warga Nepal bernama Tenzing Norgay. Sebelumnya sudah ada tim pendaki yang mencoba menaklukan puncak Mound Everest namun mereka gagal.

Lalu, bagaimana dengan Anda, mereka atau bahkan penulis sendiri?

Ya, hampir bisa dipastikan, kita pernah mengecap yang namanya kegagalan. Entah dalam pekerjaan, studi, bisnis ataupun hubungan asmara bahkan hal lain menyangkut kehidupan ini. Suka tidak suka, sadar tidak sadar, semakin banyak tindakan yang kita ambildalam hidup semakin banyak pula kemungkinan kita mengalami kegagalan. Apalagi untuk tujuan dan urusan besar dalam hidup. Nah, yang paling penting sebetulnya bukan kegagalan yang kita alami, melainkan bagaimana kita memandang menanggapi kegagalan itu. Cara pandang dan sikap yang tepat dalam memahami kegagalan akan membuat kita tahu, Benarkah kita gagal? atau jangan-jangan "hanya" belum berhasil saja.

Perihnya kegagalan memang tak jarang membuat banyak orang terguncang. Beberapa diantaranya bisa menyelamatkan diri, sementara beberapa yang lain justru ikut goyah, bahkan hancur dalam guncangan itu. Mereka yang selamat bisa memandang kegagalan sebagai sumber pembelajaran. Meskipun sudah hancur lebur orang-orang ini tetap bersemangat bangkit dan terus maju. Orang-orang semacam ini mampu memandang kegagalan sebagai fase yang sifatnya sementara dan tidak abadi. Mereka meyakini kelak kondisi ini akan menjadi indah.

Sementara sebagian yang lain, yang goyah dalam guncangan kegagalan cenderung memandang kegagalan sebagai akhir dari segalanya. Ketika gagal dalam suatu hal, orang-orang semacam ini memilih tenggelam dalam keterpurukan. Bukannya melangkah maju, justru mereka "jalan ditempat" dalam waktu yang begitu lama. Bahkan terkadang kegagalan itu tak hanya membuat mereka berdiam diri dan beristirahat dari hidup. Ibarat terjatuh dan mereka membiarkan diri mereka tersungkur dan enggan bangkit lagi. Tanpa di sadari dalam peristirahatan yang tak pasti, mereka telah kehilangan banyak peluang untuk berkembang.



Bagaimana cara kita memandang kegagalan selama ini?

Jika kegagalan benar-benar datang menimpah hidup kita, apakah kita akan ikut hanyut dalam kegagalan? Cara paling asyik menyikapi kegagalan semestinya tak perlu serius. Bukankah hidup ini tak ubahnya seperti roda yang berputar, ada naik turun? Kita tentu tahu bahwa hidup kan mengalami masa-masa pasang surut, masa-masa penuh keraguan dan kekecewaan termasuk menghadapi sebuah kegagalan. Ketika kita gagal, kita memandang sedang berada dibawah. Namun tetaplah di ingat, ini hanyalah putaran roda waktu. Pada gilirannya nanti, kita pasti akan naik lagi ke atas. Asal, usaha tetap dilakukan. Ibarat roda sepeda tidak akan mungkin berputar bila tidak ada yang menggowes sepeda itu, bukan?

Maka dari itu tak usah terlalu ambil hati. Kegagalan tak seharusnya membuat kita jalan ditempat. Apalagi sampai terpuruk dan menyerah pada keadaan. Jika kita mau melebarkan sudut pandang, kita akan mengerti bahwa kegagalan adalah guru yang baik, guru yang bijak, dan guru yang adil yang mengajari kita agar tidak jatuh ke lubang serupa. Jika kita mampu memaknainya dengan tepat, kegagalan justru bisa menjadi batu loncatan untuk sampai pada lompatan yang lebih tinggi, serta mengarahkan kita menuju kemenangan-kemenangan yang tak terduga.

Dengan reward yang sebegitu besar, kita harus pandai menghargai nilai dari setiap kegagalan yang kita alami. Sebagaimana ada petuah megatakan "Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda". Ada kegagalan pasti juga ada kesuksesan atau keberhasilan. Dari kegagalanlah kesuksesan bisa lebih cepat di dulang. Sebab selama kita mampu menerjemahkan kegagalan, ia tak ubahnya seperti pembakar semangat untuk bangkit dan bergerak tumbuh. Dari kegagalan, kita mendapat kesempatan terlahir kembali untuk membenahi apa-apa yang sebelumnya menghambat keberhasilan kita. Namun segalanya tergantung pada kita dalam menyikapi kegagalan secara cerdas.

Cukup sekian yang dapat penulis berbagi pada pengunjung sekalian, semoga bermanfaat dan memberi motivasi bagi kita semua dalam menjalani hidup ini, terlebih sikap syukur pada yang maha kuasa atas segala pemberian-Nya yang tiada terbatas.



No comments:

Post a comment