Apakah Anda sering merasa bimbang ketika membuka pintu rumah untuk berangkat melakukan aktifitas sehari-hari? Anda merasa takut kalau-kalau hari tiba-tiba turun hujan dengan derasnya pada saat Anda berada di tempat kerja, sehingga rekan bisnis Anda tak bersedia, dan negosiasi bisnis yang Anda rencanakan tak bisa berjalan? Anda takut kalau-kalau rencana meeting Anda dalam memaparkan rencana kerja tiba-tiba batal karena ada beberapa staff direksi yang tidak menyukai Anda? Mungkin Anda takut jangan-jangan Anda akan dirampok pada saat menarik uang di bank? Kalau Anda sering menjumpai masalah seperti contoh disebutkan tadi diatas, berarti Anda telah berprasangka buruk terhadap sesuatu atau pada seseorang, dan Anda merasa takut prasangka buruk itu benar-benar terjadi.




Sebuah prasangka buruk juga dapat dilontarkan seseorang pada diri Anda. Semakin banyak orang yang menaruh prasangka buruk kepada Anda, semakin tinggi ketakutan Anda terhadap prasangka itu. Tidaklah baik Anda berprasangka buruk kepada orang lain. Tidaklah baik pula Anda merasa takut ketika orang lain berprasangka buruk kepada Anda.
Berikut ini ada beberapa penyebab munculnya ketakutan Anda terhadap prasangka buruk orang lain kepada Anda, antara lain adalah:

  • Anda tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk bersaing dengan orang lain, sehingga menganggap orang lain akan menjatuhkan Anda dengan segala cara yang bisa dilakukan.
  • Andapernah melakukan kesalahan tertentu pada seseorang dan menganggap orang tersebut berencana membalas dendam dengan menjatuhkan Anda atau menggagalkan rencana Anda.
  • Anda memiliki kelemahan yang diketahui orang lain, dan merasa orang tersebut akan memanfaatkan kelemahan Anda itu untuk menjatuhkan Anda.
  • Anda merasa cemburu pada kemampuan profesional seseorang yang dengan cepat mendapatkan tempat dihati atasan Anda. Anda merasa kehadirannya itu dapat mengancam posisi dan kedudukan Anda yang selama ini memberi rasa nyaman pada Anda.
  • Anda merasa lemah dan tak berdaya sehingga menganggap seseorang itu tidak menaruh kepercayaan pada Anda.
  • Anda menyimpan rahasia tertentu yang akan melukai perasaan seseorang, sehingga Anda takut seseorang itu mengetahui rahasia Anda dan melakukan tindakan pemerasan terhadap Anda.


Sebuah prasangka buruk memang dapat menimbulkan ketakutan. Dengan timbulnya perasaan ini akan menyebabkan terganggunya ketenangan  Anda. Suatu hari mungkin Anda merasa takut ketika dalam perjalanan pulang dari kantor, kendaraan yang Anda kemudikan tampak dibuntuti oleh seseorang. Dari balik kaca spion Anda bisa melihat seorang pemuda bertato dengan kaca mata hitam berada dibelakang kendaraan Anda. Ketika Anda berhenti diperempatan lampu merah, kendaraan itu berhenti tepat disamping kendaraan Anda. Pengendara yang tampak sangar itu menoleh ke arah Anda dan memandang Anda tanpa tersenyum. Namun ketakutan Anda pelan-pelan sirna ketika lampu hijau menyala, dan orang itu justru berbelok ke kanan dan tidak lagi membuntuti kendaraan Anda.




Ketika Anda sedang berada dalam Bis angkutan dan duduk disebelah Anda seorang laki-laki berjaket kulit. Berkali-kali ia melihat ke arah tas yang Anda tempatkan diatas bagasi yang mana berisi barang-barang berharga yang baru saja Anda beli. Anda tiba-tiba merasa takut, jangan-jangan lelaki itu tahu betul apa yang ada di dalam tas Anda. Dan Anda bertindak cepat untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk dengan menurunkan tas dari bagasi dan meletakkan di pangkuan Anda. Anda mungkin akan merasa lega setelah tahu bahwa lelaki itu bekerja disebuah pabrik tas kulit yang salah satu produksinya adalah tas yang Anda gunakan itu.

Takut yang diakibatkan menaruh prasangka buruk juga sering dianggap pada orang yang takut kehilangan sesuatu. Akibat takut kehilangan perhatian dan kasih sayang dari kekasihnya, seorang pemuda akan selalu berprasangka buruk pada setiap lelaki yang berteman baik dengan kekasihnya. Bahkan dalam dunia anak-anak, selalu ada kemungkinan seorang anak tidak suka atas kehadiran adiknya karena takut kehilangan perhatian dan kasih sayang ibu. Ia selalu bersikap soudzon atau berprasangka buruk terhadap siapapun yang mencoba dekat dengan ibunya.

Sebaliknya, Anda mungkin juga pernah takut bila seseorang akan menaruh prasangka buruk pada Anda. Karena perjalan ke kantor macet total, Anda dipastikan akan terlambat menghadiri pertemuan dengan staff direksi. Walaupun Anda sudah menelpon menjelaskan kondisi perjalanan Anda saat ini, bukan tidak mungkin Anda merasa bersalah, dan menaruh perasaan takut, jangan-jangan semua orang berprasangka buruk terhadap Anda dan tidak mempercayai kejujuran Anda. Terlebih lagi pada kasus lain, dimana Anda terpaksa meminta pengunduran waktu untuk melunasi tunggakan kredit Anda. Anda tentu merasa sangat takut jangan-jangan lembaga kredit itu berprasangka buruk pada Anda dan menganggap Anda hanya mencari-cari alasan untuk menghindari kewajiban, padahal Anda telah seratus persen jujur.

Begitu pula dengan orang yang memperlakukan tubuhnya dengan "tidak umum" berpeluang untuk mengundang prasangka buruk, apakah ia bertato, bertindik, mengecat rambut warna warni, atau berdandan yang aneh-aneh. Takut akibat timbulnya prasangka buruk ini membuat seseorang lebih memilih memasuki zona aman, ia merasa nyaman dengan tidak melakukan apa-apa. Kekhawatiran yang ditimbulkan dari adanya prasangka buruk juga dapat melahirkan reaksi lain dengan melakukan tindakan protektif yang berlebihan. Dengan alasan kewaspadaan, rasa takut yang diakibatkan prasangka buruk berupa kecurigaan, baik juga dilakukan. Akan tetapi kalau hal itu menjadi kebiasaan, apalagi dilakukan dengan cara yang berlebihan, tentu akan dapat mempengaruh ketenangan Anda juga.




Paling umum yang seringkali ditemui salah satu bentuk ketakutan adalah takut terhadap kehilangan. Baik itu kehilangan yang berhubungan dengan aspek psikologi, material ataupun pergaulan sosial. Takut akan kehilangan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Merasa bahwa harta benda adalah milik Anda yang telah dengan susah payah Anda dapatkan, sehingga kehilangan itu semua merupakan kehilangan besar dari sebagian hidup Anda.
  • Merasa bahwa harta yang Anda miliki adalah kekuatan bagi Anda untuk bertindak melindungi keluarga dan orang-orang yang menjadi tanggung jawab Anda. Kehilangan harta benda berarti kehilangan kekuatan untuk melakukan tindakan yang menjadi tanggung jawab Anda.
  • Merasa bahwa perhatian dan kasih sayang adalah sumber kekuatan dan tujuan hidup Anda, maka kehilangan orang yang Anda cintai dapat membuat Anda kehilangan gairah, semangat, dan orientasi bagi perjuangan Anda di dunia ini.
  • Merasa bahwa rekan bisnis, jabatan dan jaringan kerja merupakan penunjang bagi eksistensi Anda dalam mengemban amanat Sang Maha Pencipta, maka kehilangan itu semua akan membuat Anda tak berdaya dan lumpuh secara moral.
  • Merasa bahwa wujud dari apa yang telah Anda raih tak akan mampu digantikan lagi apabila hilang, dengan keyakinan bahwa masa kejayaan Anda dalam meraih kesuksesan telah berlalu, dan kini yang ada pada Anda hanyalah sisa-sisa kekuatan yang sudah sangat jauh berkurang.




Takut akan kehilangan yang berhubungan dengan aspek psikologis misalnya adalah takut kehilangan perhatian, cinta, dukungan, dan kasih sayang. Wujud yang paling mudah dikenali dalam aspek ini adalah perasaan cemburu. Anda merasa cemburu apabila orang yang Anda sayangi memberikan perhatian lebih pada orang lain dan mengabaikan Anda. Anda merasa takut kehilangan dirinya. Secara emosional, orang dapat melakukan tindakan apa saja yang kadangkala diluar akal sehat dalam upaya mempertahankan miliknya itu. Emosional yang tak terkendali dengan baik akan mampu membuat Anda gelap mata dan melakukan tindakan berbahaya sampai mengancam keselamatan jiwa Anda.

Takut kehilangan perhatian dan kepercayaan dari atasan, takut kehilangan kemesraan dan kehangatan keluarga, takut kehilangan dukungan dari orang yang Anda cintai, bahkan yang paling menonjol adalah takut kehilangan kehormatan dan harga diri,  sering membuat Anda melampiaskannya dengan melakukan tindakan-tindakan yang negatif. Ketakutan akan kehilangan pada hal-hal semacam inilah yang membutuhkan pengendalian diri yang rasional.

Dalam pergaulan sosial Anda mungkin pernah merasa takut akan kehilangan mitra bisnis, takut kehilangan seorang karyawan yang handal, atau takut kehilangan jaringan kerja. Merasa takut kehilangan akan hal tadi akan membuat Anda selalu dalam posisi tegang dan tidak percaya pada siapapun. Ketakutan semacam ini sering membuat Anda melakukan hal yang seharusnya tidak Anda lakukan, misalnya dalam skala "waras" Anda mengupayakan suap atau hadiah tendensius untuk menjaga hubungan baik Anda dengan orang-orang disekitar lingkungan Anda. Dalam skala kurang waras, Anda akan mengupayakan tindakan intimidasi tertentu.

Takut akan kehilangan ini tampak pula pada saat Anda mengalami kondisi post power syndrome (PPS), saat Anda memasuki usia pensiun, saat Anda tiba-tiba saja kehilangan pekerjaan, kegiatan, teman-teman kantor, kebanggaan posisi kehormatan dan pangkat, atau hal-hal yang sering mengiringi PPS itu. Anda sering merasa tercampak ke titik nadir. Apalagi bila disertai oleh perubahan-perubahan fisik lain akibat ketuaan, seperti kulit keriput, pandangan mata mulai kabur, pendengaran mulai tuli, daya pikir mulai pikun, sering sakit-sakitan, sampai kemampuan seksual yang selama ini dibanggakan tiba-tiba kehilangan keperkasaannya.

Sisi baik dari rasa takut kehilangan barang lahiriah atau barang material adalah membuat Anda mati-matian mengupayakan proteksi terhadap harta kekayaan, mulai memiliki brankas, memelihara anjing penjaga, menggaji security dan algojo atau memagari rumah Anda dengan tembok tinggi dan kamera CCTV, ini semua Anda lakukan dengan dalih demi keamanan walaupun alasan yang sebenarnya adalah demi mengurangi ketakutan.

Intensitas harga kehilangan terhadap sesuatu sangat relatif. Ada orang yang demi menjaga keutuhan cinta kasihnya agar jangan sampai hilang, rela mengorbankan semua harta bendanya. Ada juga yang sebaliknya, demi menjaga harta bendanya ia rela mengorbankan orang-orang yang dekat dengannya. Selain itu ada juga suatu kondisi dimana demi menjaga hubungan baik dengan jaringan bisnisnya, ia rela mengorbankan orang-orang yang dicintainya, sekaligus harta benda yang dimilikinya. Ini akan Anda sikapi dengan dasar sejauh mana Anda memberi harga pada sesuatu yang penting itu agar tidak hilang.

Ketakutan akan kehilangan sesuatu, pada umumnya didampingi dengan pengorbanan untuk kehilangan sesuatu yang lain. Pada kasus-kasus penyanderaan dan penculikan, hal itu tampak jelas. Takut terhadap kehilangan akan seseorang yang begitu fungsional bagi Anda, harus ditebus dengan keberanian untuk kehilangan sesuatu yang lain. Sebuah kalimat yang pasti sudah Anda kenal dan poluar didunia kriminal adalah memberikan pilihan, "Harta atau nyawa Anda"?

Kehilangan merupakan peristiwa katastroval yang menyedihkan. Dampak kehilangan ini seperti virus yang dapat menimbulkan kecemasan pada orang lain. Misalnya saja tragedi bencana lumpur lapindo di siduarjo, membuat masyarakat yang berada dekat dengan lokasi bencana begitu takut kalau rumah dan harta benda mereka juga ikut menjadi korban. Demikian juga halnya pada peristiwa-perintiwa kebakaran, bencana banjir, atau bencana alam lainnya yang sering menyapu habis harta kekayaan masyarakat. Dampak peristiwa kehilangan misal akibat bencana alam akan membuat orang lain mempersiapkan tindakan prefentif. Hal ini wajar dilakukan, karena ketakutan akan kehilangan ini adalah hal yang manusiawi. Memang sulit untuk bersikap tegar ketika semua yang Anda miliki yang merupakan hasil perjuangan sepanjang hidup Anda itu tiba-tiba harus hilang. Tapi itulah kehidupan. Tidak ada satupun milik Anda yang abadi di dunia ini. Keabadian di dunia ini adalah ketidakabadian itu sendiri.





Artikel sebelumnya sudah banyak mengulas tentang kegagalan. Di kesempatan kali ini penulis akan mengangkat topik tentang takut terhadap resiko kegagalan dan alasannya. Perlu diketahui bahwa kegagalan adalah sesuatu yang normal. Sebelum dipaparkan lebih lanjut akan topik ini, ada dua pertanyaan tentang pilihan Anda saat ini yakni, pertama  "Apakah Anda akan menyerah dikala Anda menghadapi sebuah kegagalan yang kecil di masa lalu hanya karena perasaan yang tidak nyaman, lalu membuat Anda takut berbuat sesuatu karena membayangkan akan menghadapi kegagalan yang lebih besar? Kedua, Apakah Anda akan menyikapi kegagalan itu sebagai suatu sinyal yang menunjukan kelemahan dan keterbatasan Anda dan ingin mempelajari lebih dalam akan kemungkinan untuk mengatasinya, mengevaluasinya, dan menyiapkan diri untuk berbuat sesuatu dan mencoba lagi?".
Jawaban pilihan ada pada diri Anda masing-masing.

Takut Terhadap Resiko

Ingat,..? Langkah sekecil apapun yang akan Anda lakukan selalu ada resikonya. Namun resiko sebesar apapun bukanlah sesuatu yang menakutkan apabila Anda telah menyiapkan diri dengan baik untuk menghadapinya. Namun resiko sekecil apapun bisa menjadi bencana besar apabila Anda tidak pernah menyiapkan diri mengantisipasinya.
Suatu ketika, pernahkah Anda merasa sangat percaya diri ketika hendak melakukan sesuatu? Sebaiknya Anda waspada. Seringkali rasa percaya diri yang terlalu tinggi membuat Anda mengabaikan atau menganggap enteng akan faktor resiko. Padahal bukannya tidak mungkin pada saat Anda menetapkan pilihan dengan mengharapkan kemungkinan terbaik yang akan Anda raih, Anda tidak siap dengan kemungkinan terburuk yang akan Anda dapatkan. Resiko yang timbul dapat di duga sebelumnya, dapat juga diluar dugaan. Ia juga dapat berupa hal-hal yang baik dan menyenangkan, namun bisa juga berupa hal-hal yang buruk yang menyakitkan




Resiko yang dapat diduga sebelumnya, tentu akan mudah diantisipasi dengan penangkal yang sudah diperhitungkan sebelumnya. Resiko yang muncul diluar dugaan pun mungkin saja terjadi, misalnya seseorang sedang berjalan ditrotoar tiba-tiba tewas ditabrak mobil berkecepatan tinggi yang berbelok arah saat menghindari anak kecil yang tiba-tiba menyeberang di jalan. Jadi resiko yang muncul secara tak terduga ini sulit sekali diantisipasi. Ada beberapa alasan yang membuat Anda takut mengambil resiko, diantaranya yakni:

  • Anda tidak tahu apa sebenarnya tantangan yang akan hadapi pada saat Anda memutuskan untuk berada di zona aman, atau akan keluar dari zona aman ketika memasuki situasi baru yang belum Anda kenal.
  • Anda tidak mengenal diri Anda dengan baik sehingga tidak memahami kelebihan dan keterbatasan Anda, terutama saat berhadapan dengan situasi yang mengandung banyak resiko.
  • Anda terpengaruh oleh cerita orang lain tentang betapa beratnyamenghadapi resiko pada situasi tertentu. Beratnya resiko yang dihadapi seseorang itu Anda adaptasikan dengan resiko yang akan Anda hadapi.
  • Anda berlebihan memperhitungkan kemungkinan terburuk pada saat berhadapan dengan sesuatu yang mengandung resiko, sehingga Anda tidak pernah memikirkan solusi yang akan Anda lakukan untuk mengatasi kemungkinan terburuk tersebut.
  • Anda tidak jujur dan proporsional dalam menilai kelemahan dan kekuatan yang dimiliki, Anda hanya semata-mata untuk melindungi kewibawaan Anda di mata orang lain. Anda sering berusaha membesar-besarkan kekuatan Anda dan mengecilkan kelemahan Anda, sehingga Anda membodohi diri Anda sendiri.


Ada kalanya, meski Anda sudah mempersiapkan sesuatunya dengan sempurna, selalu terdapat kemungkinan akan timbul bahaya. Apalagi jika Anda bertindak diluar batas wilayah yang Anda kuasai. Anda yang tidak menguasai bisnis kuliner misalnya, ketika memutuskan terjun kebisnis itu, harus siap berhadapan dengan resiko yang mungkin membahayakan diri Anda, misalnya saja cita rasa masakan yang kurang enak, pelayanan yang mengecewakan, kerugian finansial yang beruntun dan lain sebagainya yang dapat menghancurkan reputasi diri Anda.

Keputusan Anda untuk berani mencoba bisnis kuliner adalah suatu keputusan yang tepat. Artinya, Anda sudah berani mengambil resiko untuk keluar dari zona aman dan membuka peluang untuk sesuatu yang lebih baik. Kalau Anda takut mengambil resiko dengan tidak membuka peluang, berarti Anda tidak berbuat apa-apa dan duduk manis di zona aman. Sikap berani mencoba berarti kemungkinan berhasil 50% dan kemungkinan gagal juga 50%, sedangkan kalau Anda tidak berani mencoba, maka kemungkinan berhasil adalah 0%dan kemungkinan gagal adalah 100%.

Banyak peristiwa situasional yang dapat memaksa Anda untuk keluar dari zona aman. Misalnya bagaimana ketika tiba-tiba saja ada anggota keluarga yang sakit atau mengalami kecelakaan dan harus menjalani operasi. Bagaimana pula kalau tiba-tiba perusahan tempat Anda bekerja melakukan efisiensi dengan pemutusan hubungan kerja? Tidak mungkin Anda diam dan tidak peduli dengan kondisi itu. Anda harus segera melakukan tindakan tertentu yang berarti harus meninggalkan zona aman.
Resiko akan timbul ketika Anda memutuskan untuk melangkah keluar dari kenyamanan Anda. Bila Anda berada dalam situasi ini dan tidak mempedulikannya atau menganggap enteng, maka sesungguhnya Anda justru berada dalam resiko terbesar untuk tersakiti dan mengalami kekecewaan. 

Mengangap enteng resiko yang mungkin terjadi banyak diakibatkan adanya perasaan percaya diri yang berlebihan, sehingga kehilangan sentuhan akan adanya rasa takut. Dengan tanpa adanya rasa takut, antisipasi untuk menghadapi terburuk pun tak pernah ada. Keadaan ini menempatkan posisi Anda dalam bahaya. Tetapi terlalu menganggap berat resiko yang mungkin terjadi, justru akan menurunkan tingkat keberanian Anda, sehingga Anda sering terkurung dalam zona aman yang nyaman tanpa masa depan.

Takut tehadap resiko, sama saja dengan takut terhadap hal-hal lain. Anda mungkin lebih memilih menghindari suatu tindakan yang memiliki resiko berat, karena alasan untuk tidak menghadapinya yang lebih besar dari pada alasan untuk menghadapinya. Namun sering alasan itu hanya digunakan untuk menutupi ketakutan Anda terhadap timbulnya resiko yang tak ingin Anda hadapi. Kebanyakan dari orang-orang tak suka mengakui hal ini secara jujur. Jika Anda berani untuk bersikap jujur terhadap kelemahan yang Anda miliki, tak ada salahnya Anda memilih tindakan yang memiliki resiko lebih kecil atau setara dengan kekuatan Anda.
Kalau Anda memilih tindakan dengan resiko yang lebih besar melebihi kekuatan yang Anda miliki, maka Anda akan gagal dan mengalami kekecewaan

Entah kapan Anda harus meninggalkan resiko yang terlalu berat membutuhkan keberanian dan kejujuran yang besar. Sebelumnya Anda harus mempelajari kemampuan diri Anda, baik itu kekuatan atau keterbatasannya secara proporsional. Kebanyakan orang menilai kemampuannya lebih besar dari pada kelemahannya. Ini tidak adil dan tidak proporsional, karena bila saatnya tiba, ujian proporsionalan  ini justru terjadi saat Anda berhadapan dengan situasi yang penuh resiko.

Takut terhadap suatu resiko atas tindakan yang dipilih, sering berawal dari salah menafsirkan kemampuan diri dan tidak jujur serta tidak proporsional dalam mengakui kelebihan dan kelemahan yang Anda miliki. Akibatnya sering Anda lebih suka melebih-lebihkan keterbatasan Anda dan mengecil-ngecilkan potensi kelebihan Anda. Dan pilihan tindakan Anda mudah ditebak, yaitu kembali ke zona aman untuk menghindari diri Anda berhadapan dengan resiko yang tidak Anda kehendaki.






Walaupun rasa takut itu manusiawi yang dialami semua orang, namun tak mudah bagi Anda untuk mengakui secara jujur bahwa Anda memang takut. Bukankah Anda cenderung membandingkan rasa takut Anda dengan rasa takut orang lain? Walaupun itu adalah sesuatu yang wajar terjadi untuk mengukur kelebihan atau kekurangan Anda, namun tidaklah banyak manfaatnya. Selain membandingkan rasa takut Anda dengan orang lain, bukankah Anda juga cenderung membandingkan rasa takut Anda dengan keberanian orang lain. Bukankah Anda sering merasa heran, mengapa Anda merasa takut sedangkan orang lain begitu berani? Atau malah sebaliknya, mengapa orang lain merasa takut pada suatu hal, padahal Anda berani?

Secara individu diri Anda berbeda dengan orang lain. Latar belakang kehidupan Anda berbeda, pendidikan dan kultur lingkungan Anda berbeda, kepribadian yang Anda miliki juga berbeda. Maka ketakutan dan keberanian Anda pasti berbeda pula dengan orang lain. Apa yang Anda takuti belum tentu ditakuti orang lain. Begitu pula sebaliknya. Ini konsekuensi dari perbedaan Anda sebagai individu.
Justru karena Anda merasa takut dikatakan paranoid oleh orang lain, maka Anda sering berpura-pura berani. Anda ingin dihargai sebagai pribadi yang tangguh dan tak mengenal rasa takut. Anda ingin dikagumi oleh orang lain. Mungkin saja Anda telah berusaha keras untuk mengurung rasa takut Anda sedemikian rupa agar Anda tidak tampak dari luar. Dengan memenjarakan rasa takut yang ada dalam diri Anda, maka Anda terhindar dari terlihat orang yang lemah dan memalukan dari kacamata orang lain. Yang nampak pada diri Anda adalah kelebihan Anda, bukan ketakutan Anda. Dan Anda merasa bangga.



Dengan melakukan ini sebenarnya Anda telah berbuat tidak jujur pada diri sendiri dan pada orang lain. Dalam berbagai situasi, Anda lebih memilih untuk berdiam diri dan tak melakukan apa-apa. Anda merasa terlalu khawatir  atau terlalu takut jangan-jangan kelemahan Anda sembunyikan selama ini diketahui oleh orang lain. Dalam kadar tertentu, aksi Anda untuk menyembunyikan rasa takut ini dapat menyebabkan Anda berhenti berusaha.

perubahan situasi yang memaksa Anda harus keluar dari zona aman, pada saat Anda tidak berani menghadapinya, justru akan membuat Anda terjerat pada ikatan rasa takut yang panjang ibarat infeksi, maka ketakutan itu akan menjalar dalam setiap aspek kehidupan Anda. Anda akan benar-benar menjadi seorang penakut yang tak berani hadapi resiko sekecil apapun. Akibatnya, Anda akan menyikapi rasa takut itu dengan cara yang berlebihan, dan mengecilkan keberdayaan yang Anda miliki. Itu berarti Anda akan selalu berusaha mencari situasi aman bagi diri Anda untuk tidak berbuat apa-apa. Sebetulnya ada beberapa bentuk ketakutan yang biasanya hinggap pada diri kita. Di kesempatan ini akan di bahas salah satu diantaranya, yakni takut terhadap kegagalan. Kegagalan itu memang sangat pahit bila Anda pernah merasakannya bukan? Namun kegagalan sepahit apapun sebaiknya jangan dibuang atau dilupakan begitu saja, karena kegagalan itu dapat berdampak negatif, namun dapat pula berdampak positif, tergantung bagaimana Anda menyikapinya.

Sangat wajar bila Anda takut bila kegagalan itu akan terulang lagi, karena Anda telah dapat mengukur kekuatan dan kelemahan diri Anda dalam menghadapi situasi itu. Kegagalan yang penah Anda alami sering mengganggu kepercayaan diri Anda dalam berhadapan dengan sesuatu. Misalnya saja seorang yang terjatuh saat memanjat di ketinggian akan menolak bila Anda mengajaknya untuk naik ketinggian lagi. Sebenarnya kegagalan pun memiliki segi positif, yakni akan melindungi Anda agar tidak mengalami luka atau kegagalan yang sama pada situasi yang hampir sama, namun pada kesempatan yang berbeda. Yang mempengaruhi rasa takut Anda pada kegagalan masa lalu tidak hanya terbatas pada kegagalan yang Anda alami saja, melainkan juga dapat berupa kegagalan yang dialami oleh orang lain. Suka atau tidak suka, diakui atau tidak, sebenarnya Anda sering membandingkan diri Anda dengan orang lain dalam berbagai aspek, baik itu ketakutannya, keberaniannya, kegagalannya ataupun keberhasilannya.

Mungkin benar bahwa kegagalan yang dialami orang lain akan membuat Anda terhibur dan dapat meyakinkan bahwa bukan Anda saja yang pernah mengalami kegagalan. Hal ini dapat meyakinkan Anda bahwa tidak pernah ada satupun kesuksesan yang tidak diiringi dengan kegagalan. Kesuksesan bukanlah berarti tidak pernah gagal, melainkan kembali bangkit untuk mengatasi sebab- sebab kegagalan terdahulu. Disamping itu mungkin juga benar bahwa kegagalan orang lain dapat membuat Anda lebih percaya diri, bila bobot permasalahan yang mengakibatkan kegagalan pada orang lain itu tidak seberat yang Anda hadapi. Namun jangan lupa, Anda berbeda dengan orang lain. Apa-apa yang gagal dilakukan orang lain belum tentu gagal bila Anda yang melakukannya, dan apa yang gagal Anda lakukan belum tentu gagal bila dilakukan orang lain.




Kegagalan memang akan membuat Anda tertekan secara psikologis. Akan tetapi, kegagalan itu justru mendorong Anda untuk melihat kekalahan sebagai pertanda kelemahan Anda. Tanpa adanya kegagalan, Anda tidak dapat mengukur kelebihan dan kelemahan yang ada pada diri Anda, termasuk tidak dapat mengevaluasi secara cermat pendekatan, strategi, teknik, dan metode yang telah Anda gunakan sebelumnya. Tanpa merasakan kegagalan, Anda akan menjadi orang yang punya sifat takabur dan kurang waspada dalam segala hal. Padahal dengan menyadari sepenuhnya kelemahan dan keterbatasan Anda, maka Anda akan dapat mengantisipasi setiap situasi yang menantang untuk Anda hadapi, dan mempersiapkan diri Anda untuk menghadapi kekecewaan yang mungkin terjadi pada setiap kegagalan yang akan Anda alami.

Takut untuk berbuat sesuatu karena dibayang-bayangi oleh perasaan gagal dapat melemahkan keberanian Anda, dan cenderung akan memenjarakan Anda di zona aman untuk tidak berbuat apa-apa. Anda sebaiknya memandang kegagalan yang Anda alami justru sebagai "instansi" yang memberikan banyak informasi tentang keterbatasan dan kelemahan Anda, sebagai faktor penyebab terjadinya kegagalan. Mungkin ada yang salah atau yang kurang tepat yang Anda lakukan dalam menghadapi situasi tertentu, yang mengakibatkan Anda gagal. Anda bisa menemukan kelemahan strategi Anda justru ketika Anda gagal. Dengan mengetahui lebih banyak tentang kelemahan dan kelebihan Anda, maka Anda akan semakin kuat dan tabah.

Ketabahan dalam menerima kegagalan akan meningkatkan kemampuan Anda dan membuat Anda lebih kuat. Ketabahan inilah yang akan membuat Anda tidak mudah patah semangat, putus asa atau kecil hati. Anda tahu bahwa kegagalan adalah bagian dari masa lalu. Takut gagal dalam sebuah situasi yang memaksa Anda mengambil keputusan, merupakan sebuah pilihan untuk kembali ke masa lalu pada saat Anda berada di masa kini. Ini bukanlah sikap yang progresif yang akan mengantarkan Anda pada suatu kemajuan dan perkembangan. Ini sikap pesimis yang memaksa Anda stagnan di zona aman.

Bukan berarti kegagalan masa lalu harus dilupakan begitu saja atau dianggap sebagai suatu trauma yang menakutkan. Namun, Anda tidak perlu terikat kuat dengan kegagalan masa lalu yang membuat semangat meredup dan terus-menerus menimbulkan rasa tak nyaman setiap kali Anda memikirkannya. Kegagalan yang menyakitkan itu menular cepat seperti sel kanker yang semakin membesar dan memperdaya pikiran Anda, meracuni otak Anda untuk menyebar anggapan bahwa Anda akan menghadapi situasi yang sama dan menghasilkan kegagalan yang sama pula.





Seringkali kita jumpai orang yang merasa minder dengan keadaan dirinya ketika lagi kumpul-kumpul bersama teman-temannya atau mungkin sedang berada di suatu tempat keramaian. Hal ini dikarenakan orang tersebut kurang percaya diri dengan keberadaannya. Terkadang mereka lebih memilih menyendiri dan bahkan menutup diri dari pergaulan. Jika Anda termasuk orang yang demikan, berarti Anda kurang percaya diri dengan keberadaan Anda.
Di kesempatan ini penulis akan membagi sedikit tips sesuai topik bahasan di atas tentang cara meningkatkan kepercayaan diri dalam sekejab. Lalu bagaimana caranya dalam meningkatkan kepercayaan diri itu? atau bagaimana mengubah sifat minder menjadi penuh percaya diri? Ingatlah bahwa menutup diri dari pergaulan dan memilih menyendiri bukanlah solusi. Saat Anda tidak percaya diri, jangan sekali-kali menganggapnya sebagai karakter yang tak bisa di ubah. Ingatlah bahwa setiap sikap, karakter, watak ataupun sifat seseorang dapat di ubah oleh orang itu sendiri.




Berikut ini ada beberapa pilihan solusi yang dapat Anda pilih dan terapkan bila ingin meningkatkan rasa percaya diri. Sekali lagi hanya Anda sendirilah yang bisa mengubah rasa minder menjadi penuh percaya diri dan bukan orang lain. Anda dapat melakukannya kapan saja asalkan memiliki kemauan. Jadi intinya ada pada diri Anda sendiri.

A. Melakukan sesuatu yang positif

Salah satu cara untuk meningkatkan rasa percaya diri Anda adalah dengan melakukan sesuatu yang positif. Biasanya, orang yang rendah diri akan sangat sulit melakukan sesuatu kebaikan. Maka, Anda harus belajar dan berusaha melakukannya. Isilah hari-hari Anda dengan berbagai kegiatan positif. Jadi, jangan hanya berdiam diri di rumah atau menyendiri. Dengan melakukan hal-hal positif, niscaya perilaku akan berkembang sehingga Anda akan menjadi lebih berani. Anda tidak lagi ragu untuk berinteraksi dengan orang banyak. Jika sudah demikian, tanpa sadar Anda telah berhasil meningkatkan kepercayaan diri.

B. Mengenali Diri Anda sendiri

Cara lain untuk meningkatkan percaya diri ialah mengenali diri Anda sendiri. Siapa diri Anda yang sebenanya? Apakah Anda orang bodoh yang tak punya teman? Apakah Anda orang yang penakut apabila diberi tanggung jawab dan lari menghindar? Apakah Anda orang pendiam yang malu untuk berinteraksi dengan teman-teman Anda? Ataukah ada secercah optimisme di dalam diri Anda, tetapi Anda tidak menyadarinya?
Dengan mengetahui jati diri Anda, Anda dapat mengambil langkah yang tepat untuk meningkatkan rasa percaya diri. Jadi, bertemanlah dengan diri Anda sendiri sebelum berteman dengan orang lain.

C. Fokus pada kelebihan diri Anda sendiri

Anda pasti tahu bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pikirkan apa saja yang menjadi kelebihan Anda. Kemudian fokuslah pada kelebihan diri Anda sendiri tanpa harus melihat apa yang ada pada orang lain.Dengan mengetahui hal-hal yang menjadi kekuatan Anda, maka rasa percaya diri Anda akan kian bertambah.

D. Berani mengambil keputusan

Orang tidak percaya diri biasanya takut mengambil keputusan. Maka, cara untuk meningkatkan percaya diri Anda adalah melakukan hal sebaliknya, yaitu belajar mengambil keputusan. Ingatlah bahwa mengambil keputusan apapun membutuhkan rasa percaya diri. Oleh karena itu, Anda harus melatih diri Anda untuk berani mengambil keputusan, entah itu dalam persoalan sepele ataupun bersifat penting.

E. Berani mencoba

Selain belajar mengambil keputusan, Anda juga harus berani mencoba. Orang yang tidak percaya diri sangat takut untuk mencoba. Mereka pesimis dan skeptis akan dirinya bisa melakukan sesuatu. Maka, agar terhindar dari pola pikir tersebut Anda harus memberanikan diri untuk mencoba.

F. Memperbanyak wawasan

Wawasan sangat penting untuk meningkatkan rasa percaya diri. Orang yang tidak percaya diri berarti wawasannya sangat sempit. Dengan memiliki ilmu dan wawasan luas, kepercayaan diri akan tumbuh dengan sendirinya. Mengapa demikian? Sebab, wawasan yang luas akan membuat seseorang mampu berpikir dan bertindak efektif. Hanya saja, Anda harus membatasi rasa percaya diri itu agar tidak berlebihan. Jika kelewatan, Anda justru akan menjadi orang sombong dan merasa sok pintar.

Itulah beberapa cara atau solusi yang bisa Anda pilih untuk meningkatkan rasa percaya diri. Ingatlah bahwa dibalik setiap masalah pasti akan ada solusinya. Jadi, jangan minder dihadapan masalah yang menimpah Anda. Yakinlah bahwa hal itu masih dapat diatasi. Anda pasti bisa menjadi orang yang percaya diri ketika menghadapi masalah.