Sumbang Saran (SS) dengan tema "Meningkatkan Produktifitas Assy 5FM0980 dengan mempercepat proses assy material FM96 (FM96 adalah sub assy dari 5FM0980)

 Sumbang saran atau Sugestion system dengan tema "Menurunkan harga kain Veloci tanpa mengubah variabel yang menyebabkan proses ganti corak bertambah"

 Sumbang saran atau Sugestion system (Improvement) dengan tema "Mengurangi Kotor Kabut (Hazy) dengan memasang Pre-washing di BGW-1 (Bending Glass Washing)

 Sugestion system atau sumbang saran (Improvement - Manufacturing) dengan tema "Meningkatkan Produktifitas Mold Insert Knob N166 dengan otomatis sistem pelepasan part"

Rajawali yang terbang bebas dan tahu siapa dirinya



Dikisahkan ada seorang petani kebun yang menemukan telur burung Rajawali dan dibawanya telur itu ke rumah, kemudian di letakkannya telur itu ditempat telur-telur ayam miliknya sehingga dierami oleh sang induk ayam, Maka ketika telur-telur ayam itu menetas, telur burung rajawali tersebut ikut menetas. Meskipun terlihat badan dan sayap-sayapnya berbeda dengan kakak-kakaknya, sang induk ayam tidak membedakan anak bungsu ini dengan kakak-kakaknya. Hari demi hari tumbuh besar bersama kakak-kakaknya, semakin terlihat perbedaan postur tubuh dan sayap rajawali ini dengan kakak-kakaknya, tetapi dia tetap merasa bahwa dia bagian dari keluarga yang sama yaitu keluarga ayam.

Suatu hari dia melihat burung gagah perkasa terbang di angkasa yakni burung rajawali, lalu dia bertanya pada kakak-kakaknya, makhluk apakah gerangan yang ada diatas sana? Sang kakak menjawab bahwa itulah makhluk langit burung Rajawali yang berbeda dengan kita-kita makhluk bumi yang keluarga ayam.

Hari demi hari hidup bersama kakak-kakaknya sebagai keluarga ayam, semakin jauh perbedaan adik bungsu ini, sampai suatu hari kakak-kakaknya sadar bahwa adiknya memang sangat berbeda. Diamatinya benar-benar sang adik ini, kemudian dilihatnya pula burung yang gagah perkasa di angkasa. Maka kakak-kakaknya sadar bahwa sang adik tidak lain adalah burung Rajawali seperti yang biasa mereka lihat gagah perkasa di langit sana.

Diyakinnyalah sang adik bungsu bahwa dia sesungguhnya adalah Rajawali makhluk langit yang gagah perkasa dan disuruhnya sang adik untuk terbang ke angkasa, tetapi karena sang adik seumur-umur hidup bersama kakak-kakaknya bangsa ayam, dia tidak bisa terbang karena tidak tahu caranya. Bahkan meskipun memiliki postur tubuh dan sayap yang berbeda, sang adik juga tidak merasa bahwa dirinya adalah Rajawali, dia merasa dirinya adalah ayam.

Dengan segala upaya kakak-kakaknya meyakinkkan dirinya bahwa dia adalah Rajawali yang harusnya bebas terbang dengan perkasa mengarungi angkasa raya. Tetapi sang adik tetap tidak bisa terbang, dia merasa bahwa dirinya adalah ayam dan dia puas untuk hidup bersama keluarga ayam yang dikenalnya sejak dia lahir.

Tidak menyerah untuk membantu sang adik menemukan takdirnya sebagai burung Rajawali, suatu hari kakak-kakaknya mengajak dia untuk berjalan mendaki gunung yang tinggi sampai menemukan tebing yang curam. kakak-kakaknya kelelahan mendaki tebing yang tinggi sementara si bungsu tidak tampak kelelahan sama sekali. Lalu di bujuknya sang adik untuk melongokkan kepalanya dan melihat keindahan lembah dibawah sana, dan dalam posisi inilah sang adik didorong ke arah tebing yang sangat curam tersebut.

Lalu apa yang terjadi? Ternyata sang adik dengan gerak refleksnya bisa langsung melebarkan sayapnya, mengepakkan sayap dan melayang terbang tinggi sebagai Rajawali yang gagah perkasa, selama ini dia hanya salah paham mengira bahwa dirinya adalah Ayam dan tidak tahu bahwa dia adalah Rajawali.

Sahabat pembaca,..! Sering sekali kita tidak mengetahui harus berbuat apa dan apa yang seharusnya kita perbuat. Itu terjadi karena pada dasarnya kita sedang tidak benar-benar mengetahui siapa diri kita sendiri. Rajawali tetaplah Rajawali, entah seberapa lama ia tidak mengetahui dirinya ketika ia mulai memahami dirinya, ia dapat menjadi Rajawali seutuhnya.

Begitu juga dengan diri kita sendiri, harus mengetahui siapa diri kita, kemana tujuan hidup kita, apa yang akan kita perbuat, dan untuk apa kita lakukan hal tersebut. Ada peribahasa yang mengatakan "Jika kamu Emas, sekalipun kamu berada di kubangan lumpur, kamu akan tetap menjadi emas". Itu artinya kita harus tetap menjadi diri kita sendiri dimana pun kita berada, tahu siapa diri kita dan tahu akan melangkah kemana selanjutnya. Yang lebih penting dari itu semua adalah bersyukur dengan apa yang kita dapatkan selama ini dalam kondisi apapun dan bagaimana pun jangan lepaskan bersyukur dan belajar untuk menerima hal-hal yang baru, bersiap dan mampukanlah diri dengan segala perubahan pada alam yang kita pijak hari ini.
Semangat mengetahui diri sendiri dan selamat berjuang.

Semoga bermanfaat...




Semua orang pasti menginginkan hidup bahagia, termasuk anda juga, bukan...?
Namun, banyak orang beranggapan kalau bahagia itu adalah disaat kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Misalnya anda saat ini punya rumah mewah, mobil yang banyak, harta melimpah ruah sana-sini dan lain sebagainya. Dan ini membuat anda merasa tercukupi dengan segala materi yang telah anda peroleh sehingga anda merasa orang yang paling bahagia.
Pada umumnya orang menganggap bahagia itu ketika segala materi tercukupi atas dirinya, atau kata lain yang mereka pikir adalah soal harta meluluh akan membuat orang merasa bahagia. Ini adalah hal pemikiran sempit atau hanya mengikuti keinginan ego diri saja. Padahal bukan hanya materi saja akan membuat orang merasa bahagia, tapi bagaimana kita bisa menciptakan kebahagian itu ikut dirasakan bagi orang lain. Ini yang luar biasa. Zaman sekarang jarang kita temui orang-orang yang demikian ketika rohaninya terpenuhi sehingga membuat dia merasa bahagia.

Ada hal yang tidak kita sadari kalau yang lebih membahagiakan itu adalah disaat kita memberi atau berbagi sesuatu pada orang lain dan kita melihat orang yang kita beri itu merasa bahagia menikmati apa yang kita berikan... 
Ya, disini yang bisa membuat orang bahagia itu tak harus selalu dalam bentuk materi saja tapi perhatian dan kasih sayang juga bisa....

Kira-kira ilustrasinya begini :
Ada seseorang yang datang kerumah anda dengan muka lusuh dan meminta makanan pada anda karena sudah dua hari dia tidak makan. Dan anda punya sepiring nasi yang cukup untuk anda berikan pada orang tersebut. Coba perhatikan disaat orang itu menerima dan memakan nasi yang anda sajikan atau berikan pada orang itu, dengan wajah berseri dan penuh kebahagian yang mungkin karena saking bahagianya dia setelah makan, dia akan bersujut pada anda untuk mengungkapkan besar rasa terimakasihnya pada anda. Ketika anda melihat itu, anda akan ikut merasa lebih bahagia dari pada orang yang anda bahagiakan tadi.

Jangan salah,. mungkin anda beranggapan kalau setiap apa yang anda beri pasti akan menciptakan kebahagian, saya rasa tidak begitu juga.  Ya, kalau anda memberi untuk mengharapkan pujian atau sesuatu imbalan, saya rasa mungkin anda tak akan selalu bahagia sebab yang terjadi kadang tak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan, yang ada anda hanya akan merasakan apa yang anda miliki akan menjadi berkurang atau membuahkan kekecewaan. Tapi disaat anda memberikan sesuatu dengan tujuan ikhlas dan ingin membahagiakan orang lain tanpa mengharapkan imbalan atau hanya sekedar ingin menolong saja, saya rasa anda tidak akan pernah kecewa. Karena yang membuat anda kecewa itu adalah harapan yang anda ciptakan dibalik pemberian itu. Rasa ingin melihat orang yang kita beri itu ikut bahagia dengan pemberian kita, itu pun juga masih sebuah harapan. Tapi diantara sekian banyak alasan dibalik pemberian, alasan inilah yang paling ikhlas dan yang paling mulia...

Jika semua orang menyadari betapa bahagianya disaat kita bisa berbagi dan ikut merasakan kebahagian orang lain, saya rasa semua orang akan kecanduan untuk melakukannya hingga menjadi sebuah kebiasaan dalam kehidupan kita kedepannya. Berbuat baiklah setiap saat tanpa memandang siapa yang berkekurangan. Sebab setiap kebaikan itu bernilai pahala bagi diri anda di dunia dan akhirat.

Semoga bermanfaat....



Kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Baik itu dalam lingkungan sosial bermasyarakat, bertetangga ataupun dalam dunia kerja. Namun sayangnya di tengah kehidupan ini, banyak orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Artinya dalam hidup ini ada saja permasalahan yang akan kita hadapi, baik itu senang maupun duka. Hal ini menurut orang banyak adalah suatu hal yang lumrah dalam perjalanan hidup. Ada hal yang menarik dalam perjalanan hidup ini yang mungkin anda sendiri pernah mengalami ataupun pernah melakukan hal yang namanya berbohong. Dimana sering kita dengar bahkan di era modern saat ini, semua orang dengan mudah mendapatkan informasi secara cepat melalui media internet. Ada orang rela sampai mengorbankan nyawa hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Mereka tak perduli apapun besarnya resiko yang bakal diterima. Yang ada hanyalah keinginan mencapai apa yang diharapkannya itu.

Berbohong memang ini sudah menjadi tabiat dari individu orang. Hanya dengan lisannya dapat mengelabui orang lain sehingga mudah termakan omongannya. Bahkan orang yang tidak kita kenal pun sebegitu mudahnya kita mempercayainya hanya dengan satu lisan saja.

Untuk menutupi sebuah kebohongan, kita perlu membuat kebohongan-kebohongan yang baru dan begitulah seterusnya dan ini akan sangat melelahkan dan menguras energi dan pikiran. Lagian sampai kapan kita bisa menutupi setiap kebohongan yang kita lakukan, suatu saat pasti akan terbongkar juga. Sebenarnya cara seperti ini bukanlah jalan terbaik untuk keluar dari sebuah masalah yang ada, justru malah hanya akan memperburuk keadaan saja....
Coba perhatikan kalau kita telah melakukan sebuah kebohangan yang ada, pasti kita akan merasa takut kalau kebongan kita itu akan terbongkar. Dan ini akan menciptakan kecemasan dan  kegelisahan yang memicu kepanikan...

Terkadang apa yang kita dapatkan dari sebuah kebohongan yang telah kita lakukan, tidak sebanding dengan kecemasan dan kegelisahan serta rasa panik yang di alami. Seharusnya kita berpikir berkali-kali lipat sebelum melakukan sebuah kebohangan...
Ya, kalau kita menyadari konsekuensi dari sebuah kebohongan, saya yakin tak ada satu orang pun yang akan melakukannya, kecuali kita melakukan sebuah kebohangan untuk sebuah tujuan yang mulia di belakangnya, dan ini kita mungkin bisa menghilangkan rasa bersalah dari kebohongan yang telah di lakukan. Sebab kita melakukan kebohongan dengan penuh kesadaran...

Kalau seandainya kita telah terlanjur melakukan sebuah kebohangan,? Jalan keluar yang paling baik adalah dengan mengakuinya dan meminta maaf atau memohon ampun pada Sang Khaliq. Tapi, mungkin dengan melakukan ini tidak cukup untuk mengembalikan kepercayaan orang yang kita bohongi. Tapi setidaknya kita telah mengurangi beban batin dalam diri. Kita tak perlu menciptakan kebohongan-kebohongan baru lagi untuk menutupi segala kebohongan-kebohongan kita yang ada. Karena yang pasti ini cukup melelahkan, bukan....?

Untuk mengembalikan kepercayaan orang yang telah kita bohongi mungkin perlu waktu dan pembuktian diri kalau kita sudah berubah dengan melakukan perbaikan diri secara terus menerus...
Saya yakin kita semua pernah melakukan sebuah kebohongan dan mengalami kegelisahan dan rasa panik dari kebohongan yang kita ciptakan sendiri. Dan saya yakin tak ada dari kita yang menginginkan kegelisan dan kepanikan yang cukup menyiksa diri kita.... 
Seharusnya kita bisa belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari...

Semoga bermanfaat....