Menerima kegagalan atau kekalahan dengan lapang dada, bukanlah perkara yang mudah. Anda mungkin akan merasa malu, rendah diri dan menganggap diri sebagai orang yang tak mampu. Kegagalan dalam kadar tinggi juga dapat menyebabkan seseorang frustasi. Keinginan untuk mencapai sesuatu berbanding terbalik dengan kekecewaan yang diterima. Semakin besar keinginan Anda, semakin besar pula kekecewaan Anda ketika Anda gagal dalam meraih keinginan itu.

Kegagalan memang suatu yang pahit untuk diterima, namun apapun itu harus diterima dengan jujur dan ikhlas. Kejujuran dan ikhlas menerima kegagalan bukanlah sesuatu memalukan. Semua orang pernah mengalami hal demikian. Orang yang berhasil bukanlah orang yang tak pernah mengalami kegagalan, melainkan orang yang selalu bangkit kembali dari kegagalan itu dan mencoba lagi dengan pendekatan baru. Pendekatan ini berbeda dengan yang sebelumnya. Bila pendekatan sebelumnya berakhir dengan sebuah kegagalan, maka pendekatan yang baru ini adalah pendekatan perbaikan yang menghapus kelemahan-kelemahan sebelumnya dengan menggunakan metode baru yang lebih taktis.

Anda akan menjadi luar biasa manakala menerima kegagalan tanpa merasa diri Anda telah terkalahkan. Anda mungkin gagal, tapi Anda tidak kalah. Kegagalan bukan berarti kekalahan dan bukan akhir dari segalanya. Kegagalan akan mengajarkan kepada Anda bahwa selalu ada kesulitan pada setiap peluang. Tidak mungkin terbuka sebuah peluang tanpa ada kesulitan di dalamnya. Maka ketika Anda menyikapi kegagalan bukan sesuatu yang memalukan atau membuat Anda terhina, sebenarnya Anda telah berada di ambang keberhasilan.



Kegagalan adalah rintangan yang banyak memberikan informasi tentang keterbatasan yang kita miliki dalam menghadapi situasi sulit. Apapun tindakan yang Anda lakukan, ibarat meluncurnya suatu anak panah berkepala dua. Artinya satu ujungnya mengarah pada kegagalan, dan satu ujung lainnya mengarah pada keberhasilan. Dengan mengantisipasi kemungkinan terjadinya kegagalan, maka Anda dapat menyiapkan diri untuk menghadapi kekecewaan. Kesiapan inilah yang membuat Anda harus tabah dan bisa meningkatkan kemampuan Anda untuk meraih keberhasilan.

Anda perlu menjaga keseimbangan antara keyakinan bahwa Anda akan berhasil dan pengakuan bahwa Anda mungkin akan gagal. Keyakinan bahwa Anda akan berhasil adalah sesuatu yang penting dan sangat berpengaruh dalam memberi kekuatan pada Anda dalam melakukan tindakan apapun. Akan tetapi, keyakinan itu akan menjadi tidak berarti manakala Anda  membutakan diri terhadap kemungkinan gagal. Dengan menempatkan kedua ujung tombak tindakan Anda secara proposional, berarti Anda siap menghadapi kemungkinan terburuk pada saat diri Anda masih memiliki kepercayaan diri yang cukup.

Sebenarnya ada dua keuntungan yang bisa Anda dapatkan dari kegagalan itu. Keuntungan pertama adalah, Anda dapat mempelajari penyebab kegagalan Anda, mengapa rencana dan tindakan Anda tak sesuai dengan yang di inginkan. Keuntungan lainnya adalah kegagalan itu justru memberi kesempatan bagi Anda untuk mencoba menggunakan pendekatan baru, yang merupakan perbaikan atas tindakan yang gagal tersebut.

Berikut ini ada beberapa langkah yang bisa Anda tempuh untuk menyikapi kegagalan yang pernah di alami secara benar:


  • Pertama, Hadapi bisikan-bisikan persuasif tentang kegagalan yang ada dalam pikiran Anda, sebelum Anda benar-benar menghadapinya secara nyata. Pikiran-pikiran inilah yang akan meracuni langkah Anda ketika akan memulai langkah baru. Hadapi dengan berani setiap hasutan hati yang memanipulasi keberanian Anda yang membuat Anda merasa lemah. Hasutan hati yang persuasif misalnya "percuma saja, Anda tak akan mampu menghadapinya", "Anda tak punya peluang untuk memenangkan masalah ini", atau "lupakan saja rencana Anda karena Anda pasti gagal", tentu harus Anda singkirkan jauh-jauh. Hasutan yang ada dalam pikiran Anda ini bukan saja membuat Anda menjadi ragu, namun juga berpotensi menghentikan langkah berani Anda untuk mencoba sesuatu.
  • Kedua, Ambillah langkah-langkah teratur yang sistematis dan bermakna dalam mendekati kegagalan yang pernah Anda alami sebelumnya. Langkah yang teratur akan memberi gambaran tentang tahapan apa yang telah Anda lakukan sebagai penyebab kegagalan saat itu. Anda dapat memperbaiki tahapan yang rusak dan mengganti dengan metode baru yang lebih dinamis dan memiliki energi yang bagus. Setelah Anda ketahui penyebabnya dan memperbaiki kerusakannya, maka mulailah menata langkah yang lebih terencana.
  • Ketiga, Perkuat alasan dan keyakinan Anda mengapa Anda berusaha mencoba untuk kembali melakukan tindakan yang berakhir dengan kegagalan itu. Yakinkan pula tentang manfaat apa yang Anda dapatkan dengan mencoba mengulang kembali tindakan itu. Kalau Anda yakin benar akan siap menghadapi kemungkinan terburuk, dan siap mendapatkan manfaat yang Anda butuhkan, kerjakan tanpa keraguan. Namun bila Anda belum menemukan sebab dari kegagalan terdahulu, dan belum memiliki keyakinan akan manfaatnya, jangan kerjakan semua itu.
  • Keempat, Milikilah sosok panutan untuk dijadikan idola. Adaptasikan kekuatan tokoh tersebut dalam menghadapi pengalaman-pengalamannya, termasuk kegagalan dan keberhasilannya dan pelajari bagaimana tokoh itu bangkit kembali untuk mencapai keberhasilan. Jika Anda takut melakukan sesuatu yang baru karena tidak memiliki metode dan strategi yang tepat, Anda dapat belajar dari pengalaman orang lain yang pernah melakukan hal yang sama dan berhasil mengatasinya.


Jangan biarkan kegagalan masa lalu menghentikan langkah Anda sekarang. Selalu ada peluang bagi Anda ketika memutuskan untuk berani mencoba, dan selalu ada jalan bagi Anda untuk meraih kesuksesan jikalau Anda mau berusaha.







Sobat setia pengunjung blog kesayangan Jally Junkiez dot com,. Seperti yang telah penulis sampaikan pada artikel sebelumnya, bahwa kita akan membahas topik langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjadi pemberani. Dan salah satunya adalah menentukan sikap bagaimana cara kita menghadapi rasa takut tersebut. Pada kesempatan ini, penulis akan berbagi tips tersebut pada sobat sekalian. Namun, sebelum pembahasan ini diuraikan lebih lanjut, baiknya bagi sobat yang baru mengikuti artikel ini, silahkan baca artikel yang bermanfaat lainnya terkait topik sebelumnya tentang "MATI-MATIAN MENJADI BERANI"

Sobat pengunjung,. Sebetulnya pada intinya ada tiga cara yang bisa dilakukan untuk menyikapi rasa takut ketika menyerang diri Anda, yakni :

  • Pertama, Anda akan bersikap masa bodoh, tak peduli, cuek atau tanpa memberikan tanggapan sama sekali.
  • Cara kedua, Anda akan memberikan tanggapan yang berlebih-lebihan terhadap rasa takut.
  • Cara ketiga adalah memanfaatkan ketakutan Anda sebagai sumber kekuatan.




Kalau Anda menyikapi ketakutan dengan cara pertama, maka Anda membutuhkan keberanian yang luar biasa dan kepercayaan diri yang tinggi. Orang yang terbiasa memilih cara pertama, ini bersikap seolah-olah tanpa beban, santai dan menganggap enteng saja pada semua yang seharusnya"menakutkan". Padahal bisa saja kepercayaan dirinya itu sangat rapuh dan mudah dipatahkan, namun ia memanipulasinya dengan berpura-pura gagah dan tabah. Ia sering mengatakan kalimat "Jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa" atau "Tenang saja, tidak ada yang perlu ditakutkan". Bisa juga, "Itu hal kecil, tak ada masalah". Pilihan cara ini mengundang sinyal bahaya karena Anda mengabaikan resiko yang mungkin mengancam keselamatan Anda. Andaikata resiko itu muncul, Anda tidak memiliki langkah strategi untuk menghadapinya. Itu artinya, Anda akan kembali kalah.

Cara pertama itu juga sangat berbahaya bila dilakukan tanpa motif yang jelas, karena ia tak memiliki kesiapan untuk menghadapi resiko yang mungkin timbul. Namun dalam keadaan darurat, ketika muncul sebuah motif yang luar biasa kuat, maka keberaniannya  bisa menjadi luar biasa. Orang menjadi berani tidak hanyaberorientasi pada kepentingan pribadi saja, namun bisa saja muncul justru pada saat ia menghadapi kepentingan orang lain. Manakala ia melihat ketidakadilan yang dialami orang lain, melihat penderitaan yang menimpa orang lain, atau melihat malapetaka kemanusiaan yang menggugah jiwa, bisa menimbulkan motif kemanusiaan yang menimbulkan keberanian. Motif-motif kemanusiaan seperti kewajiban untuk membela orang lain yang sengsara atau teraniaya, berpotensi menimbulkan keberanian yang luar biasa.

Ketika sebuah motif telah menggelora, maka keberanianlah wujudnya. Banyak orang yang menderita dan mati-matian memperjuangkan motif yang diyakininya, bahkan mereka terasa lega saat meregang nyawa karena berhasil memperjuangkan motif itu. Mereka telah mati-matian mengerahkan potensi apapun yang ada padanya demi sebuah motif. Motif inilah alasan, mengapa Anda harus bertindak.

Cara kedua dalam menghadapi ketakutan adalah menanggapinya secara pesimis yang berlebihan. Kalau Anda memilih cara ini, maka Anda akan menempatkan diri Anda pada situasi yang menimbulkan ketidakberdayaan diri Anda dan akan membuat Anda diselimuti kepanikan yang terus-menerus.
Orang yang menghadapi ketakutannya dengan cara ini terkesan mempermalukan dan merendahkan dirinya sendiri dalam kepasrahan total dengan emosional yang tak terkendali. Terkadang ia bahkan sangat irasional dan menempatkan dirinya untuk tak berdaya sama sekali, karena terlalu memikirkan kemungkinan terburuknya tanpa memikirkan solusi atas permasalahannya. Kalimat paling sering keluar dari bibirnya hanyalah, "Ah,itu terlalu berbahaya bagi saya. Saya tak berani melakukannya". atau, "Hal itu terlalu besar resikonya. Saya tak sanggup melakukannya".

Cara ketiga adalah memanfaatkan ketakutan dengan cara menerima dan menghargai rasa takut sebagai sesuatu yang wajar bahkan bisa menjadi sumber kekuatannya. Rasa takut dapat memberikan kehati-hatian dan kewaspadaan pada Anda. Dengan menyikapi rasa takut seperti itu, Anda akan memahami penyebab timbulnya rasa takut, dan bagaimana mengontrolnya. Sikap ini akan membuat Anda tenang walaupun dalam situasi yang paling tertekan sekalipun. Namun tetap saja motiflah yang menjadi landasan utama keberanian Anda. Bedanya dengan cara pertama, cara ketiga ini telah memperhitungkan skenario terburuk yang mungkin timbul ketika Anda keluar dari zona aman, dan waspada atas kegagalan dan kekalahan yang mungkin terjadi.





Kesimpulan, Tips terakhir untuk sobat dalam menghadapi rasa takut:
  1. Kenalilah rasa takut itu, dan analisislah mengapa Anda merasa takut terhadap sesuatu yang Anda hadapi.
  2. Hadapilah rasa takut itu sebagai sesuatu yang bermanfaat, yang dapat menunjukan kelemahan dan keterbatasan Anda.
  3. Antisipasilah kemungkinan terburuk yang bisa terjadi ketika Anda berhadapan dengan situasi yang berpotensi menakutkan diri Anda. Buatlah daftar resiko yang mungkin timbul.
  4. Ukurlah kekuatan dan kelemahan Anda secara jujur dalam menghadapi kemungkinan resiko yang sudah Anda tuliskan tadi. Kalau resiko itu lebih besar dari kemampuan Anda, maka hindari saja. Namun bila resiko itu setara atau lebih kecil dari kemampuan Anda, maka hadapi saja tanpa keraguan sama sekali.
  5. Tentukan motif apa yang menjadi alasan untuk menghadapi situasi itu, dan tentukanlah keuntungan serta kerugian atas tindakan yang akan Anda lakukan.
  6. Optimalkan rasa percaya diri dengan menanamkan keyakinan bahwa Anda akan mampu menghadapi situasi itu.
  7. Jangan ragu untuk menceritakan rasa takut Anda pada teman atau orang yang Anda percaya. Karena berbagi cerita pada orang lain yang terpercaya dapat mengurangi rasa takut Anda, bahkan mungkin ia dapat membantu Anda dalam menghadapi situasi itu.
  8. Mulailah bertindak dari sekarang tanpa menunda-nunda. Hadapi situasi dengan mengerahkan semua potensi yang Anda miliki, dan kalahkan situasi yang menakutkan itu dengan berani.
  9. Sekarang, dengan mati-matian kerahkan segala potensi dan keyakinan Anda secara maksimal untuk menghadapi situasi apapun yang ada dihadapan Anda.


Ada banyak alasan bagaimana membuat seseorang menjadi berani, dan ada beberapa langkah bagaimana membuat diri menjadi berani. Untuk menjadi berani, seseorang harus memiliki motif yang kuat dan kepercayaan diri yang tinggi, dan mati-matian berusaha secara maksimal mengerahkan potensi yang ada pada dirinya untuk memperjuangkan motifnya. Untuk mewujudkan semua itu, ia harus memiliki tindakan yang terencana berupa langkah-langkah yang sistematis.

Motif seringkali menjadi landasan utama dari sebuah keberanian. Orang dapat melakukan perbuatan yang luar biasa ketika ia memiliki motif yang harus diperjuangkannya. Saya teringat pada sebuah kisah di zaman raja Fir'aun. Ada seorang pelayan bernama Masyitah yang kerjaannya sebagai tukang sisir putri raja  mesir. Fir'aun yang menganggap dirinya sebagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah oleh seluruh rakyat mesir, sehingga bagi rakyatnya yang menyembah selain dirinya, ia akan dibunuh.

 Masyitah seorang perempuan yang secara fisik lemah, ia muslimah yang salehah. Tanpa sengaja sisir yang digunakan untuk mendandani rambut puti Fir'aun jatuh kelantai dan ia berseru "Subhanallah" (Maha suci Allah).  Putri Fir'aun terkejut lalu mengadukan hal itu kepada ayahnya. Sang raja marah besar dan mengadili Masyitah. Namun perempuan ini tidak takut dengan ancaman hukuman mati oleh Fir'aun untuk dimasukannya kedalam kuali raksasa yang berisi minyak yang mendidih. Masyitah justru menyatakan hidup dan matinya untuk Allah, karena ia milik Allah. Masyitah diminta mengubah sikapnya oleh Fir'aun, tapi ia tetap tak mau mengakui bahwa Fir'aun adalah Tuhannya. Bahkan ketika satu persatu dari dua anaknya dimasukan kedalam kuali panas dan tergoreng, Masyitah tetap pada pendiriannya. Ia hanya menyembah Allah walaupun akhirnya harus tewas tenggelam dalam minyak mendidih dengan api berkobar dibawahnya.




Masyitah yang lemah, menjadi perempuan dengan keberanian yang luar biasa karena ia memiliki motif. Ia memiliki keyakinan untuk memperjuangkan iman dan islam. Ia menyerahkan tubuhnya dalam kekejaman Fir'aun, namun menyerahkan iman dan jiwanya kepada Allah. Motif untuk memperjuangkan keberanian yang hakikih membawanya pada derajat keberanian yang luar biasa. Motif inilah yang membuat sangat percaya diri, seorang pelayan lemah yang berdiri tegak dihadapan maharaja mesir dan menolak permintaannya.

Masyitah mati-matian mengerahkan kekuatan yang ada pada dirinya dalam memperjuangkan motifnya. Ibu mana yang sanggup berdiri tegar melihat satu persatu anaknya dicampakkan ke kuali raksasa berisi minyak mendidih. Perempuan mana yang sukarela menceburkan diri dalam kuali seperti itu hanya untuk mengucapkan La ilaha ilallah (Tidak ada Tuhan selain Allah). Padahal kalau saja ia mau mengakui Fir'aun sebagai Tuhan, ia akan selamat.

Kadang-kadang keberanian bisa timbul diluar akal sehat. Banyak orang yang membabi buta bertindak untuk mengesankan keberaniannya. Ia nekad membuat kerusuhan. intimidasi, mengamuk dan membantai orang lain. Ini bukan keberanian, ini luapan emosional yang bisa jadi untuk menutupi kelemahannya. Bahkan banyak orang berusaha minum minuman keras agar tampak setengah mabuk, lalu mengamuk dengan berani. Siapapun dilawannya, apapun diobrak-abriknya. Ia sudah tidak dapat lagi mengendalikan akal sehatnya dan berani bertindak diluar kesadarannya. Tapi Masyitah tidak seperti ini, ia punya motif dan ia punya tujuan.

Keberanian adalah suatu sikap atau tindakan yang mengerahkan segenap potensi diri untuk keluar dan membebaskan diri dari zona aman, dan mencoba hal-hal baru. Masyitah tentu akan selamat, aman dan hidup nyaman kalau dia mau. Berkubang di zona aman memang akan membuatnya selamat, tidak terluka atau terabaikan. Namun sisi buruknya, ia tak akan pernah berkembang menjadi pemberani. Tak punya peluang menunjukkan keberaniannya menentang seorang maharaja demi memperjuangkan agama Allah. Ia akan menjadi pelayan terus menerus yang stagnan dalam ke statisan. Padahal untuk meraih kehidupan yang lebih baik, mutlak diperlukan suatu keberanian untuk mengubah rutinitas statis yang membelenggunya. Ia memilih menjadi pemberani.

Banyak orang berpendapat bahwa pada masa kini, dunia hanya membutuhkan orang-orang yang pemberani, sementara orang-orang penakut selayaknyalah hidup nyaman di alam mimpi. Pendapat ini sepenuhnya benar. Anda hanya akan mendapat tempat pada pergaulan sosial, pekerjaan, rumah tangga atau apapun kalau Anda punya keberanian. Peluang apapun yang ada dihadapan Anda, hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang berani.

Keberanian menghadapi rasa takut atau situasi yang menakutkan membutuhkan suatu motivasi tentang apa yang akan Anda dapatkan setelah itu. Jika Anda tidak melihat adanya suatu manfaat ketika menghadapi suatu situasi, maka Anda akan termotivasi untuk menghindari situasi tersebut. Sebaliknya, bila Anda melihat adanya manfaat saat berhadapan dengan situasi tersebut, maka Anda cenderung termotivasi untuk menghadapinya.
Jika Anda ingin menjadi pemberani,.? Ada beberapa langkah-langkah yang dapat Anda lakukan untuk menjadi berani. Salah satunya adalah menentukan sikap bagaimana cara kita menghadapi rasa takut tersebut. Namun, nanti akan kita bahas pada lain kesempatan.




Sobat pengunjung setia blog jally junkiez,. Mungkin suatu saat Anda akan merasa panik karena dikejar dosa. Begitu takutnya Anda hingga seluruh pekerjaan Anda berantakan. Mungkin saja untuk sekedar refreshing akibat tekanan pekerjaan yang bertensi tinggi, Anda dan rekan-rekan sekerja bersenang-senang, lantas melupakan batas-batas kebolehan yang telah menjadi ukuran. Misalnya untuk sekedar cuci mata dan kemudian berujung berbuat zina. Untuk sekedar menimbang keadaan seseorang tapi justruasyik menebar fitnah dan sebagainya.

Pada saat Anda menyadari bahwa semua itu melanggar batas kebolehan yang ada pada diri Anda, maka semuanya sudah terlambat, karena semua sudah terjadi. Kalau Anda memikirkan dengan apa yang sudah terjadi, dan Anda merasa bersalah, maka hal itu bisa mempengaruhi kerja Anda. Bukan saja ditempat kerja, ditengah-tengah lingkungan Anda, bahkan didalam hidup berumah tangga pun akan tidak merasa tentram. Perasaan dikejar dosa semacam ini bisa mengakibatkan ketakutan yang sangat serius.

Secara umum, takut terhadap rasa bersalah ini muncul dalam dua bentuk, yakni:

  • Rasa bersalah horizontal, yakni rsa bersalah yang Anda lakukan berdasarkan kedudukan Anda sebagai makhluk sosial. Anda melakukan kesalahan kepada sesama manusia dengan melanggar kesepakatan-kesepakatan dan norma hukum adat dan hukum negara. Sanksi atas pelanggaran ini diambil berdasarkan norma hukum yang berlaku ditempat Anda.
  • Rasa bersalah vertikal, yakni rasa bersalah yang muncul setelah Anda melakukan perbuatan tertentu berdasarkan kedudukan Anda sebagai makhluk individu. Anda melakukan kesalahan dengan melanggar norma agama. Perasaan bersalah ini menempatkan Anda berhadapan dengan sanksi hukum Tuhan yang menguasai seluruh hidup Anda.


Adakalanya suatu ketentuan bersifat reatif, artinya terkadang boleh menurut hukum adat namun terlarang bagi hukum agama, demikian pula sebaliknya. Misalnya disuatu tempat dalam sebuah pesta adat dibolehkan meminum-minuman keras sehingga memabuk-mabukan. Walaupun boleh secara adat, namun terlarang bagi agama. Bahkan apa yang boleh dilakukan oleh suatu agama tertentu belum tentu dibolehkan oleh agama yang lain. Misalnya mengkonsumsi daging babi. Banyak agama membolehkannya, namun dilarang keras oleh agama tertentu. Sebaliknya ada pula hal yang dibenarkan menurut norma agama, namun tidak dibenarkan oleh hukum negara, misalnya praktik poligami dan nikah siri, melakukan tindak kekerasan terhadap anak untuk menegakan ibadah shalat, atau perjuangan jihad fisabilillah yang memperjuangkan amar ma'ruf nahi munkar yang sering berbenturan dengan hukum negara.




Banyak contoh-contoh yang dapat kita temui terkait dua bentuk rasa bersalah yang telah disebutkan diatas. Kadang-kadang ketakutan atas dosa yang telah dilakukan tidak rasional. Namun rasional atau tidak, tekanan rasa takut itu dapat membuat orang akan menerima akibat psikologi yang tidak ringan. Yang paling mengerikan adalah azab yang dijanjikan Sang Pencipta alam jagad raya ini, yaitu pembalasan yang sangat pedih di alam neraka. Sebagai umat beragama tentu Anda sangat percaya akan adanya hari akhir dan neraka yang penuh penyiksaan abadi dan memiliki tingkat penyiksaan yang tak ada bandingnya.
Konon dunia hanyalah wadah pengujian, dan akhirat adalah tempat yang sesungguhnya. Hal inilah yang membuat banyak diantara kita sedapat mungkin menghindari pedihnya siksaan neraka, namun sayangnya banyak diantara kita yang tak mempedulikannya.

Takut terhadap rasa bersalah atau rasa berdosa itu sangat baik. Bukankah dengan demikian Anda dapat mengontrol kendali diri Anda untuk tidak berbuat salah pada siapapun dengan alasan apapun? Yang menjadi masalah adalah bila Anda merasa takut karena dihantui oleh rasa bersalah atau dosa, tetapi Anda tidak menemukan bagaimana cara untuk keluar dari rasa takut tersebut.
Sebagian besar para pendosa hidup dalam ketakutan kehidupan dibalik dinding penjara yang kita kenal ganas, kadang-kadang lebih menentramkan mereka daripada harus hidup diluar penjara. Didalam penjara, mereka lebih sering berhadapan dengan orang-orang yang kasar, yang sok jagoan dan sok berkuasa. Namun apa yang mereka hadapi itu tak berkaitan dengan rasa bersalah dan rasa berdosa yang menggumpal dalam hatinya. Mereka hidup dalam situasi yang keras diluar cengkraman rasa bersalah yang akut. Justru diluar penjara ia akan berhadapan dengan orang yang tak lagi bersahabat, penuh dengan curiga, dendam, dan pandangan merendahkan. Ini reaksi wajar yang terdapat pada orang yang telah melakukan dosa.

Kalau boleh memilih, mereka akan memilih hidup disuatu tempat yang tidak mengundang hadirnya kembali bayangan dosa-dosa yang pernah diperbuatnya. Disuatu tempat terpencil yang jauh dari keramaian, atau jauh dikota lain yang tak memiliki akses dengan kota yang membawa kenangan pahit atas dosa-dosanya. Atau kalau tidak bisa mendapatkan tempat semacam itu, maka mungkin Anda lebih takut hidup diluar penjara daripada didalamnya dan memilih untuk kembali ke penjara dan hidup didalamnya.

Ini baru pada tahapan takut secara horizontal. Siksaan duniawi saja sudah begitu menakutkan, apalagi siksaan akhirat nanti. Bukankah sangat mengerikan bila Allah menuntut pertanggungjawaban Anda terhadap perbuatan-perbuatan Anda yang telah melanggar ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya? Allah telah berulang-ulang memperingatkan dengan ancaman siksaan yang pedih. Tidakkah Anda mendengarkan?





Rasa tidak percaya pada kemampuan sendiri akan sangat mengganggu aktifitas Anda sehari-hari. Apapun jenisnya yang Anda kerjakan, jika tanpa disertai kepercayaan bahwa Anda mampu mengerjakannya, maka hasilnya tidak akan optimal. Ketidakpercayaan pada diri sendiri merupakan salah satu dari bentuk ketakutan yang sangat dihindari banyak orang, disamping beberapa ketakutan yang sudah di paparkan pada artikel sebelumnya, Penulis sengaja membedakan pengertian antara ketidakmampuan diri dan ketidakpercayaan diri untuk kepentingan pembahasan mengenai rasa takut dalam artikel ini. Ketidakmampuan diri yang dimaksud disini lebih ditekankan pada kondisi lahiriah, sedangkan ketidakpercayaan diri lebih ditekankan pada pembahasan batiniah. Pendekatan ini penulis harapkan dapat mempermudah Anda mengikuti alur bahasan yang disajikan berikut ini.

Walaupun mengacu pada pendekatan yang berbeda, namun ketidakmampuan diri dan ketidakpercayaan diri mempunyai hubungan yang kuat satu sama yang lain. Misalnya orang dengan masalah ketidakberdayaan diri akan mempengaruhi kepercayaan dirinya. Sebaliknya, orang yang mempunyai masalah dengan ketidakpercayaan diri juga akan mempengaruhi ketidakberdayaan dirinya.




Ketidakpercayaan diri merupakan faktor yang sangat menentukan besar kecilnya bobot keberanian Anda. Artinya, semakin besar rasa percaya diri Anda, maka semakin besar pula keberanian Anda. Sebaliknya juga demikian. Hal ini juga mengindikasikan bahwa semakin besar bobot kepercayaan diri Anda, semakin dekatlah Anda mencapai pintu sukses.
Berikut ini akan dipaparkan tingkatan kepercayaan diri yang dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, yakni:

  1. Rendah diri, yakni suatu keyakinan pada diri yang menganggap diri sendiri tidak memiliki kemampuan yang berarti, atau kurang berharga yang ditimbulkan karena ketidakmampuan psikologis, sosial, atau keadaan jasmani yang kurang sempurna.
  2. Kurang percaya diri, yakni suatu keraguan pada kemampuan diri ketika menghadapi situasi tertentu, yang bahkan cenderung menghindari situasi yang penuh resiko dan tantangan.
  3. Cukup percaya diri, yakni suatu keyakinan pada diri bahwa dengan kemampuan jasmaniah dan akal budi yang dimilikinya, ia merasa mampu menghadapi situasi, mampu meraih apa saja yang diinginkannya, direncanakannya, dan diusahakannya.
  4. Sangat percaya diri, yakni memiliki kepercayaan diriyang berlebihan dengan keyakinan bahwa ia mampu menghadapi resiko terberat dimana orang lain tidak mampu melakukannya.


Orang yang rendah diri sering berusaha menyembunyikan dirinya dari pergaulan sosial, ia lebih sering memilih menyendiri daripada bercengkrama bersama teman, kelompoknya, selalu menarik diri dalam setiap aktifitas kelompok sebaya, selalu ragu-ragu dalam bertindak dan menolak untuk melakukan persaingan positif. Ia lebih suka memilih kenyamanan di zona aman. Ia selalu merasa terlalu bodoh untuk memikirkan sesuatu, dan terlalu lemah untuk mengerjakan sesuatu. Itu sebabnya ia cenderung menolak atau menghindari tugas yang dibebankan kepadanya.

Perasaan rendah diri biasanya timbul karena beberapa hal, antara lain

  • Pengaruh faktor internal yang ada pada dirinya. Misalnya menyadari bahwa ia memiliki kualitas kecerdasan dibawah rata-rata sehingga tak mau bersaing dengan orang lain. Memiliki tingkat emosional yang rendah sehingga mudah strees, depresi, cemas, tidak bersemangat, merasa tak berdaya, dan mudah tersinggung dan mudah putus asa.
  • Mengalami insiden yang mengakibatkan cacat tubuh atau menderita cacat tubuh sejak lahir yang bersifat permanen atau menderita penyakit yang berkepanjangan.
  • Pengaruh faktor eksternal yang menimpanya, misalnya masalah kemiskinan, ketidakharminisan keluarga karena suatu perbuatan yang memalukan dan sebagainya.


Kurang percaya diri berbeda dengan rendah diri.  Bila Anda seorang yang merasa ragu atau bimbang atas kemampuan Anda dalam menghadapi suatu situasi, boleh jadi Anda dalam posisi yang kurang percaya diri. Kurang percaya diri ini bersifat insidental dan situasional, jadi bukan merupakan sesuatu yang permanen. Anda mungkin merasa kurang percaya diri ketika berhadapan dengan satu kondisi tertentu, namun justru sangat percaya diri ketika menghadapi kondisi lainnya. Begitu pula sebaliknya. Jadi perasaan kurang percaya diri yang ada pada diri Anda akan sangat tergantung pada situasinya, bukan merupakan perasaan yang menetap dan bukan pula trade mark Anda.

Pada saat mengalami kegagalan, Anda sering merasakan bahwa tantangan yang Anda hadapi itu di luar keberdayaan Anda, atau Anda menyesali telah menggunakan pendekatan yang salah atau kurang tepat. Dalam kondisi seperti ini, emosional Anda agak meningkat dan sensitif terhadap kritik. Anda selalu merenungkan apa yang salah pada diri Anda sehingga Anda mengalami kegagalan.

Kalau Anda tidak berbenah bangkit dari kegagalan, rasa kurang percaya diri ini akan semakin menggerogoti kepercayaan Anda. Anda merasa diperlakukan tidak adil oleh Sang Maha Pencipta, yang memberikan banyak kelebihan pada orang lain, tapi hanya memberikan sedikit kemampuan untuk Anda. Sikap ini mulai menempatkan Anda pada posisi bahaya. Anda akan mulai melebih-lebihkan kesulitan setiap pekerjaan, dan melebih-lebihkan ketidakmampuan Anda mengatasinya. Anda bukan saja bimbang untuk meraih kesuksesan masa depan, namun bisa jadi tidak peduli pada masa depan.




Takur terhadap ketidakberdayaan diri berawal dari pemahaman tentang keberdayaan diri yang tidak profesional. Kalau Anda menilai diri sendiri tidak memiliki keberdayaan yang berarti dan kurang berharga akbibat ketidakberdayaan psokologis, sosial, atau keadaan jasmani yang kurang sempurna, maka dengan mudah Anda akan mengalami ketakutan yang bersifat serius.

Takut terhadap ketidakberdayaan diri ini dapat dibedakan menjadi dua, yakni takut yang disebabkan oleh faktor internal seperti mengalami cacat, susuah berkomunikasi atau menderita penyakit tertentu. Kedua, takut terhadap ketidakberdayaan diri yang disebabkan oleh faktor eksternal, misalanya akibat kelemahan ekonomi orangtua, broken home, atau masalah lingkungan lainnya. Kedua jenis ketakutan ini akan memaksa Anda memasuki dunia rendah diri.




Beberapa sebab yang melatar belakangi ketakutan terhadap ketidakberdayaan diri antara lain adalah:
  • Anda memiliki kondisi tubuh yang tidak sempurna, sehingga Anda menjadi rendah diri dan menolak melakukan persaingan. Akibatnya, keberdayaan Anda tidak bertambah dan Anda merasa tidak berdaya berbuat apa saja.
  • Anda merasa terlalu miskin untuk mendapatkan barang-barang yang dapat memacu keberdayaan diri, sehingga Anda merasa seberapapun beratnya Anda berusaha, hasil yang dicapai tidak akan maksimal. Hal ini akan membuat Anda berhenti berusaha.
  • Anda merasa diperlakukan tidak adil oleh keadaan, sehingga Anda memberontak dengan melakukan aksi tidak berbuat apa-apa. Dengan melakukan ini, Anda berharap orang lain mengerti keadaan Anda dan dapat memahami kekurangan Anda.
  • Anda salah dalam mengenali diri Anda, dan membuka peluang seluas-luasnya untuk ketidakberdayaan, dan menutup peluang rapat-rapat untuk sebuah keberdayaan. Hal ini cenderung menempatkan Anda pada zona aman untuk tempat menentramkan diri.
  • Anda merasa lebih nyaman dengan ketidakberdayaan ini karena tidak diminta untuk melakukan sesuatu yang memiliki resiko besar, tidak dihadapkan pada ancaman bahaya, dan akan mendapatkan rasa iba dari orang lain.
  • Anda pernah melakukan pekerjaan yang berakhir dengan kegagalan dan mendapat ejekan dari orang lain yang menyudutkan harga diri Anda yang akhirnya membuat Anda menjadi tidak percaya pada keberdayaan Anda.
  • Anda mendapat tekanan cukup besar dari keluarga untuk melakukan pekerjaan yang Anda pikir di luar kemampuan Anda. Untuk menghindari pekerjaan itu, Anda dengan sengaja mengecilkan keberdayaan Anda.


Anda akan terkubang pada ketidapercayaan akan keberdayaan diri, dan selalu menempati posisi dibawah posisi orang lain. Akibatnya, apapun yang Anda lakukan seolah-olah dalam kendali dan hinaan orang lain. Kalau saja gejala ini berkembang tanpa upaya normalisasi, maka selamanya Anda akan hidup dalam jerat-jerat ketakutan.

Pada satu kasus, misalnya ketika tiba-tiba terjadi sebuah kecelakaan hebat, seorang remaja terpaksa kehilangan kedua kakinya. Mungkin benar ia merasakan langit diatas kepalanya terasa runtuh, dan bumi dibawahnya terbelah dan menjepitnya. Ia lalu menyikapi kehilangan kedua kakinya itu sebagai kehilangan segala-galanya. Bukan ketakutanakan kehilangan kaki yang menghantuinya, malainkan takut pada hinaan dan ejekan atas ketidaksempurnaan dirinya dan kehilangan keberdayaannya untuk menghadapi segala macam situasi yang akan datang.

Kehilangan sebagian tubuh itu disikapinya sebagai bencana besar dalam hidupnya, mengoyak-ngoyak kepercayaan dirinya. Pada kondisi seperti ini, Ia lebih suka memasuki zona aman, dengan memilih berdiam diri tidak melakukan apa-apa dikamarnya, memutuskan untuk mengurung diri tanpa komunikasi dengan teman-temannya, dan melanjutkan hidupnya dari belas kasihan orangtua. Ia terlalu takut untuk mencoba keluar rumah atau mencoba melakukan sesuatu yang baru. Ia takut dikasihani temannya, takut diejek, takut ditertawakan, takut dianggap sampah, dan banyak lagi jenis takut lainnya. Maka ia akan menghabiskan seluruh hidupnya dalam jerat ketakutan seperti itu, sampai pada saatnya ia berani keluar dari zona aman  dan berani menanggung resiko yang menimpahnya. Sampai ia menyadari bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah berada ditengah-tengah masyarakat yang ramai, bukan sendirian dikamarnya.

Takut terhadap ketidakberdayaan diri yang akut akan membuat Anda secara psikologis menjadi orang yang tidak percaya diri. Kepribadian ini merupakan sinyal bahwa apapun yang akan Anda kerjakan akan berakhir dengan kegagalan.




Apakah Anda sering merasa bimbang ketika membuka pintu rumah untuk berangkat melakukan aktifitas sehari-hari? Anda merasa takut kalau-kalau hari tiba-tiba turun hujan dengan derasnya pada saat Anda berada di tempat kerja, sehingga rekan bisnis Anda tak bersedia, dan negosiasi bisnis yang Anda rencanakan tak bisa berjalan? Anda takut kalau-kalau rencana meeting Anda dalam memaparkan rencana kerja tiba-tiba batal karena ada beberapa staff direksi yang tidak menyukai Anda? Mungkin Anda takut jangan-jangan Anda akan dirampok pada saat menarik uang di bank? Kalau Anda sering menjumpai masalah seperti contoh disebutkan tadi diatas, berarti Anda telah berprasangka buruk terhadap sesuatu atau pada seseorang, dan Anda merasa takut prasangka buruk itu benar-benar terjadi.




Sebuah prasangka buruk juga dapat dilontarkan seseorang pada diri Anda. Semakin banyak orang yang menaruh prasangka buruk kepada Anda, semakin tinggi ketakutan Anda terhadap prasangka itu. Tidaklah baik Anda berprasangka buruk kepada orang lain. Tidaklah baik pula Anda merasa takut ketika orang lain berprasangka buruk kepada Anda.
Berikut ini ada beberapa penyebab munculnya ketakutan Anda terhadap prasangka buruk orang lain kepada Anda, antara lain adalah:

  • Anda tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk bersaing dengan orang lain, sehingga menganggap orang lain akan menjatuhkan Anda dengan segala cara yang bisa dilakukan.
  • Andapernah melakukan kesalahan tertentu pada seseorang dan menganggap orang tersebut berencana membalas dendam dengan menjatuhkan Anda atau menggagalkan rencana Anda.
  • Anda memiliki kelemahan yang diketahui orang lain, dan merasa orang tersebut akan memanfaatkan kelemahan Anda itu untuk menjatuhkan Anda.
  • Anda merasa cemburu pada kemampuan profesional seseorang yang dengan cepat mendapatkan tempat dihati atasan Anda. Anda merasa kehadirannya itu dapat mengancam posisi dan kedudukan Anda yang selama ini memberi rasa nyaman pada Anda.
  • Anda merasa lemah dan tak berdaya sehingga menganggap seseorang itu tidak menaruh kepercayaan pada Anda.
  • Anda menyimpan rahasia tertentu yang akan melukai perasaan seseorang, sehingga Anda takut seseorang itu mengetahui rahasia Anda dan melakukan tindakan pemerasan terhadap Anda.


Sebuah prasangka buruk memang dapat menimbulkan ketakutan. Dengan timbulnya perasaan ini akan menyebabkan terganggunya ketenangan  Anda. Suatu hari mungkin Anda merasa takut ketika dalam perjalanan pulang dari kantor, kendaraan yang Anda kemudikan tampak dibuntuti oleh seseorang. Dari balik kaca spion Anda bisa melihat seorang pemuda bertato dengan kaca mata hitam berada dibelakang kendaraan Anda. Ketika Anda berhenti diperempatan lampu merah, kendaraan itu berhenti tepat disamping kendaraan Anda. Pengendara yang tampak sangar itu menoleh ke arah Anda dan memandang Anda tanpa tersenyum. Namun ketakutan Anda pelan-pelan sirna ketika lampu hijau menyala, dan orang itu justru berbelok ke kanan dan tidak lagi membuntuti kendaraan Anda.




Ketika Anda sedang berada dalam Bis angkutan dan duduk disebelah Anda seorang laki-laki berjaket kulit. Berkali-kali ia melihat ke arah tas yang Anda tempatkan diatas bagasi yang mana berisi barang-barang berharga yang baru saja Anda beli. Anda tiba-tiba merasa takut, jangan-jangan lelaki itu tahu betul apa yang ada di dalam tas Anda. Dan Anda bertindak cepat untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk dengan menurunkan tas dari bagasi dan meletakkan di pangkuan Anda. Anda mungkin akan merasa lega setelah tahu bahwa lelaki itu bekerja disebuah pabrik tas kulit yang salah satu produksinya adalah tas yang Anda gunakan itu.

Takut yang diakibatkan menaruh prasangka buruk juga sering dianggap pada orang yang takut kehilangan sesuatu. Akibat takut kehilangan perhatian dan kasih sayang dari kekasihnya, seorang pemuda akan selalu berprasangka buruk pada setiap lelaki yang berteman baik dengan kekasihnya. Bahkan dalam dunia anak-anak, selalu ada kemungkinan seorang anak tidak suka atas kehadiran adiknya karena takut kehilangan perhatian dan kasih sayang ibu. Ia selalu bersikap soudzon atau berprasangka buruk terhadap siapapun yang mencoba dekat dengan ibunya.

Sebaliknya, Anda mungkin juga pernah takut bila seseorang akan menaruh prasangka buruk pada Anda. Karena perjalan ke kantor macet total, Anda dipastikan akan terlambat menghadiri pertemuan dengan staff direksi. Walaupun Anda sudah menelpon menjelaskan kondisi perjalanan Anda saat ini, bukan tidak mungkin Anda merasa bersalah, dan menaruh perasaan takut, jangan-jangan semua orang berprasangka buruk terhadap Anda dan tidak mempercayai kejujuran Anda. Terlebih lagi pada kasus lain, dimana Anda terpaksa meminta pengunduran waktu untuk melunasi tunggakan kredit Anda. Anda tentu merasa sangat takut jangan-jangan lembaga kredit itu berprasangka buruk pada Anda dan menganggap Anda hanya mencari-cari alasan untuk menghindari kewajiban, padahal Anda telah seratus persen jujur.

Begitu pula dengan orang yang memperlakukan tubuhnya dengan "tidak umum" berpeluang untuk mengundang prasangka buruk, apakah ia bertato, bertindik, mengecat rambut warna warni, atau berdandan yang aneh-aneh. Takut akibat timbulnya prasangka buruk ini membuat seseorang lebih memilih memasuki zona aman, ia merasa nyaman dengan tidak melakukan apa-apa. Kekhawatiran yang ditimbulkan dari adanya prasangka buruk juga dapat melahirkan reaksi lain dengan melakukan tindakan protektif yang berlebihan. Dengan alasan kewaspadaan, rasa takut yang diakibatkan prasangka buruk berupa kecurigaan, baik juga dilakukan. Akan tetapi kalau hal itu menjadi kebiasaan, apalagi dilakukan dengan cara yang berlebihan, tentu akan dapat mempengaruh ketenangan Anda juga.