Kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Baik itu dalam lingkungan sosial bermasyarakat, bertetangga ataupun dalam dunia kerja. Namun sayangnya di tengah kehidupan ini, banyak orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Artinya dalam hidup ini ada saja permasalahan yang akan kita hadapi, baik itu senang maupun duka. Hal ini menurut orang banyak adalah suatu hal yang lumrah dalam perjalanan hidup. Ada hal yang menarik dalam perjalanan hidup ini yang mungkin anda sendiri pernah mengalami ataupun pernah melakukan hal yang namanya berbohong. Dimana sering kita dengar bahkan di era modern saat ini, semua orang dengan mudah mendapatkan informasi secara cepat melalui media internet. Ada orang rela sampai mengorbankan nyawa hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Mereka tak perduli apapun besarnya resiko yang bakal diterima. Yang ada hanyalah keinginan mencapai apa yang diharapkannya itu.

Berbohong memang ini sudah menjadi tabiat dari individu orang. Hanya dengan lisannya dapat mengelabui orang lain sehingga mudah termakan omongannya. Bahkan orang yang tidak kita kenal pun sebegitu mudahnya kita mempercayainya hanya dengan satu lisan saja.

Untuk menutupi sebuah kebohongan, kita perlu membuat kebohongan-kebohongan yang baru dan begitulah seterusnya dan ini akan sangat melelahkan dan menguras energi dan pikiran. Lagian sampai kapan kita bisa menutupi setiap kebohongan yang kita lakukan, suatu saat pasti akan terbongkar juga. Sebenarnya cara seperti ini bukanlah jalan terbaik untuk keluar dari sebuah masalah yang ada, justru malah hanya akan memperburuk keadaan saja....
Coba perhatikan kalau kita telah melakukan sebuah kebohangan yang ada, pasti kita akan merasa takut kalau kebongan kita itu akan terbongkar. Dan ini akan menciptakan kecemasan dan  kegelisahan yang memicu kepanikan...

Terkadang apa yang kita dapatkan dari sebuah kebohongan yang telah kita lakukan, tidak sebanding dengan kecemasan dan kegelisahan serta rasa panik yang di alami. Seharusnya kita berpikir berkali-kali lipat sebelum melakukan sebuah kebohangan...
Ya, kalau kita menyadari konsekuensi dari sebuah kebohongan, saya yakin tak ada satu orang pun yang akan melakukannya, kecuali kita melakukan sebuah kebohangan untuk sebuah tujuan yang mulia di belakangnya, dan ini kita mungkin bisa menghilangkan rasa bersalah dari kebohongan yang telah di lakukan. Sebab kita melakukan kebohongan dengan penuh kesadaran...

Kalau seandainya kita telah terlanjur melakukan sebuah kebohangan,? Jalan keluar yang paling baik adalah dengan mengakuinya dan meminta maaf atau memohon ampun pada Sang Khaliq. Tapi, mungkin dengan melakukan ini tidak cukup untuk mengembalikan kepercayaan orang yang kita bohongi. Tapi setidaknya kita telah mengurangi beban batin dalam diri. Kita tak perlu menciptakan kebohongan-kebohongan baru lagi untuk menutupi segala kebohongan-kebohongan kita yang ada. Karena yang pasti ini cukup melelahkan, bukan....?

Untuk mengembalikan kepercayaan orang yang telah kita bohongi mungkin perlu waktu dan pembuktian diri kalau kita sudah berubah dengan melakukan perbaikan diri secara terus menerus...
Saya yakin kita semua pernah melakukan sebuah kebohongan dan mengalami kegelisahan dan rasa panik dari kebohongan yang kita ciptakan sendiri. Dan saya yakin tak ada dari kita yang menginginkan kegelisan dan kepanikan yang cukup menyiksa diri kita.... 
Seharusnya kita bisa belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari...

Semoga bermanfaat....



Mungkin sebagian diantara anda yang membaca artikel ini adalah pengguna media sosial, dan bahkan pengguna media soaial aktif. Media sosial itu seperti pisau bermata dua. Pisau itu bisa digunakan untuk memotong bawang, memotong sayur, memotong buah dan lain sebagainya. Tapi kalau tidak hati-hati, pisau itu justru bisa melukai kita. Begitu juga dengan media sosial. Media sosial bisa kita pakai untuk ajang silaturahmi, personal branding untuk jualan dan sebagainya. Tetapi kalau tidak hati-hati, media sosial ini justru bisa menjerumuskan kita ke hal-hal yang kita tidak inginkan. Contohnya, banyak sekali orang-orang menyebarkan informasi-informasi fake, dengan media sosial dulunya dia sangat di sukai tapi dengan media sosialnya yang mungkin terlalu lebay, terlalu pamer dan terlalu sebagainya sehingga mungkin sekarang ini dia di benci karena media sosial dia sendiri. Bahkan tidak jarang kita dengar banyak orang-orang gara-gara postingannya di media sosial bisa berakhir di bui atau di penjara.

Nah,.. Itulah artinya bahwa kita ini harus menggunakan media sosial dengan baik dan bijak. Orang-orang cerdas itu tahu memisahkan mana yang harus di posting dan mana yang tidak harus di posting. Karena sebelum memosting dia berpikir dulu baru posting. Tetapi kebanyakan orang, posting dulu baru pikir. Postingan kita, kata-kata yang kita posting di media sosial sebenarnya itulah cerminan diri kita sebenarnya. Makanya banyak sekali quote yang mengatakan "Bijaklah bermedia soaial".

Nah,.. Pada kesempatan kali ini penulis akan berbagi membahas mengenai hal yang tidak akan di umbar oleh orang-orang cerdas di media sosial. 

Yang pertama adalah Jangan Mengumbar Masalah Keluarga.

Orang-orang cerdas tidak akan mengumbar masalah keluarga mereka di media sosial, Kenapa? Karena mereka tahu dengan mengumbar masalah mereka di media sosial terus menerus, mereka akan kelihatan tidak profesional. Kenapa tidak profesional? Karena di media sosial itu bukan cuma orang-orang yang kita kenal saja yang ada disitu, tapi justru banyak orang-orang yang kita tidak tahu, dan mereka melihat kita hanya dari postingan. Orang-orang cerdas tidak akan posting masalah-masalah keluarganya di media sosial, karena mereka tahu bahwa itu nanti malah dapat merusak reputasi mereka di mata teman-teman lain mereka. 
Terus ada yang bilang, "Loh, itukan media sosial saya,. Suka-suka saya dong mau posting ini kek, mau posting itu kek, kalau kamu tidak suka ya jangan lihat. Apa urusanmu dengan media sosial saya, gitu". Ya, nggak apa-apa sih, kalau anda menganggap itu bukan urusan orang-orang. Tapi, ada satu hal yang harus anda ingat,.! Bukan urusan anda juga apabila ada orang yang menilai negatif tentang diri anda dari semua apa yang anda posting di media sosial,. ya itu bukan urusan anda juga.

Yang paling sering dan sekarang yang kita lihat di media sosial terutama di Tik Tok, banyak sekali istri yang posting tentang kekurangan suaminya di media sosial. Dia posting mengenai kekurangan suaminya di Tik Tok. Begitu juga suami posting mengenai kekurangan istri di Tik Tok. Saya tidak tahu apa maksud mereka untuk posting seperti itu. Tapi ujung-ujungnya, apa yang mereka posting itu dosa,. Kenapa?
Yang pertama Kalau itu memang benar postingannya atau jujur postingannya,? mereka sudah dosa. Menyebarkan aib orang lain dan menyebarkan kelemahan orang lain saja tidak boleh, apalagi menyebarkan kelemahan suami atau istri sendiri, atau bapak sendiri, atau adik sendiri atau keluarga sendiri.

Yang Kedua Kalaupun itu hanya demi  kepentingan konten,? yang banyak sekali orang bersandiwara demi kepentingan konten, itupun tidak boleh,. Kenapa? Karena ujung-ujungnya anda berbohong. Anda menelanjangi orang-orang terdekat anda hanya demi kepentingan konten. Sekarang ini banyak sekali orang demi konten mau melakukan hal apapun demi terkenal, demi viral mereka mau melakukan apapun. Yang mereka pikir adalah bagaimana dirinya terkenal dulu, bagaimana dia viral dulu. Urusan apapun yang terjadi dengan dirinya, mau tanggapan orang tentang dia negatif ataupun positif yang penting bisa terkenal dulu.

Penulis percaya orang-orang cerdas tidak akan melakukan itu. Karena orang-orang cerdas pasti berpikir berkali-kali lipat untuk membuat sebuah konten. Lagian kalau kita posting masalah keluarga kita di media sosial, itu sama saja menelanjangi diri kita sendiri. Orang cerdas sangat tahu fungsi suami istri itu di media sosial seperti apa. Jadi, orang cerdas sangat tahu mengenai hal-hal seperti itu dan dia akan berpikir berkali-kali lipat, sebete apapun dia tidak akan pernah membiarkan orang lain memandang miring tentang keluarganya itu, dengan postingan-postingan masalah keluarga dia di media sosial. Jadi Please cerdas dan bijaklah untuk posting masalah-masalah keluarga anda di media sosial.

Yang Kedua,. Jangan Umbar Masalah Percintaan

Banyak sekali anak muda yang di mabuk asmara, storinya isinya tentang pacar melulu. Bahkan dikolom komentar orang lain mereka saling posting satu sama lain tanpa peduli itu postingan siapa. Status-statusnya karena lagi jatuh cinta itu alay banget,. mereka pikir orang peduli tentang itu, padahal orang tidak perduli sama sekali.
Kalau sekali dua kali itu tidak masalah. Tapi kalau sampe harus terus menerus, ya orang jengah juga lihatnya. Emangnya orang kagum,.? Tidak, bos ku. Justru orang tidak perduli. 

Media sosial itu sebenarnya bisa memberi impact tentang branding kita kepada orang lain. Tapi kalau media sosial kita itu di penuhi dengan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi orang lain, lama-lama orang akan jengah juga melihat media sosial kita seperti itu. Impactnya nanti pada saat anda posting hal-hal bermanfaat atau anda posting hal-hal yang berguna bagi orang lain? itu sudah tidak memberi dampak sama sekali bagi orang lain. Coba anda lihat orang-orang keren kalau bila mereka posting dengan pasangan mereka di media sosial? Mereka posting lagi berdua tapi di barengi dengan caption yang mengedukasi, menghibur dan sebagainya. Kuncinya sebenarnya boleh posting tentang pasangan kita, tapi jangan di umbar terus menerus. Karena walaupun itu media sosialmu tapi ada orang lain juga yang lihat. Cinta yang dewasa itu tidak perlu di publikasikan. Pada saat mereka mempublikasikan, mereka mempublikasikan undangan nikah untuk disebar luaskan. Itu lebih keren...!

Yang Ketiga,. Jangan Mengumbar Tentang Rencana Besar Anda

Mengapa demikian,..? Karena itu masih rencana. Ibarat ada lima ekor burung di atas pohon, dan ada tiga ekor burung merencanakan untuk terbang. Pertanyaannya adalah berapa ekor burung diatas pohon tersebut? Jawabannya, masih lima,. Kenapa? Yang tiga ekor burung itu baru merencanakan untuk terbang. Artinya, kalau masih rencana, di Keep dulu. Misalnya rencana anda akan menikah tahun depan, lalu anda sudah posting dari sekarang "Doakan kami, kami akan menikah tahun depan". Parahnya.kalau Tuhan tidak menjodohkan kalian? Akhirnya kalian bubar? 'Kan repot,.? Lagian media sosial itu isinya bukan cuma orang yang satu visi dengan kita. Banyak sekali orang yang bergabung dengan media sosial kita itu hanya ingin lihat kita, hanya ingin kepo dan mereka tidak perduli. 

Oleh karena itu kalau masih berupa rencana, kita usahakan rencana itu berhasil dulu. Setelah berhasil kemudian silahkan posting ke media sosial. Buktikan bahwa Inilah hasil dari rencana yang sudah anda recanakan dari dua tahun yang lalu atau dari tiga tahun yang lalu. Karena Itu lebih cerdas daripada hanya posting rencana dan wacana yang belum jelas keberhasilannya.

Yang Keempat adalah,. Jangan Umbar Harta Anda di media sosial. 

Point ini memang akan terbuka ruang diskusi. Karena ini akan jadi pro dan kontra. Memang di satu sisi, pamer tentang kemewahan di media sosial itu adalah salah satu yang dampaknya sangat negatif. Yang penting niatnya kita harus luruskan dulu,. Kita itu bertujuan mau pamer atau memotivasi atau mengedukasi. Karena semuanya tergantung dari niat. Kita kerucutkan pada orang yang memang hanya sering ingin pamer di media sosial. Dampaknya apa?
Yang pertama adalah nanti akan banyak prasangka buruk yang terjadi dengan diri anda. Karena orang cuma melihat dari satu status di media sosial. Walaupun anda orang baik, tapi orang lihat dari media sosial anda.
Yang kedua, kalau anda sudah sekali pamer, nanti anda cenderung akan terobsesi untuk pamer-pamer terus.
Yang ketiga, kalau menurut saya? Orang yang hanya pamer di media sosial itu sebenarnya orang yang tidak diakui dan butuh pengakuan. Orang-orang cerdas tidak butuh dengan pengakuan. Karena orang-orang cerdas itu bukan mengakui diri mereka, tapi mereka di akui oleh orang lain.
Yang keempat,. Kalau anda sering posting mengenai harta di media sosial, nanti anda akan cenderung boros,. Anda sudah tidak bisa membedakan mana kebutuhan yang butuh, dan mana yang hanya sekedar ingin. Pada akhirnya seperti ini,. 

Kalau kita melihat media sosial dengan berbagai macam netizennya, Ada yang setuju, ada yang tidak setuju. Ada yang suka, dan ada yang tak suka. Dan orang-orang cerdas selalu berdiskusi dengan akal, bukan dengan emosi. Mau anda posting kebaikan, tetap saja yang nyingir. Mau anda posting pamer dan segala macam tetap saja ada yang suka, ada yang tidak suka. Tapi semuanya dikembalikan ke kita. Karena kita hidup di dunia ini, kita menjadi cerdas supaya bisa bermanfaat bagi orang lain.
Orang-orang cerdas selalu memanfaatkan media sosialnya dengan bijak. Sebelum posting, orang-orang cerdas itu selalu memikirkan manfaat apa yang bisa di dapat orang lain dari postingan dia, dan juga sebelum posting, orang-orang cerdas ini tahu dan bisa menempatkan mana yang lebih banyak mudharatnya apabila di posting dan mana yang lebih banyak manfaatnya untuk di posting.
Bijaklah bermedia sosial, karena bijak ciri-ciri orang yang cerdas.

Semoga bermanfaat,...



Ada sebuah cerita, dimana ada seorang pemuda datang ke tukang cukur untuk memotong rambut dan jenggotnya yang sudah sangat panjang. Setelah mendapat giliran,? pemuda itupun mulai pembicaraan hangat dengan si tukang cukur tersebut yang melayaninya. Berbagai macam topik menjadi pilihan pembahasan mereka, hingga akhirnya Tuhan yang menjadi objek pembicaraan mereka.

Sampai pada suatu ketika, si tukang cukur berkata "Hai anak muda, Saya itu tidak percaya kalau Tuhan itu ada seperti yang anda katakan barusan". Kata si tukang cukur. Mendengar ungkapan tersebut sang pemuda terkejut dan berkata "Mengapa anda menyimpulkan dan berkata demikian". Maka jawab si tukang cukur dengan nada tinggi "Iya lah, jika benar-benar Tuhan itu ada mengapa begitu banyak orang yang sakit dan mengapa begitu banyak anak-anak terlantar yang ada diluar sana. Jika Tuhan itu ada, maka tidak ada orang yang sakit dan menderita. Tuhan apa yang mengizinkan semua itu bisa terjadi".

Karena tidak ingin menimbulkan perdebatan, si pemuda itupun hanya mendengarkan si tukang cukur bicara dan dia tidak memberikan respon ataupun argumen sama sekali, karena takutnya argumen itu meluas kemana-mana. Setelah selesai mencukur, si pemuda itu keluar dari barber shoop itu dan tiba-tiba di depan jalan ia berpas-pasan dengan seorang laki-laki berambut panjang dan jenggotnya sangat lebat. Dalam hatinya berkata sepertinya orang ini sudah lama tidak pergi ke tukang cukur sehingga membuat dia terlihat sangat berantakan.

Sempat berpikir sejenak dan akhirnya si pemuda tadi kembali masuk ke tempat si tukang cukur tadi dan berkata kepada si tukang cukur "Ternyata di dunia ini tidak ada yang namanya tukang cukur dan saya tidak mempercayai keberadaannya".  Otomatis si tukang cukur terkejut dan berkata "Bagaimana mungkin mereka tidak ada anak muda? Buktinya adalah saya. Saya ada disini dan saya baru habis mencukur rambutmu anak muda". Anak muda itu kembali menjawab "Kalau mereka ada, tidak mungkin ada orang berambut panjang dan berjenggot lebat seperti yang ada diluar sana". Ujar si pemuda tegas dan jelas. Maka jawab si tukang cukur "Ahh, Anda bisa saja anak muda. Tukang cukur itu selalu ada dimana-mana dan diberbagai macam tempat". Yang terjadi adalah bapak yang rambutnya berantakan itu, tidak datang ke tukang cukur. Andai kata ia datang ke tukang cukur, maka rambutnya pasti rapi".

Anak muda itu tersenyum dan berkata, "Tepat sekali. Itulah point jawabannya. Sebenarnya Tuhan itu ada. Yang terjadi adalah umat manusia tidak datang kepada-Nya mendekat dan mencarinya. Itulah sebabnya mengapa tampak begitu banyak penderitaan diseluruh dunia ini". Jawab si pemuda dengan mantap.

Nah,. Sahabat sekalian..! Kadang dalam hidup kita ini, terlalu gampang cepat mengambil kesimpulan terhadap sesuatu yang tidak kita pikirkan secara mendalam. Jika di ibaratkan tukang cukur itu mewakili kita juga, yang disaat menderita dan kesusahan, kita mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil. Bahkan disaat tertentu kita mengatakan bahwa Tuhan itu tidak bersama kita. Sementara sesungguhnya kita saja yang tidak mendekat kepada Tuhan.
Tuhan itu ada, bahkan Tuhan sangat dekat dengan kita. Kenapa hidup kita berantakan,? Mungkin kita saja belum datang kepada-Nya.

Semoga bermanfaat...

Ketemu lagi kita dan kali ini kita akan membahas mengenai "Nggak Narsis Nggak Eksis".

Dalam kehidupan aktual yang sering kita jumpai dilingkungan masyarakat pada umumnya, dimana bila kebutuhan fisik mereka telah terpenuhi, maka kebutuhan selanjutnya adalah bagaimana mereka bisa menjaga dan mempertahankan keamanan dan kenyamanan yang terpenuhi itu. Bila faktor keamanan mereka sudah terpenuhi maka tahap selanjutnya adalah kebutuhan secara sosialisasi, yaitu kebutuhan ingin mencari pertemanan dengan bersosialisasi di rumah atau di tetangga ataupun di tempat kerja. Sebab memang manusia itu adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Setelah kebutuhan sosialisasi sudah terpenuhi, maka tingkat selanjutnya adalah kebutuhan eksistensi,. Yaitu kebutuhan untuk merasa diterima dilingkungan sosial tersebut. Sebab kalau hanya sebatas bersosialisasi saja, itu ternyata tidak cukup. Karena ada keinginan di akui keberadaannya. Dan tingkat paling terakhir adalah kebutuhan merasa dibutuhkan atau dengan kata lain kebutuhan aktualisasi.

Aktualisasi ini adalah puncak dari segala macam kebutuhan. Tapi setelah mereka melampaui semua kebutuhan-kebutuhan mereka sebelumnya, yaitu mereka sudah tidak pusing-pusing lagi mencari uang, karena uanglah yang justru mengejar-ngejar mereka. Harta mereka pun masih bisa cukup memenuhi buat dua, tiga generasi pun tidak akan habis. Mereka juga sudah terkenal, sudah eksis, sudah populis. Itulah sebabnya mereka butuh kegiatan-kegiatan amal dan mereka siap untuk menggelontorkan apapun yang mereka punya sebagai wujud aktualisasi. Karena dengan cara seperti itu mereka akan merasa dibutuhkan. Semakin mereka dibutuhkan, maka semakin puaslah mereka.

Namun pada kenyataannya banyak orang-orang yang selalu melompati tingkatan-tingkatan seperti yang dijelaskan diatas tadi,. Mereka langsung melompati kepuncak, maka hasilnya dia terpeleset dan jatuh. Orang-orang yang selalu melompati tingkatan-tingkatan ini memegang prinsip Nggak Narsis Nggak Eksis, biar tekor asal ke sohor, kereh tapi keren. Akibatnya mereka akan berlomba-lomba diakui, ingin dihargai, ingin dihormati tapi modalnya sama sekali tidak cukup.

Nah, gejala-gejala inilah yang bukan cuma terjadi kepada satu kalangan saja tapi semua kalangan, baik itu orang kota, orang pedesaan, mau pelajar, mahasiswa bahkan sampai kalangan pengusaha. Ada pelajar yang mukanya hancur, ekonominya amburadul, otaknya mandul tapi dia ingin sekali eksis. Maka solusinya adalah dia menjadi seorang jagoan sampai membully orang, bahkan tawuran adalah makanan hari-harinya. Maka makin ditakuti dia, dia makin merasa makin eksis. Jadi jangan heran kalau tawuran itu menjadi makanan hari-hari di berita kita. Begitu pula dengan remaja-remaja putri,,! Banyak sekali mereka yang bukan dari kalangan berduit namun ingin terlihat bonafit. Dimana mereka menganggap gaya hidup adalah segala-galanya. Yang terjadi adalah penampilan dan gaya yang dipaksakan, entah duitnya berasal darimana,. Bisa dari ngutang, bisa dari menipu, bisa dari minjam, dan bisa jadi sampai jual diri.

Bagaimana dengan kalangan menengah? Penggunaan kartu kredit yang sampai overlimit, supaya bisa traktir teman, supaya dibilang hebat. Pakaian yang digunakannya pun pakaian bermerek, belanja kanan kiri, tapi mereka tidak sadar bahwa gaji itu ada limitnya. Akhirnya karena ingin terlihat eksis seperti itu, ya siap-siap saja selalu di kejar-kejar oleh debt collector.

Untuk kalangan masyarakat desa pun, itu tidak mau kalah eksis,.! Mereka siap kehilangan ternak, kehilangan sawah untuk supaya mengadakan hajatan sampai dua hari dua malam. Padahal untuk makan sehari-hari saja mereka susah. Mereka lebih memilih namanya kesohor walaupun harus tekor. Zaman sekarang semua mata tertuju pada media sosial. Kalau tidak tahan, Bukan cuma mata yang sakit, bahkan pikiran pun bisa jadi sakit. Ibarat mendaki gunung, mereka lebih memilih lereng yang curam untuk segera mencapai puncak. Padahal jalan seperti itu sangatlah sulit ditempuh. Alih-alih kita bisa sampai kepuncak, kita malah bahkan justru terpeleset dan jatuh. Akhirnya untuk bangkit lagi, ya butuh energi yang besar sekali. Sebaliknya, bila kita menyadari bahwa modal kita tidak cukup, maka pilihlah jalan yang memang betul-betul landai dan aman. Kita jangan sampai terintimidasi dengan orang lain. Jadi kalau saya berpikir jalani fase mu secara bertahap. Kebutuhan-kebutuhanmu jalani untuk secara bertahap. Kalau anda sudah memenuhi semua kebutuhanmu secara bertahap,.? Anda eksis menjadi populis, itu tidak akan menjadi masalah,. tapi dengan syarat semua kebutuhan-kebutuhan anda sebelumnya sudah terpenuhi dulu.

Jadi, mulai sekarang bijaklah untuk memenuhi kebutuhan hidup anda. Sebab bila tidak, bersiaplah untuk jatuh dan terpeleset.

Semoga bermanfaat,..

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bruce Lee mengatakan, "Saya lebih takut kepada orang yang melatih satu jurus seribu kali, daripada orang yang melatih seribu jurus satu kali".
Dari quote itu sudah kelihatan, kalau sesuatu yang kita lakukan secara fokus dan secara konsisten? Maka sesuatu tersebut akan menjadi sebuah hal yang dapat membuat hidup kita bisa berubah.
Banyak sekali orang-orang cerdas, orang-orang pintar bahkan di indonesia pun ada banyak orang-orang cerdas dan pintar, Pendidikan mereka tinggi. Belajar berbagai macam hal apapun mereka bisa. Tapi kenapa mereka belum meraih impiannya sampai sekarang? Jawabannya adalah karena dengan mereka merasa bisa melakukan semua hal, akhirnya semua mereka kerjakan. Pada saat semua mereka kerjakan akhirnya tidak ada yang maksimal. Apa yang mereka lupa? "FOKUS". Ya,.Fokus. Fokus ini sangat penting bagi kita dalam meraih impian.

Jika kita punya impian besar,.! Tapi kalau kita tidak fokus,.? Maka kita tidak jadi apa-apa. 
Kita punya modal yang besar, tapi kalau kita tidak fokus,.? Kita tidak menghasilkan apa-apa. 
Kita pintar, kita cerdas, tapi kalau kita tidak fokus,.? Kita akan jalan disitu-situ saja.

Lalu, Bagaimana caranya supaya kita bisa menjaga supaya kita tetap fokus,.? Ada 4 cara, yakni:




Cara pertama ialah jangan suka bandingkan diri kita dengan orang lain. Apalagi sekarang, dengan media sosial yang semua orang bisa akses. Media sosial menurut beberapa penelitian, itu justru bisa bikin strees atau bisa memperdalam rasa iri orang terhadap orang lain.
Gara-gara media sosial kita sering mengutuk diri sendiri dan memuja orang lain.
Gara-gara media sosial kita mengutuk istri sendiri dan memuji istri orang lain.
Gara-gara media sosial kita melihat kayaknya suami orang ini lebih bagus daripada suami sendiri.
Padahal satu postingan di media sosial, itu tidak bisa dibandingkan dengan 24 jam mu. Kita tidak mulai dari situasi yang sama. Kita tidak mulai dari satu titik yang sama.

Ada orang yang sudah memulai dengan dia punya modal yang besar. Akhirnya, waktu dia bikin usaha atau bisnis, dia gampang sekali untuk mendapatkan keuntungan. Sedangkan anda, kuota internet saja tidak punya, terus anda mau bandingkan dengan dia..? Sungguh tidak adil.
Ada orang yang bapaknya memang sudah kaya dari dulu, ada orang yang bapaknya biasa-biasa saja, terus kita mau bandingkan? "Tidak masuk akal,.."Tidak masuk akal,".

Syarat utama kalau anda mau fokus,. yang pertama adalah, "Jangan sering bandingkan diri anda dengan orang lain, terutama di media sosial. Lalu, apa yang harus kita bandingkan di media sosial. Anda bandingkan proses orang itu dengan proses Anda. Itu yang bisa dijadikan acuan agar kita bisa semangat.
Melihat media sosial orang lain yang sudah sukses, itu boleh-boleh saja. Tapi kita jangan sampai minder. Tertantang, Boleh. Tapi tidak boleh terintimidasi.

Yang kedua adalah Anda harus melakukan hal yang tepat setiap saat.
Ada sebuah cerita menarik , "Ada seorang anak muda mempunyai mobil. Lalu kunci mobilnya hilang. Dia carilah dihalaman rumah. Dia cari dihalaman rumah 1 jam, 2 jam dicari tidak ketemu. Lalu, ada orang yang lihat. Orang itu bertanya pada anak muda itu, "Lagi cari apa anak muda"? "Lagi cari kunci mobil". Sahut anak muda itu. Memangnya kunci itu hilangnya dimana? Anak muda itu jawab, "Hilangnya didalam rumah. Kagetlah orang itu. Terus dia berkata, "Loh, kok carinya diluar rumah".? Anak muda itu jawab,. "Iya soalnya didalam rumah gelap, diluar terang".

Maksudnya banyak orang sudah bekerja tapi bekerjanya itu menangkap angin mengejar bayangan. Dia tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Kelihatan bekerja, kelihatan sibuk tapi tidak fokus. Yang harusnya dia jalan ke utara, dia bekerja keras, dia jalan terus, akhirnya dia sampai ke selatan. Dia tidak fokus pada satu jalan yang ditempuh.

Menurut buku Outliers karangan Malcolm Gladwell ada hukum sepuluh ribu jam. Hukum sepuluh ribu jam itu, yang akan membuat anda menjadi ahli. Orang kalau sudah jadi ahli, dia akan dibayar mahal. Kenapa dia bisa jadi ahli? Karena adanya hukum sepuluh ribu jam tadi. Kalau kita melakukan sesuatu secara terus merus, maka kita akan jadi ahli. Nah pertanyaannya adalah dalam satu hari itu, berapa kali anda melakukan hal untuk impian anda itu. Anda harus fokus pada satu bidang, dan anda bisa jadi ahli.
Nah, kalau anda hanya punya impian saja tapi anda tidak fokus untuk mengerjakan itu, sama aja seperti pemuda tadi yang mencari kunci tapi pengen mudanya dia cari di tempat terang. Padahal kunci itu hilang didalam rumah. Dia tidak mau untuk keluar dari comfort zonenya untuk supaya gelap-gelapan cari kunci. Padahal disitulah kuncinya. Tapi kenapa harus dia cari diluar,. karena dia menganggap diluar rumah terang. Jadi, lakukanlah hal yang tepat setiap saat.

Yang ketiga bertanggungjawablah terhadap apa yang sudah kamu rencanakan atau impikan. "Great power come from the great responsibility". Kekuatan yang besar lahir dari tanggungjawab yang besar.
Setelah kamu memutuskan untuk "Bismillah" Saya akan mencapai impian-impian saya menjadi seorang musisi ternama, maka Fokus disitu. Bertanggungjawablah dengan itu. Tidak perlu lagi orang kasih tahu. Kalau anda punya impian besar tapi memilih untuk menjadi pemalas, maka itu adalah cara yang indah untuk menjadi gila. "Gila anda, Pak". Anda masih malas, sholatmu nggak bagus, sedekahmu kurang. Jadi tidak ada tanggungjawab terhadap apa yang kamu impikan. Secara hablumminanasnya anda tidak kuat, hablumminallahnya juga tidak kuat. Padahal kalau dua-dua ini kuat, itu adalah bentuk tanggungjawab. Sekali lagi, "Great power come from the great responsibility", Kekuatan yang besar lahir dari tanggungjawab yang besar.

Yang keempat Jangan mudah tertipu dengan peluang. Yang namanya peluang, yang namanya proposal usaha di awal pasti indah, diawal pasti bagus. Anda ditawarin ini dan itu,. Lalu apa kata dia,.."Oh ini pasti menguntungkan, pasti menguntungkan. Padahal ekspektasi pasti tidak sesuai dengan realita. Sesungguhnya tidak ada jalan pintas untuk menuju sukses. Ada yang bilang "Oh ini selama dua bulan, tiga bulan anda akan bisa begini, ini hhhmmm... Nonsen dengan seperti itu,. Semua butuh kerja keras. Semua butuh pengorbanan. Jadi jangan tertipu. Contoh misalnya anda ingin punya sumur dan anda gali tanah untuk mendapatkan mata air. Tetangga-tetangga anda juga ikut menggali mata air di tempat-tempat yang berbeda-beda. Kira-kira satu meter, dua meter anda gali, tiba-tiba anda dengar dari sana tetangga anda bilang "Saya sudah dapat mata air". Lalu Anda berpikir seperti ini, "Ahh, kayaknya disana lebih banyak mata airnya". Akhirnya, yang sudah di gali anda tinggalkan, anda pindah kesana. Anda gali lagi dari awal lubang yang baru disana. Setelah anda gali lubang baru, anda lihat disudut sana ada lagi tetangga anda yang teriak dapat mata air, anda pindah lagi kesana. Anda "Tidak fokus". Padahal kalau anda fokus, mau ada batu, singkirkan batunya,.. Fokus disitu terus. Siapa tahu air itu hanya tinggal setengah meter. atau tinggal sekali di cangkul. Cuma karena anda tergoda melihat peluang orang lain, akhirnya anda berpikir "Ohh kayaknya bidang ini yang cocok, Ohh kayaknya bidang ini yang tidak cocok. Bukan masalah bidangnya yang cocok,. tapi orangnya yang cocok atau tidak. Bukan dimana ladangnya, tapi siapa petaninya.

Itu tadi keempat bagaimana caranya supaya bisa tetap fokus. Semoga ini bisa membuat anda mampu menentukan suatu pilihan dan fokus satu pilihan itu dan menjadi ahli dalam bidang tersebut.
Terima kasih,. sukses buat kita semuanya,..
Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 


Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan kita mengenal dua istilah, yaitu orang kaya dan orang miskin. Kaya dan miskin ini adalah dua taraf hidup yang menentukan status seseorang. Orang yang dikenal dengan si kaya, itu pasti hidupnya berkelimpahan, apapun dia mau pasti ada, materinya banyak. Sedangkan si miskin adalah orang yang selalu serba kekurangan. Untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari saja dia sangat begitu kesulitan.
Nah, dari dua taraf hidup tadi, kalau kita di kasih pilihan,.? Kita ingin hidup yang mana, nih? Kita ingin hidup sebagai orang kaya, atau kita ingin hidup sebagai orang miskin? Otomatis 99% orang akan memilih untuk hidup berkelimpahan atau ingin hidup menjadi orang kaya. Karena hidup menjadi orang kaya itu, kita tidak perlu capek-capek untuk berpikir kita mau makan apa hari ini, besok juga mau makan apa, semuanya sudah tersedia. Orang kaya itu bergelimangan harta, apapun dia mau pasti ada.

Berbicara mengenai antara si kaya dan si miskin kadang kita langsung ngeblok pikiran kita dan dia berkata, "Nggak apa-apa miskin yang penting bahagia". Hhhhmmm.... Memang betul biar miskin yang penting bahagia. Tapi persoalannya adalah orang kaya banyak juga yang bahagia, bukan...?
Orang miskin juga ada yang bahagia,. bukan?
Orang kaya ada juga yang tidak bahagia,. bukan?
Orang miskin ada tidak, yang tidak bahagia...? Ada...
Kalau di kasih pilihan, kita mau memilih yang mana..? Otomatis kita pasti memilih untuk menjadi orang yang kaya. Jadi semua itu, sama saja...!
Kalau anda tanya sama saya, saya harus pilih yang mana? Ya, saya pasti pilih yang perfect dong..? Saya akan memilih orang kaya yang bahagia,. Semua kita pasti akan memilih seperti itu, bukan? Hhhhmmm

Nah, kita jangan ngeblok pikiran kita kalau ada orang yang bicara antara kaya dan miskin. Kita jangan menutup diri. Harusnya kita belajar dong, bagaimana caranya untuk menjadi orang yang kaya. Kita harus cari tau, kenapa orang itu bisa kaya. Nah, itu yang akan kita bahas hari ini.

Perbedaan mendasar yang pertama antara orang kaya dan orang miskin adalah, orang kaya menciptakan peluang, sedangkan orang miskin itu menunggu peluang. Orang-orang kaya ini yakin dengan bekerja keras dan terus belajar mereka akan bisa merubah nasib. Mereka akan bisa menaikan taraf hidup mereka. Mereka sangat percaya itu. Mereka itu selalu memaksa diri mereka untuk keluar dari zona nyaman mereka. Mereka itu memaksa diri mereka untuk bekerja keras terus menerus, untuk belajar terus menerus supaya apa,.? Supaya mereka bisa menciptakan keberuntungan. Karena keberuntungan itu adalah bertemunya antara kesempatan dengan kesiapan.
Banyak sekali orang-orang yang sudah siap, tapi tidak punya kesempatan. Dan banyak juga orang-orang yang sudah punya kesempatan tapi tidak siap. Dan mereka sangat percaya keberuntungan itu akan datang apabila mereka sudah siap. Jadi mereka terus mempersiapkan diri mereka untuk menciptakan keberuntungan itu.

Sedangkan orang-orang dengan pemikiran miskin,.? Dia hanya menunggu nasib. Menunggu keberuntungan itu datang. Dia tidak mencoba untuk memperbaiki diri dia,. Stagnan disitu-situ saja. Mereka itu tidak berani untuk mencoba hal-hal yang baru. Mereka itu hidup dalam zona nyaman, zona yang dia merasa nyaman disitu, apabila ada sesuatu yang asing dia akan bilang "Aduh ini bukan bidang saya,. Saya tidak mungkin sukses disini". Dan dia tidak coba untuk mempelajari itu. Jadi dia disitu-situ saja...disitu-situ saja.

Yang Kedua... Perbedaan antara orang yang punya pemikiran miskin dan pemikiran kaya,. Orang-orang kaya ini, mereka berjuang untuk menang. Sedangkan orang-orang miskin ini, berjuang untuk tidak salah. Maksudnya begini,.. Ada kata-kata Susi Susanti yang menarik sekali. Susi susanti dia menjadi pebulutangkis nomor satu di indonesia wanita. Wartawan tanya sama dia, "Kenapa masih kerja keras, kenapa masih latihan keras?" Susi Susanti cuma bilang, "Karena yang nomor satu itu hanya satu orang". Itulah pemikiran-pemikiran para pemenang, walaupun dia sudah di atas tapi dia berpikir untuk menjadi orang nomor satu. Karena dia yakin seyakin-yakinnya untuk menjadi orang nomor satu dia harus terus melakukan latihan secara konsisten terus belajar dan lainnya. Sedangkan orang-orang miskin itu berjuang untuk tidak salah. Yang penting tidak salah aja deh,..! Terserah seperti apa. Mau nomor lima, mau nomor dua puluh, mau nomor tiga puluh yang penting tidak salah. Makanya mereka ini tidak pernah menjadi orang nomor satu. Karena di pemikiran mereka ini yang penting tidak salah, titik. Mereka tidak punya ambisi seperti ambisi yang dipunyai oleh orang-orang kaya itu. Orang-orang miskin itu puas kalau sudah aman. Mereka itu siap untuk melepaskan sebuah peluang kalau sampai peluang itu mengganggu keamanan mereka, karena mereka takut untuk berspekulasi. Padahal mungkin mereka pikir peluang ini menarik, tapi mereka ingin aman. Orang kaya beda. Orang kaya nggak mau cari aman. Dia cari freedom. Beda keamanan financial dan kebebasan financial. Orang kaya berpikir kebebasan financial,. Orang miskin itu berpikir apa? Keamanan financial. Dari sudut pandang ini saja sudah berbeda. Jadi pencapaiannya pasti berbeda.

Yang Ketiga menjadi perbedaan antara orang miskin dan orang kaya adalah Komitmen versus harapan. Orang kaya punya komitmen, orang miskin hanya punya harapan. Orang kaya, apabila sudah punya mau, dia akan sangat berkomitmen dengan kemauan dia itu. Sedangkan yang orang miskin hanya berharap memelihara harapan tadi. Sedangkan orang kaya, dia menciptakan harapan itu. Orang miskin hanya menunggu harapan.
Orang kaya, apabila sudah punya komitmen, dia akan rela melakukan apapun. Dia akan bangun lebih pagi, pulang lebih malam, tidur lebih larut, belajar hal-hal tidak pernah dipelajari orang lain untuk bisa menciptakan peluang-peluang baru. Sedangkan orang miskin, terus berjalan tanpa komitmen tapi tetap berharap.

Perbedaan yang ke empat adalah Kesempatan versus masalah. Orang kaya selalu berbicara kesempatan, sedangkan orang miskin selalu berbicara tentang masalah. Orang sukses selalu melihat peluang dari semua masalah. Sedangkan orang gagal selalu melihat masalah dari semua peluang. Orang sukses, kalau dia ada masalah, dari masalah itu dia cari peluangnya dari mana masalah ini. Karena dia tau semua kesuksesan besar di dunia ini, itu berawal dari masalah, masalah orang yang bisa dipecahkan. Sedangkan orang gagal, pada saat dia diperhadapkan peluang, dia akan selalu mencari masalahnya dimana dari peluang itu. Selalu dia cari. Padahal sudah di kasih tau, ini nanti begini nih, nanti plan A, plan B, plan C. Tapi nanti gimana ya kalau begini, gimana ya kalau begitu, gimana kalau bangkrut. Jadi dia sudah jadi peramal dulu, jadi dia sudah bisa meramalkan tentang masa depan dia. Dia selalu melihat masalah dari setiap peluang. Sedangkan orang sukses, orang-orang kaya ini selalu melihat peluang dari setiap masalah.

Itu tadi ke empat perbedaan mendasar cara berpikir antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin.
Semoga bermanfaat...
Sukses buat kita semuanya.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh




Dikisahkan, Ada seorang mahasiswa yang sekian lama berjuang di bangku kuliah untuk mencapai tingkat akademik yang lebih tinggi, dan sampailah pada waktunya dosen memberikan ujian terakhir untuk menentukan lulus atau tidak dirinya. Dalam ujian tersebut sang dosen yang sangat arif dan bijaksana ini memberikan pertanyaan pada mahasiswa itu. Dosen berkata "Nak, sudah siapkah dirimu dalam mengikuti ujian akhir ini?" Sudah, Pak..! jawab mahasiswa itu dengan tegas.

Baiklah kalau begitu, Nak..! Hari ini Saya hanya memberikan satu pertanyaan untukmu, dan berharap pertanyaan ini bisa kamu jawab dengan tepat. "Baik Pak, apa pertanyaannya" tanya mahasiswa itu. Dosen berkata "Kamu Saya beri waktu selama tiga hari untuk mencari makhluk yang menurut pandanganmu sangat buruk". Beberapa detik mahasiswa itu menengadah ke langit-langit ruangan ujian seperti sedang berpikir sejenak, lalu dengan percaya diri mahasiswa itu berdiri dan pergi meninggalkan dosennya dari ruang ujian.

Sesampainya di rumah, mahasiswa itu merenung dan berpikir mencari jawaban dari pertanyaan yang diberikan dosennya tadi. Di hari pertama, Ia lalu berjalan-jalan keluar rumah menelusuri kampung dan perkotaan hendak melihat-lihat kehidupan yang ada diluar sana, hingga ia menjumpai kerumunan orang banyak yang sedang berjudi dan mabuk-mabukan, sampai terbesit dalam pikirannya "Mungkin ini jawaban dari pertanyaan yang diberikan dosennya", karena mereka ini orang-orang yang lebih buruk dari aku. Mereka gemar berbuat maksiat setiap hari daripada beribadah kepada Sang Illahi, sedangkan aku adalah orang yang ahli ibadah.

Setelah berjalan kaki seharian dan terasa capek, ia lalu pulang ke rumah merenung dan berpikir dengan apa yang baru saja ia jumpai. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah benar ia lebih baik dari orang-orang penjudi dan pemabuk yang barusan di jumpai tadi? Lama dalam berpikir, lantas ia menyadari bahwa manusia bukanlah robot yang bisa di program dengan satu tingkah laku dan tidak bisa berubah. Sedangkan manusia adalah makhluk yang sempurna diciptakan yang dikaruniai akal pikiran dan diberi kesempatan untuk bertobat kepada yang Maha Kuasa. Dari situ ia lalu menyimpulkan bahwa ia tidaklah lebih baik dari orang-orang penjudi dan pemabuk tadi selagi masih menjalani hidup di dunia yang penuh dengan cobaan, sebab boleh jadi mereka yang larut dengan dosa-dosanya yang melimpah sebanyak pasir di pantai lalu mereka bertobat dan mengakhiri hidupnya dengan indah penuh kebaikan, akan lebih baik dibanding para ahli ibadah yang tidak pernah ikhlas dalam menjalankan perintah ketaatan pada pemilik kehidupan ini.

Di hari kedua, hal sama dilakukan mahasiswa ini, ia jalan keluar rumah dan dijumpai seekor anjing penyakitan dan buruk rupa, bergumam ia "mungkin inilah makhluk yang paling buruk dimaksud pertanyaan dosen itu, karena anjing ini sangat buruk daripada aku". Dengan semangat mahasiswa ini merasa menemukan jawaban untuk pertanyaan dosennya, lantas ia pulang ke rumah.

Sesampai ia di rumah, kembali ia merenung dan berpikir tentang seekor anjing tadi. Ia bergumam "Seekor anjing walaupun buruk rupa dan berpenyakitan, dia tidak lebih buruk daripada aku, karena ketika hari kebangkitan tiba, maka seekor anjing tidak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, sedangkan aku akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang aku lakukan selama hidup. Jika aku tidak bisa mempertanggungjawabkan semua itu, maka hancur dan habislah diriku. "Sungguh, aku tidaklah lebih baik dari anjing itu.

Di hari yang ketiga, akhirnya mahasiswa itu menghadap dosennya. Maka bertanyalah dosen padanya, "Sudahkah kamu menemukan jawaban atas pertanyaan itu, Nak?" "Sudah Pak" Jawab mahasiswa itu. Lantas apa jawaban kamu, Nak? Sahut dosen.
Mahasiswa itu langsung menjawab, "Ternyata makhluk yang paling buruk itu adalah diri saya sendiri Pak dosen". Dosen mengangguk dan tersenyum, "Kamu berhasil ujian ini, Nak? Kamu Lulus".

Sahabat pembaca, kisah diatas merupakan ilustrasi gambaran kehidupan yang mana kita seringkali dengan mudah menilai orang lain akan keburukannya dan tidak mampu menilai keburukan akan diri kita sendiri. kita mampu menilai orang tapi kita takut menilai diri sendiri. Berpikirlah positif tentang apa yang ada pada orang lain. Jangan menghujat, jangan membuli, jangan mencaci dan hal negatif lainnya yang ada dalam pikiran anda. Tumbuhkan hal positif dalam benak anda, karena berpikir positif akan mendatangkan kebaikan untuk anda.

Sudut pandang juga sangat berpengaruh. Tidak ada orang sukses jika tidak memiliki konsep berpikir yang baik. Konsep berpikir atau cara berpikir merupakan hal penting bagi anda dalam meraih kesuksesan. Belajar bukan hanya di sekolah saja, melainkan diberbagai tempat. Tidak hanya kepada manusia kita belajar, tapi pada alam semesta pun bisa. Semua hal dapat kita pelajari, hanya saja mampukah kita melihat hal tersebut menjadi sebuah pelajaran yang dapat membuat kita lebih menjadi pribadi yang lebih baik.

Semoga bermanfaat,..