Berhati-hatilah Jika Anda Berjanji




Ada-ada saja dengan tingkah laku orang jaman sekarang...Hhhhmm. Sudah tahu dosa, ehh malah cuek saja. Padahal ucapan janji yang keluar dari mulutnya adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkannya. Justru sebaliknya akan ucapan janjinya itu hanya sebatas manis dibibir saja.
Orang-orang yang demikian sungguh sangat sulit untuk dipercaya. Apalagi berjanji untuk kedua kalinya kepada orang lain. Sekali Anda berjanji dan tak pasti menepatinya, maka pupus harapan Anda meraih cita-cita. Itu semua karena ulah perbuatan Anda sendiri. Jelas, ya..!? Hhhhmm.

Namun, jika Anda adalah orang yang penuh dengan kesungguhannya menepati janji, maka sudah pasti dapat membuat orang lain segan dan ingin bermitra dengan Anda. Oleh karena itu jangan memandang remeh dengan setiap ucapan janji yang keluar dari mulut Anda, jika tidak ingin orang lain khwatir dan merasa gelisah.

Terkadang kita mudah terperdaya dengan janji manis dari ucapan orang. Apalagi jika yang datang menemui menawar janji adalah sahabat terdekat kita sendiri. Mau menolak, rasa kagak enak karena sahabat. Mau diterima, khawatir jangan-jangan Ia ingkar. Tapi ujung-ujungnya diterima juga. Hahahaha.... Amblas.
Itulah ketika banyak orang memiliki kepentingan, seringkali janji dijadikan senjata ampuh untuk meluluh lantakan orang-orang yang menjadi sasaran tembakannya. Entah itu berupah pinjaman uang, kendaraan, dan lain sebagainya. Terlebih lagi jika orang tersebut sedang mencalonkan diri, misal sebagai pejabat. Orang tersebut mudah mengumbar janjinya tanpa beban sedikitpun dalam dirinya. Tapi, setelah keinginannya terpenuhi, orang itu melupakan akan segala janji-janjinya. Padahal Ia sadar dan tahu akan janji-janjinya itu, tapi tidak sedikitpun niatnya yang kuat untuk menepatinya.

Dulu kita sering mendengar ucapan "Janji itu adalah hutang". Setiap orang harus menyadari janjinya sebagai hutang yang harus dipenuhi. Jika tidak, ia akan mudah melalaikannya. Maka, sampai kapan pun Ia akan terus dibayang-bayangi janji-janjinya yang tidak ditepati, seperti seorang dihantui dengan utang-utangnya yang belum dibayar.

Setiap janji memang harus ditepati. Kecuali berjanji dalam melakukan dosa, maka harus berusaha untuk menghindarinya. Sebab, setia terhadap dosa adalah bahan bakar neraka. Karenanya, tidak boleh seorang berjanji kecuali untuk kebaikan. Maka, ketika perjanjian itu jelas dalam ketaatan dan kebaikan, segeralah ditepati dengan penuh rasa tanggungjawab dan maksimal.

Ingat Sobat..! Dalam setiap perjanjian selalu ada konsekuensi yang harus dibayar, sekali Anda melakukannya maka kegelisahan akan terus mengejar. Oleh sebab itu, Jangan mudah mengumbar janji jika Anda tak mampu mewujudkannya. Karena setiap perjanjian selalu ada harga yang harus terbayarkan, bahkan nyawa sekalipun.

Semoga bermanfaat...

No comments:

Post a comment