Takut Terhadap Resiko Kegagalan Dan Alasannya



Artikel sebelumnya sudah banyak mengulas tentang kegagalan. Di kesempatan kali ini penulis akan mengangkat topik tentang takut terhadap resiko kegagalan dan alasannya. Perlu diketahui bahwa kegagalan adalah sesuatu yang normal. Sebelum dipaparkan lebih lanjut akan topik ini, ada dua pertanyaan tentang pilihan Anda saat ini yakni, pertama  "Apakah Anda akan menyerah dikala Anda menghadapi sebuah kegagalan yang kecil di masa lalu hanya karena perasaan yang tidak nyaman, lalu membuat Anda takut berbuat sesuatu karena membayangkan akan menghadapi kegagalan yang lebih besar? Kedua, Apakah Anda akan menyikapi kegagalan itu sebagai suatu sinyal yang menunjukan kelemahan dan keterbatasan Anda dan ingin mempelajari lebih dalam akan kemungkinan untuk mengatasinya, mengevaluasinya, dan menyiapkan diri untuk berbuat sesuatu dan mencoba lagi?".
Jawaban pilihan ada pada diri Anda masing-masing.

Takut Terhadap Resiko

Ingat,..? Langkah sekecil apapun yang akan Anda lakukan selalu ada resikonya. Namun resiko sebesar apapun bukanlah sesuatu yang menakutkan apabila Anda telah menyiapkan diri dengan baik untuk menghadapinya. Namun resiko sekecil apapun bisa menjadi bencana besar apabila Anda tidak pernah menyiapkan diri mengantisipasinya.
Suatu ketika, pernahkah Anda merasa sangat percaya diri ketika hendak melakukan sesuatu? Sebaiknya Anda waspada. Seringkali rasa percaya diri yang terlalu tinggi membuat Anda mengabaikan atau menganggap enteng akan faktor resiko. Padahal bukannya tidak mungkin pada saat Anda menetapkan pilihan dengan mengharapkan kemungkinan terbaik yang akan Anda raih, Anda tidak siap dengan kemungkinan terburuk yang akan Anda dapatkan. Resiko yang timbul dapat di duga sebelumnya, dapat juga diluar dugaan. Ia juga dapat berupa hal-hal yang baik dan menyenangkan, namun bisa juga berupa hal-hal yang buruk yang menyakitkan




Resiko yang dapat diduga sebelumnya, tentu akan mudah diantisipasi dengan penangkal yang sudah diperhitungkan sebelumnya. Resiko yang muncul diluar dugaan pun mungkin saja terjadi, misalnya seseorang sedang berjalan ditrotoar tiba-tiba tewas ditabrak mobil berkecepatan tinggi yang berbelok arah saat menghindari anak kecil yang tiba-tiba menyeberang di jalan. Jadi resiko yang muncul secara tak terduga ini sulit sekali diantisipasi. Ada beberapa alasan yang membuat Anda takut mengambil resiko, diantaranya yakni:

  • Anda tidak tahu apa sebenarnya tantangan yang akan hadapi pada saat Anda memutuskan untuk berada di zona aman, atau akan keluar dari zona aman ketika memasuki situasi baru yang belum Anda kenal.
  • Anda tidak mengenal diri Anda dengan baik sehingga tidak memahami kelebihan dan keterbatasan Anda, terutama saat berhadapan dengan situasi yang mengandung banyak resiko.
  • Anda terpengaruh oleh cerita orang lain tentang betapa beratnyamenghadapi resiko pada situasi tertentu. Beratnya resiko yang dihadapi seseorang itu Anda adaptasikan dengan resiko yang akan Anda hadapi.
  • Anda berlebihan memperhitungkan kemungkinan terburuk pada saat berhadapan dengan sesuatu yang mengandung resiko, sehingga Anda tidak pernah memikirkan solusi yang akan Anda lakukan untuk mengatasi kemungkinan terburuk tersebut.
  • Anda tidak jujur dan proporsional dalam menilai kelemahan dan kekuatan yang dimiliki, Anda hanya semata-mata untuk melindungi kewibawaan Anda di mata orang lain. Anda sering berusaha membesar-besarkan kekuatan Anda dan mengecilkan kelemahan Anda, sehingga Anda membodohi diri Anda sendiri.


Ada kalanya, meski Anda sudah mempersiapkan sesuatunya dengan sempurna, selalu terdapat kemungkinan akan timbul bahaya. Apalagi jika Anda bertindak diluar batas wilayah yang Anda kuasai. Anda yang tidak menguasai bisnis kuliner misalnya, ketika memutuskan terjun kebisnis itu, harus siap berhadapan dengan resiko yang mungkin membahayakan diri Anda, misalnya saja cita rasa masakan yang kurang enak, pelayanan yang mengecewakan, kerugian finansial yang beruntun dan lain sebagainya yang dapat menghancurkan reputasi diri Anda.

Keputusan Anda untuk berani mencoba bisnis kuliner adalah suatu keputusan yang tepat. Artinya, Anda sudah berani mengambil resiko untuk keluar dari zona aman dan membuka peluang untuk sesuatu yang lebih baik. Kalau Anda takut mengambil resiko dengan tidak membuka peluang, berarti Anda tidak berbuat apa-apa dan duduk manis di zona aman. Sikap berani mencoba berarti kemungkinan berhasil 50% dan kemungkinan gagal juga 50%, sedangkan kalau Anda tidak berani mencoba, maka kemungkinan berhasil adalah 0%dan kemungkinan gagal adalah 100%.

Banyak peristiwa situasional yang dapat memaksa Anda untuk keluar dari zona aman. Misalnya bagaimana ketika tiba-tiba saja ada anggota keluarga yang sakit atau mengalami kecelakaan dan harus menjalani operasi. Bagaimana pula kalau tiba-tiba perusahan tempat Anda bekerja melakukan efisiensi dengan pemutusan hubungan kerja? Tidak mungkin Anda diam dan tidak peduli dengan kondisi itu. Anda harus segera melakukan tindakan tertentu yang berarti harus meninggalkan zona aman.
Resiko akan timbul ketika Anda memutuskan untuk melangkah keluar dari kenyamanan Anda. Bila Anda berada dalam situasi ini dan tidak mempedulikannya atau menganggap enteng, maka sesungguhnya Anda justru berada dalam resiko terbesar untuk tersakiti dan mengalami kekecewaan. 

Mengangap enteng resiko yang mungkin terjadi banyak diakibatkan adanya perasaan percaya diri yang berlebihan, sehingga kehilangan sentuhan akan adanya rasa takut. Dengan tanpa adanya rasa takut, antisipasi untuk menghadapi terburuk pun tak pernah ada. Keadaan ini menempatkan posisi Anda dalam bahaya. Tetapi terlalu menganggap berat resiko yang mungkin terjadi, justru akan menurunkan tingkat keberanian Anda, sehingga Anda sering terkurung dalam zona aman yang nyaman tanpa masa depan.

Takut tehadap resiko, sama saja dengan takut terhadap hal-hal lain. Anda mungkin lebih memilih menghindari suatu tindakan yang memiliki resiko berat, karena alasan untuk tidak menghadapinya yang lebih besar dari pada alasan untuk menghadapinya. Namun sering alasan itu hanya digunakan untuk menutupi ketakutan Anda terhadap timbulnya resiko yang tak ingin Anda hadapi. Kebanyakan dari orang-orang tak suka mengakui hal ini secara jujur. Jika Anda berani untuk bersikap jujur terhadap kelemahan yang Anda miliki, tak ada salahnya Anda memilih tindakan yang memiliki resiko lebih kecil atau setara dengan kekuatan Anda.
Kalau Anda memilih tindakan dengan resiko yang lebih besar melebihi kekuatan yang Anda miliki, maka Anda akan gagal dan mengalami kekecewaan

Entah kapan Anda harus meninggalkan resiko yang terlalu berat membutuhkan keberanian dan kejujuran yang besar. Sebelumnya Anda harus mempelajari kemampuan diri Anda, baik itu kekuatan atau keterbatasannya secara proporsional. Kebanyakan orang menilai kemampuannya lebih besar dari pada kelemahannya. Ini tidak adil dan tidak proporsional, karena bila saatnya tiba, ujian proporsionalan  ini justru terjadi saat Anda berhadapan dengan situasi yang penuh resiko.

Takut terhadap suatu resiko atas tindakan yang dipilih, sering berawal dari salah menafsirkan kemampuan diri dan tidak jujur serta tidak proporsional dalam mengakui kelebihan dan kelemahan yang Anda miliki. Akibatnya sering Anda lebih suka melebih-lebihkan keterbatasan Anda dan mengecil-ngecilkan potensi kelebihan Anda. Dan pilihan tindakan Anda mudah ditebak, yaitu kembali ke zona aman untuk menghindari diri Anda berhadapan dengan resiko yang tidak Anda kehendaki.




No comments:

Post a Comment