Kisah Penjual Sayur yang berinovasi

Kisah Motivasi, Inspirasi Dan Inovasi

Kisah Penjual Sayur yang berinovasi


Di suatu kompleks perumahan di tengah perkampungan warga yang terbilang agak jauh dari pasar tradisional, terlihat ramai para ibu-ibu rumah tangga berbelanja sayur mayur dan rempah lainnya untuk menu sajian makanan keluarga yang di beli dari seorang penjual sayuran keliling dengan menggunakan kereta dorong terbuat dari kayu. Setiap hari di jam sembilan pagi para ibu-ibu rumah tangga sudah setia menunggu di depan jalan menanti kedatangan Sang penjual sayur mayur dan mereka berbondong-bondong berbelanja. Oleh karena itu merasa dirinya sebagai penjual sayur mayur yang sangat di butuhkan dan di perlukan oleh semua ibu-ibu akan dagangannya di perkampungan perumahan itu, sehingga penjual tersebut mulai mengeluarkan jurus-jurus jitu dalam usahanya agar menghasilkan untung yang sangat besar, yakni pada prinsip satu banding dua. Artinya harga beli akan berlipat menjadi dua kali lipat jika akan dijual kembali olehnya. Prinsip ini di terapkan oleh sang penjual sayur mayur keliling tentu saja berjalan mulus karena berbagai pertimbangan yang sangat menyulitkan para ibu-ibu kompleks perumahan tersebut untuk menjangkau pasar tradisional yang terbilang jauh. Apalagi di tambah dengan sistem hutang piutang dilakukan sang penjual kepada ibu-ibu dengan membeli dagangannya bisa hutang dan di saat melunasi harus membayar penuh di tambah separuh harga sayur yang di hutang.





Hari terus berlalu dan Sang penjual sayur keliling yang biasa menjajahkan dagangannnya menggunakan kereta kayu, kini berganti dengan kendaraan roda empat alias mobil pickup yang di peroleh dari hasil usaha dagangannya yang begitu maju. Usahanya di perlebar dengan menambah beberapa material lainnya yang di jual seperti beras,tepung,loyang,piring,belanga dan perabot lain-lain. Meskipun usahanya semakin bertambah maju namun tak menyurut jadwal kunjungannya di perkampungan perumahan itu selalu saja tiba di tempat setiap jam sembilan pagi. Suatu ketika di kampung perumahan itu ada seorang bapak yang hendak pergi ke pasar tradisional dengan menggunakan kendaraan pribadinya bermaksud berbelanja untuk stok kebutuhan hidup sehari-hari dan di pasar itu ia bertemu dengan rekan alumni sekolahnya waktu SMA yang saat itu berprofesi sebagai penjual sayur mayur keliling menggunakan roda dua alias motor, sehingga terjadi perbincangan keduanya di sebuah kedai kopi hingga dalam perbincangan itu Sang bapak menceritakan kejadian di kompleks perumahannya yang jauh dari pasar tradisional sangat sulit mendapatkan belanja kebutuhan untuk sehari-hari. Setelah mendengar cerita dari sang bapak tentunya dalam pikiran temannya, ini merupakan suatu peluang baginya untuk menggapai masa depan.

Esok harinya Pukul enam pagi ia mulai melancarkan agresinya dengan berkeliling membonceng beberapa sayuran menuju ke kompleks perumahan rekannya yang di ceritakan kemarin. Dan sesampainya di lokasi perumahan perkampungan itu ia mulai meneriaki dagangannya dari depan jalan. Tak berselang lama Alhasil satu persatu ibu-ibu rumah tangga keluar rumah dan berbelanja, sampai-sampai beberapa orang dari ibu-ibu tak kebagian dengan barang dagangan bawaannya. Hari berikutnya ia mulai giat membawa dagangan yang lebih banyak di kompleks perumahan perkampungan itu dan hasilnya selalu saja habis di borong para ibu-ibu sebelum jam tujuh pagi. Kegiatan ini terus dilakukan oleh si penjual sayur mayur yang baru di kenal oleh para ibu-ibu kompleks. Sampai akhirnya penjual sayur yang lama yang biasa tiba jam sembilan pagi dagangannya mulai sepih dari para ibu-ibu. Merasa ada hal yang aneh dengan kondisi yang di alaminya sehingga ia bertanya pada salah seorang ibu yang sudah menjadi pelanggan tetapnya, hingga ibu tersebut menceritakan padanya kalau setiap hari jam enam pagi sudah ada penjual sayur keliling yang baru dan menjajahkan dagangannya di kompleks perumahan ini, sehingga jangan heran kalau dagangan anda akan sepih di banding sebelumnya, jawab sang ibu.




Merasa usahanya mulai tersaingi oleh orang lain sehingga ia mulai berinovasi dengan merubah jadwal kedatangannya lebih dini hari yakni jam enam pagi. Namun alhasil dagangannya masih saja sepih dari belanjaan para ibu-ibu. Sudah seminggu ia lakukan mengunjungi kompleks perumahan perkampungan tersebut di jam enam pagi tak membuahkan hasil dan justru para ibu-ibu lebih tertarik berbelanja pada penjual sayur yang baru.
Lama kelamaan usahanya mulai menurun terlihat dari bawaan dagangannya semakin sedikit. Sang ibu yang masih setia menjadi pelanggannya mulai bercerita padanya tentang kondisi yang saat ini menimpah dagangannya, Sang ibu berkata, "Kamu tak akan bisa merebut pelangganmu seperti yang dulu. Dan kamu tak akan pernah berhasil mendapatkan itu semua dari pesaingmu sebelum kamu merubah prinsip dagangmu seperti ini." Kamu lihat sendiri para ibu-ibu itu bergerombol membeli habis semua dagangannya, itu karena harga yang di tawarkannya sangat kompetitif jauh lebih murah di banding harga daganganmu saat ini, bahkan untuk segala hal hutang piutang tak pernah di mintanya lebih selain keikhlasan dari para ibu-ibu itu untuk memberikan padanya."
Mendengar ucapan dari sang ibu, ia sadar akan dirinya dan tengadah ke langit sambil mengucurkan airmata memohon ampun pada sang pencipta.

Dari kisah ini telah menggambarkan suatu kehidupan nyata yang seringkali kita jumpai dimana saja. Dan di setiap apa yang ingin di gapai seseorang tak lepas dari rasa ketidakpuasan sehingga tak pernah berpikir dampak yang ditimbulkan bagi dirinya.
Padahal segala apa yang telah di ciptakan wajiblah untuk di syukuri. Karena apa yang telah diciptakan-Nya sudah pasti tidaklah sia-sia.



No comments:

Post a comment