KEBIASAAN TANPA PROSES BERPIKIR


Selama ini, kita paham bahwa segala gerak fisik dan prilaku yang kita lakukan tak lepas dari kendali otak. Otak bekerja sekian rupa sebelum akhirnya memberi keputusan-keputusan untuk menentukan hal-hal tertentu. Melalui proses berpikir, otak menimbang-nimbang segala sesuatu sebelum kita memutuskan melakukan pekerjaan yang kita kerjakan, bahkan pada masalah-masalah terkecil sekalipun. Sebelum kita membeli makanan, misalnya. Otak menggiring kita untuk memutuskan makanan mana yang akan kita beli. Sebelum mengenakan pakaian tertentu, otak menggiring untuk menentukan pakaian mana yang akan kita kenakan.



Meskipun sebagian besar tindakan yang kita lakukan ada dibawah kendali otak, ada beberapa tindakan yang kita lakukan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan matang. Itulah kebiasaan, segala aktifitas yang berjalan dengan terus-menerus dengan pola yang sama karena kita telah melakukannya berulang-ulang. 

Contoh kecil kebiasaan adalah ketika kita handak menanak nasi. Kita tidak perlu lagi memerasa otak untuk menentukan bagaimana menanak nasi. Apakah sperti kita memasak mi instan, dimana kita harus merebus air hingga mendidih terlebih dahulu baru memasukkan mi atau berasnya. atau air dan berasnya harus dimasukkan secara bersamaan ke dalam panci? Seberapa takaran airnya? Bagaimana tanda yang menunjukkan bahwa nasi sudah matang? Contoh lainnya adalah ketika bangun tidur, tanpa komando kita akan pergi ke kamar mandi lalu mencuci muka atau mandi. Semua berjalan begitu saja tanpa kita harus mengarahkan segala pikiran untuk mengambil keputusan tersebut. Semua kita lakukan begitu saja karena kita sudah melakukannya berulang-ulang bahkan mungkin untuk ratusan kalinya.

Stephen R. Covey dalam The Seven Habits Of Highly Effective People (2004) mencoba mendefinisikan kebiasaan secara lebih panjang. Ujarnya bahwa kebiasaan merupakan titik temu antara pengetahuan, ketrampilan, dan keinginan. Pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan kita tentang apa aktifitas yang harus dilakukan dan mengapa aktifitas itu harus dilakukan. Untuk melakukan aktifitas tertentu, kita tentu harus tahu dan mempunyai alasan apa aktifitas yang kita lakukan dan mengapa kita harus lakukan aktifitas tersebut. Pengetahuan menjadi pondasi kita melakukan kebiasaan aktifitas tertentu. Ketrampilan yang dimaksud adalah kemampuan yang dimiliki untuk melakukan aktifitas tersebut. Sedangkan keinginan adalah motivasi atau tujuan yang ingin kita capai dengan melakukan aktifitas tersebut, sehingga kita pun melakukannya terus-menerus berulang-ulang.

Wujud kebiasaan dapat berupa dua bentuk, yakni sesuatu yang dapat ditangkap panca indera dan sesuatu yang tak tampak berupa sikap atau perasaan. Kebiasaan-kebiasaan yang bisa ditangkap indera contohnya adalah kebiasaan-kebiasaan pergi kesuatu tempat tertentu, makan makanan tertentu, menonton acara tertentu, dan lain-lain. Kebiasaan berupa sikap contohnya adalah kebiasaan menghormati orang lain, memuliakan tamu, dan lain sebagainya.




Kita dapat membentuk kebiasaan-kebiasaan yang bermanfaat dengan cara berusaha mencari pengetahuan tentang sesuatu yang akan kita lakukan dan melatih diri sehingga memiliki kemampuan atau keinginan untuk melakukannya. Sebagai contoh, jika kita ingin membentuk kebiasaan mengatur waktu dan memanfaatkannya, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa makna waktu dan pentingnya waktu dalam kehidupan kita. Barulah kita mengenal cara-cara mengatur waktu dan melatih diri untuk melakukannya. Setelah itu kita dituntut untuk membangkitkan semangat dan keinginan mengatur waktu dengan cara meningkatkan diri bahwa mengatur waktu memiliki peran sangat penting dalam menentukan kesuksesan dan keunggulan kita.

Namun, jika kita bukan orang-orang yang memiliki semangat tinggi untuk hidup teratur dan tidak memiliki semangat untuk berkorban dengan membuang sebagian perilaku kita atau kita lebih condong pada kemalasan, tidak diragukan lagi bahwa kita tidak mungkin bisa membentuk kebiasaan yang sangat berharga itu. Kebiasaan yang ada dalam kehidupan kita terbentuk dan dibangun dalam waktu lama sehingga kita dengan mudah melakukannya dan mengulanginya. Artinya tidak ada kebiasaan yang bersifat abadi. Seburuk apapun kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita miliki, kita masih punya kesempatan untuk mengubahnya. Perubahan meningkatkan kualitas diri memang tak pernah mudah, namun mau tak mau kita harus melakukannya karena itulah jalan satu-satunya menuju kesuksesan yang kita citakan.



No comments:

Post a Comment