Anda Karyawan Harus Menjadi Pendengar Yang Baik

Inspirasi Dalam Kerja

Menjadi Pendengar Yang Baik


Menjadi pendengar yang baik bisa menjadi hal termudah sekaligus tersulit untuk dilakukan seorang manajer. Salah satu kecakapan seorang manajer yang baik adalah kemampuannya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Kedua kemampuan tersebut memang sangat dibutuhkan dalam manajemen perusahan. Namun kemampuan mendengar akan memberi nilai lebih berupa mampu mengenali karyawan dan perusahan dengan baik. Kemampuan berbicara bermanfaat di dalam memberi arahan, tugas dan pengaruh kepada karyawan. Adapun kemampuan mendengar akan membuat manajer memahami potensi, kendala dan solusi dari setiap masalah perusahan.

Kemampuan mendengar telah menjadi ketrampilan penting yang harus dimiliki manajer perusahan. Hal ini dibuktikan melalui riset. Oleh sebab itu seorang manajer dituntut harus bisa menjadi pendengar yang baik. Akan tetapi ada sebagian manajer belum menjadi pendengar yang baik. Hal ini terlihat dari beberapa komentar-komentar karyawan yang menunjukkan nada sinis. Komentar-komentar tersebut antara lain "Atasan selalu mendominasi pembicaraan sehingga saya tidak dapat memberikan saran untuk mengatasi persoalan di bagian penjualan," "Atasan saya selalu memotong pembicaraan," "Saya tidak mengerti apakah manajer mengerti apa yang sedang kami diskusikan," "Berbicara dengan atasan hanya membuang waktu," serta "Atasan tidak pernah menatap saya ketika kami sedang terlihat percakapan."




Berkaca dari hal tersebut, anda perlu melakukan introspeksi, apakah selama ini sudah menjadi pendengar yang baik terhadap karyawan atau belum. Setelah itu anda harus mulai menjadi pendengar yang baik bagi karyawan. Sebab, kemauan mendengar merupakan syarat komunikatisi efektif selain kecakapan berbicara. Komunikasi merupakan suatu proses mengirim dan menerima informasi. Jika komunikasi berjalan dengan baik, maka orang lain akan mengerti hal-hal yang anda inginkan atau bahkan mau mengerjakan apa yang diminta. Selain itu anda dapat mengetahui informasi penting, sesuatu yang dibutuhkan dan sebagainya. Komunikasi efektif menuntut komunikan menjadi pendengar yang baik. Banyak persoalan dan kesalahpahaman timbul dalam komunikasi sebagai akibat kurangnya konsentrasi pada saat mendengarkan pembicaraan orang lain.

Hal ini sering terjadi dalam komunikasi antara atasan dengan bawahan. Ketika bawahan berbicara, atasan kurang mampu menjadi pendengar yang baik. Kondisi ini terjadi karena berbagai sebab, di antaranya rendahnya kesadaran atasan terhadap karyawan, memandang rendah terhadap bawahan, manajer merasa lebih berpengetahuan, serta anak buah dipandang harus selalu mengikuti instruksi pimpinan. Itulah sebagian kesalahan yang sering disepelekan oleh manajer.

Berbagai riset telah menunjukkan bahwa rata-rata orang hanya menyimpan 25% dari sesuatu yang di dengarnya. Padahal manusia dikaruniai dua telinga dan hanya satu lidah. Hal ini merupakan isyarat halus bahwa manusia hendaknya lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Kenyataannya kebanyakan orang memang mendengar, tetapi hanya sedikit orang mendengarkan dengan baik. Mendengarkan berarti memberi arti pada sesuatu yang di dengar. Aktivitas mendengarkan tidak akan terjadi sampai saat seseorang mendengar, mengerti dan mengingat hal-hal yang di komunikasikan oleh orang lain.



Kemampuan mendengar bukanlah keterampilan alamiah, terutama bagi orang yang sudah merasa di atas. Pasti ada ego tinggi di dalam dirinya. Keterampilan mendengarkan berkaitan dengan penghargaan diri sendiri terhadap orang lain. Faktor umum yang mempengaruhi seberapa baik seseorang mendengarkan adalah sikapnya terhadap orang memiliki kecenderungan untuk fokus mendengarkan perkataan atasan daripada orang-orang yang kedudukannya dianggap lebih rendah.

Jadi, karyawan dituntut untuk lebih mendengarkan pimpinan dibanding manajer berusaha untuk mendengarkan bawahannya. Hal ini wajar mengingat selama ini para atasan lebih berkepentingan untuk membicarakan ide-ide mereka sendiri daripada mendengarkan perkataan orang lain. Bagi manajer, pihak yang mendengarkan dianggap dapat mengancam self-image-nya. Namun hal itu tidak berlaku bagi manajer yang berorientasi pada pengabdian atau pelayanan dalam memainkan peranan sebagai pemimpin. Manajer tersebut tidak ragu untuk menjadi pendengar yang baik bagi setiap karyawannya.

Jika mampu menjadi pendengar yang baik, maka anda sebagai manajer akan memperoleh dua hal berikut ini, yakni :

  1. Memperoleh wawasan, pengetahuan dan solusi yang mungkin anda butuhkan untuk mengatasi masalah perusahan. Ingatlah bahwa anda adalah pemimpin yang memiliki jabatan dan pengetahuan luas dalam perusahan. Meskipun begitu tidak dapat dipungkiri bahwa karyawan anda terkadang lebih mengerti segala kebutuhan dan persoalan dalam pekerjaannya. Jadi tidak ada ruginya sama sekali anda mau mendengarkan karyawan.
  2. Dengan menjadi pendengar yang baik, karyawan bukan hanya akan merasa senang, tetapi juga terlecut motivasi dalam bekerja. Manajer yang mendengarkan karyawan dengan baik akan membangkitkan semangat dalam bekerja karena merasa diperhatikan, dihargai dan di dengarkan keluh kesahnya. Hal ini seperti di rumah sendiri dimana semua anak-anak di dengarkan segala perkataan dan keluhannya oleh orang tua. Anak tersebut tentu merasakan kehangatan keluarga sehingga ia akan berbakti dan taat pada orang tuanya. Hal ini berlaku pula pada suara karyawan yang selalu di dengarkan dan di respons dengan baik oleh manajer.



No comments:

Post a comment