Rendah diri dapat bersifat akut yang akan mempengaruhi kehidupan kejiwaan seseorang menjadi defensif pasif. Kecenderungan seperti ini akan membuatnya memilih zona aman dalam hidupnya. Meskipun begitu, zona aman sekalipun ia sering merasa tidak aman dan tidak nyaman. Rendah diri cenderung bersifat penyakit bathin (psikologis), sehingga diperlukan perawatan maksimal dari orang-orang terdekatnya untuk melakukan tindakan pemulihan.

Tindakan yang penulis maksudkan adalah tindakan meliputi tiga hal, yakni:

  1. Mengajarkan secara intensif kepadanya, bagaimana cara Ia menerima semua kekurangan pada dirinya secara ikhlas sebagai ketentuan Allah.
  2. Mengajarkan secara intensif kepadanya, bagaimana cara agar Ia menemukan segi positif yang ada pada dirinya sebagai kelebihannya yang bisa diberdayakan dihadapan orang lain.
  3. Memaksimalkan pendidikan nonformal tentang cara bersyukur atas apa yang di anugerahkan Allah kepadanya.


Pada bagian artikel sebelumnya, penulis sudah menyampaikan bahwa penulis tidak memberi porsi banyak pada topik rendah diri, karena lebih mengarah pada masalah psikologis. Penulis juga cenderung untuk tidak membicarakan topik terlalu percaya diri, karena itu pun memiliki ranah pembicaraan yang berbeda dengan kepentingan artikel ini. Baik minder maupun terlalu percaya diri memerlukan penanganan khusus yang menggunakan pendekatan, teknik, strategi dan metode psikologi yang khusus pula. Penulis hanya mengingatkan kembali bahwa orang yang terlalu percaya diri cenderung bersifat superior, memandang rendah orang lain, mengabaikan segala kemungkinan resiko dan serin bersifat takabur.

Penulis cenderung lebih suka mendekati masalah yang berhubungan dengan orang yang kurang memiliki kepercayaan diri, dan bagaimana cara untuk meningkatkan kepercayaan dirinya sebagai kasus yang biasa saja.




Bukankah Anda pernah terjebak pada suatu kondisi yang membuat Anda terpaksa berbohong untuk mengatakan bahwa "Anda cukup percaya diri" dalam menghadapi situasi tertentu, padahal sesungguhnya Anda tidak percaya diri. Mengapa Anda melakukan hal itu? Penulis merasa bahwa Anda mempunyai alasan yang mungkin dapat Anda pahami, namun tidak bagi orang lain. Misalnya Anda takut dianggap paranoid, lemah atau bodoh. Mungkin juga Anda ingin dikagumi, dibanggakan atau dihargai oleh lingkungan Anda.

Padahal kalau Anda boleh memilih, bukankah sebenarnya Anda lebih suka berada di zona aman yang nyaman? Namun pasti Anda telah berpikir bahwa hal itu berpotensi menyebabkan Anda merasa takut dianggap sebagai "si pemalu" atau "si penakut". Predikat ini tentu Anda rasakan sangat mengerikan dan Anda mati-matian menjauhinya. Kalau cap diri seperti itu terus melekat pada diri Anda, maka Anda berada dalam situasi yang kritis. Ketika terbuka sebuah tantangan untuk mendapat peluang emas, kesempatan itu tidak akan diberikan kepada Anda, namun diberikan kepada orang lain yang lebih memiliki percaya diri yang tinggi.

Yang lebih merugikan lagi adalah bila Anda adalah seorang yang kurang memiliki kepercayaan diri, maka Anda akan sering dililit oleh rasa cemburu. Anda tidak suka kepada orang lain, teman atau anggota keluarga lain yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Anda akan merasakan betapa semua perhatian yang Anda butuhkan, justru diberikan pada orang lain, sedangkan Anda diabaikan dan tidak diperhitingkan sama sekali. Kalau dibiarkan, hal ini tentu akan merusak harmonisasi hubungan Anda dengan mereka. Penulis dapat membayangkan posisi Anda yang terjepit. Penulis juga dapat membayangkan betapa antusiasnya mereka menghadapi hal-hal baru, sedangkan Anda berusaha menghindarinya, karena merasa takut dengan resikonya. Anda merasa bahwa Anda tak akan berdaya menghadapi kemungkinan resiko yang timbulsaat Anda berhadapan dengan situasi itu.

Walaupun selama ini Anda adalah orang yang mempunyai tingkat kepercayaan diri yang cukup baik, namun tak ada salahnya Anda berhati-hati, karena derajat kepercayaan diri itu dapat berubah-ubah. Ada saatnya Anda merasa sangat percaya diri ketika menghadapi sesuatu yang memiliki resiko jauh lebih kecil dibanding dengan kemampuan Anda. Akan tetapi, bisa jadi faktor-faktor tersebut dapat berpotensi menjatuhkan tingkat kepercayaan diri Anda ke tingkat kurang percaya diri.

Lalu,.! apa faktor-faktor yang dapat berpotensi menjatuhkan tingkat kepercayaan diri Anda ke tingkat kurang percaya diri yang penulis maksudkan diatas, antara lain yakni:

a. Tiba-tiba saja Anda dihinggapi perasaan diabaikan, ditinggalkan atau ditolak oleh seseorang yang Anda cintai atau Anda kasihi, atau Anda hargai selama ini karena suatu sebab yang Anda lakukan atau dilakukan orang lain yang begitu dekat dengan Anda. Perasaan semacam ini dapat merusak harga diri Anda.

b. Anda mengalami insiden yang membuat Anda mendapatkan kemalangan yang berkepanjangan, bertubi-tubi, dan bersifat serius.

c. Anda menerima kritik pedas yang Anda rsakan sebagai sesuatu yang tidak pantas atau tidak adil yang ditujukan kepada Anda, apalagi kalau kritik itu cenderung merendahkan harga diri Anda, khususnya pada saat Anda berada pada posisi sulit untuk membela diri, sehingga dapat berakhir sevagai sesuatu yang memalukan Anda.

d. Anda ternyata memutuskan untuk menetapkan tujuan yang salah, yang tidak sama dengan tujuan bersama, apalagi kemudian terbukti bahwa tujuan Anda tidak memberikan kontribusi yang berarti pada kemajuan perusahan, misalnya.

e. Anda melakukan kesalahan tertentu, ataupun agama dan merasa cemas jangan-jangan orang yang berada disekitar Anda mengetahui kesalahan Anda.

Mungkin masih banyak hal yang membuat Anda tiba-tiba dijatuhkan oleh suatu keadaan atau perbuatan seseorang, yang pada akhirnya memaksa Anda untuk tidak berani berhadap-hadapan dengan tantangan kehidupan nyata.

Apa yang seharusnya Anda lakukan ketika merasakan bahwa Anda mulai kehilangan kepercayaan diri? Kalau Anda memilih untuk pasrah dan duduk manis di zona aman Anda yang nyaman, maka Anda tidak usah repot-repot mengikuti beberapa petunjuk berikut ini. Namun bila Anda menginginkan mendapatkan kembali kepercayaan diri yang memadai, maka beberapa hal dibawah ini lakukanlah dengan berani.

Tips Untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri

  • Selalu bersikap positif terhadap situasi apapun yang sedang Anda hadapi.
  • Seleksilah secara cermat fenomena yang datang dari luar dan analisalah pengaruhnya. Jika pengaruhnya positif, maka ambillah. Begitu sebaliknya.
  • Jangan ragu-ragu untuk berbagi rasa kurang percaya diri Anda kepada orang lain, misalnya teman atau sahabat yang dapat dipercaya.
  • Yakinkan diri Anda bahwa dengan akal budi yang Anda miliki, mampu mengendalikan diri Anda.
  • Yakinkan diri Anda bahwa semua situasi yang dihadapi memiliki hikmah, terlepas dari itu merupakan kegagalan atau keberhasilan.
  • Belajar menerima keberadaan diri Anda apa adanya.
  • Hadapi tantangan yang ada di depan Anda sebagai sebuah kesempatan untuk maju & hadapi resikonya.
  • Buatlah keputusan yang Anda rasa sebagai keputusan yang tepat dan hadapi segala konsekuensinya.
  • Dalam hubungannya dengan dunia kerja, tingkatkan efektifitas kerja Anda dengan cara memperbaiki etos kerja.
  • Hadapi krisis yang ada di depan mata sebagai tantangan yang mempunyai tujuan tertentu.
  • Fokuslah pada sesuatu yang positif 
  • Sadari dan temukan apa yang salah dari apa yang sudah Anda kerjakan.
  • Evaluasilah diri Anda untuk mengetahui apa sebenarnya yang telah Anda kerjakan dan akan Anda kerjakan, serta evaluasi kelemahan danmkelebihan Anda.
  • Jangan pernah berhenti disuatu titik kegagalan. Bangkit dan rebut kembali keberhasilan yang belum sempat Anda raih.




Pada artikel sebelumnya sudah dibahas bahwa keberanian seseorang sangat tergantung pada motif apa yang dimilikinya untuk menghadapi situasi yang ada didepannya. Jikalau Anda memiliki motif yang kuat untuk menghadapi sesuatu, maka Anda akan berani untuk menghadapinya, walaupun kondisi Anda tidak memungkinkan untuk menghasilkan sesuatu karya yang besar. Mungkin Anda sering mendengar sebuah untaian kalimat, "Saya tak mau hidup saya menjadi sia-sia". Itu sebabnya Anda begitu berani berjuang melawan segala bentuk kesulitan hidup yang berat.

Bukankah Anda sering merasa tak berdaya bila menghadapi sesuatu yang memiliki resiko sangat besar? Semakin besar kesulitan yang Anda hadapi, pada umumnya semakin memperbesar ketidakberdayaan Anda. Masalah ketidakberdayaan ini sengaja saya bedakan dengan ketidakberdayaan diri. Ketidakberdayaan lebih saya tekankan pada masalah lahiriah, sedangkan ketidakberdayaan diri lebih saya tekankan pada masalah batiniah. Tentang keberanian menghadapi ketidakberdayaan diri akan saya bahas lain kesempatan setelah ketidakberdayaan diri.

Ketidakberdayaan hanya bisa dihadapi dengan tekad yang kuat

Apa yang Anda pikirkan ketika seseorang mengalami kondisi patah tulang menjadi beberapa bagian setelah terjatuh dari ketinggian atau jurang yang sangat dalam? Anda pasti berasumsi mengatakan bahwa ia pasti tak berdaya, atau pasti mati. Akan tetapi tidak demikian yang dialami oleh orang tersebut. Dengan keberanian yang luar biasa, ia berusaha melawan ketidakberdayaannya. Ia memiliki motif yang kuat untuk menyelamatkan diri dari cengkeraman maut dan ia punya keberanian untuk memperjuangkan motifnya itu, hingga ia bisa selamat. (Kisah Joe Simpson seorang pendaki gunung salju setingggi 20.000 kaki di daerah pegunungan Andes).



Kisah ketidakberdayaan lainnya seperti yang dialami Laura Jensen Walker, seorang wanita yang divonis oleh dokter atas penyakit kanker payudara yang dideritanya. Penyakit yang ganas ini dengan cepat menghantam dan menghancurkan kondisi kesehatan fisiknya. Lalu apa yang dilakukannya? Dengan segala usaha keberanian dan tekad yang kuat, ia berusaha bertahan hidup dengan penuh optimisme melawan penyakitnya. Semua terapi telah dilakukannya sebagai suatu bentuk usaha yang maksimal agar dapat sembuh. Apapun usaha yang dilakukannya, pasti tak akan berhasil tanpa pertolongan Allah. Ia sangat yakin akan hal itu.
Kemoterapi dan kematian adalah musuh-musuh yang terlalu kuat bagi Saya. Akan tetapi, Allah telah berjanji akan menolong Saya. Saya begitu percaya, sehingga perasaan yang meneror Saya pun meredah. "Saya adalah milik-Nya, dan tak ada satupun yang dapat mengubahnya, hingga Saya bisa sembuh sempurna" Ungkap Laura Jensen Walker dalam sebuah media wawancara.

Banyak diantara kita yang berjuang mati-matian untuk berani menentang vonis mati dari seorang dokter karena penyakit yang dideritanya, misalnya karena kanker ganas, gagalnya fungsi ginjal atau penyakit maut lainnya. Sebagian dari mereka gagal melanjutkan hidupnya, namun sebagian berhasil dengan gemilang. Oleh karenanya perlu ketabahan besar untuk menerima vonis bahwa Anda menderita penyakit yang mematikan. Hanya orang dengan kekuatan mental yang luar biasa saja yang mampu menghadapi kenyataan pahit dengan optimis tinggi. Kebanyakan dari kita, begitu mendengar vonis maut semacam itu terjadi pada diri kita, maka rasa frustasi dan putus asa yang timbul meremukkan ketahanan semangat kita.

Berikut ini, ada beberapa tips dalam menghadapi ketidakberdayaan:

  • Yakinkan diri Anda bahwa tidak ada cobaan yang tidak bisa diatasi.
  • Yakinkan diri Anda bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
  • Ikhlaslah dengan ketentuan Allah, menerima penderitaan yang diberikan-Nya, menghadapi kondisi terburuk yang menyengsarakan dan menjalankan skenario yang dibuat-Nya serta menjalankan hidup dengan mati-matian berusaha mengatasi semua ketidakberdayaan akan membuat Anda tabah dan kuat untuk meraih keberhasilan.
  • Yakinkan diri Anda bahwa Allah terlibat dalam setiap jengkal kehidupan Anda.
  • Milikilah makna hidup agar rasa sakit dan penderitaan juga mempunyai makna dan dapat Anda atasi. Kalau hidup tak punya makna, maka penderitaan sekecil apapun akan menjadi bencana.
  • Selalu ada kesulitan dalam setiap peluang. kalau Anda tidak mau menderita, maka Anda tidak punya peluang untuk bangkit dari ketidakberdayaan.
  • Milikilah tekad yang kuat, semangat yang tinggi dan terus mencoba untuk menjawab setiap tantangan ketidakberdayaan Anda, dan tiap menghadapi penderitaan sebagai resikonya, merupakan jalan menuju keberdayaan.
  • Perbanyaklah humor, teman curhat, ibadah dan rasa bersyukur. Kalau semua ini Anda lakukan akan meningkatkan moral Anda untuk mengubah ketidakberdayaan menjadi keberdayaan.
  • Hindarkan diri Anda dari pikiran-pikiran yang mengobarkan rasa takut. Hal ini akan melemahkan ketahanan Anda, dan dapat membuat Anda berhenti berusaha. Kalau ini terjadi, maka Anda tidak melakukan apa-apa dan hanya berkubang pada situasi tidak berdaya dan berkepanjangan.
  • Hindari rasa panik saat Anda tidak mampu berbuat apa-apa, karena rasa panik pada umumnya diwujudkan dalam bentuk perilaku yang membabi buta, atau bahkan sama sekali tak berbuat apa-apa, ini akan sangat merugikan Anda. Tingkatkan ketabahan untuk meningkatkan keberdayaan.





Prasangka buruk seringkali menjadi faktor penting yang mengakibatkan kegagalan kita dalam menyikapi sesuatu. Bila Anda merasa takut terhadap prasangka buruk yang dilontarkan orang lain atas diri Anda, hal itu berpeluang menjadkan Anda kehilangan kepercayaan diri. Dalam kondisi yang lebih parah lagi, Anda akan terus dibayangi rasa ketakutan mendalam, kecemasan dan ketidakkepercayaan pada siapapun yang Anda curigai.

Prasangka buruk ini akan sering menghantui orang yang kurang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Banyak yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari disekitar kita. Memang tak semudah membalikan telapak tangan dalam mematahkan rasa ketakutan akan prasangka buruk bagi seseorang dengan kondisi fisik yang menyedihkan seperti itu. Pasti kemampuannya begitu rendah dan akan membebani teman-teman dan orang-orang disekitarnya. Prasangka buruk dari lingkungan sekitarnya ini mau tak mau harus dilawannya dengan pembuktian.

Ketika hal ini menimpa atas diri Anda, lalu apa yang dapat dilakukan?

Prinsip hidup yang sederhana, yakni melawan segala hal yang membebani diri sendiri dengan segala makna. Jangan menggantungkan hidup atas belas kasih orang lain, bahkan Anda tak mau berprasangka bahwa Anda tak bisa apa-apa. Prinsip itulah yang nantinya membuat Anda tak mudah putus asa. Keterbatasan kekurangan anggota fisik tubuh bukan penghalang gairah hidup dan cita-cita untuk kita berkembang.
Keberanian dan tekad menjadi orang yang luar biasa dan bermakna, yaitu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Tekad yang kuat dan tahan uji inilah yang memberikan energi besar pada sebuah keberanian.



Kalau hidup ini memiliki arti, maka rasa sakit dan penderitaan akan punya makna, dan segala kesukaran hidup akan dapat diatasi. Sebaliknya, kalau hidup kita tak punya makna, maka penderitaan sekecil apapun akan menjadi bencana bagi diri kita.
Untuk menjadi berani dengan menepis prasangka buruk dari orang lain yang ditujukan pada Anda, tak ada jalan yang lebih bagus kecuali membuktikan bahwa Anda bisa melakukan hal yang sama seperti orang lain, bahkan mampu melakukan yang lebih baik dari itu. Mungkin prasangka buruk itu tidak melulu berupa ketidakpercayaan pada kemampuan Anda, namun juga curiga terhadap niat baik Anda. Sama saja, Anda harus berani membuktikan dengan jalan apapun bahwa prasangka buruk yang ditujukan pada Anda adalah salah. 
Berani menghadapi prasangka buruk  berarti berani membuktikan kepada orang lain bahwa mereka tidak selayaknya merendahkan Anda.

Prasangka buruk juga sering ditujukan kepada orang-orang yang tidak beruntung dalam hidupnya. Seorang yang pernah dipenjara karena suatu kekhilafan, akan menemui kesulitan dalam hidup bermasyarakat. Orang-orang yang dalam kehidupannya miskin dan lusuh, apalagi hidup di pemukiman kumuh juga akan sulit hidup berbaur dengan masyarakat normal pada umumnya. Seorang pemulung yang hidupnya penuh derita, juga tak mudah bersatu dengan sebagian masyarakat di luar kelompoknya. Ini semua terjadi karena masyarakat kita masih menaruh prasangka buruk pada mereka.

Yang menjadi ganjalan adalah bahwa ketakutan Anda terhadap prasangka buruk yang Anda terima itu akan mengendap lama dalam pikiran Anda, dan menghambat keberanian Anda untuk berbuat sesuatu. Sebaliknya, apabila Anda yang dihinggapi prasangka buruk pada seseorang, juga harus secepatnya dihindari. Prasangka buruk atau rasa curiga pada sesuatu atau seseorang memang berpotensi untuk menimbulkan langkah antisipasi yang akan diambil apabila prasangka buruk itu benar-benar terjadi.

Berikut ini ada beberapa tips dalam menghadapi takut atas prasangka buruk, yakni:

  • Pahamilah hakikat prasangka buruk sebagai hak setiap orang yang ditujukan kepada siapapun, sehingga Anda dapat menerima prasangka buruk seseorang kepada Anda itu sesuatu yang wajar.
  • Pelajarilah apa yang membuat orang lain menaruh prasangka buruk kepada Anda. Temukan sesuatu pada diri Anda yang membuat orang lain merasa tak nyaman.
  • Pantaulah perasaan orang yang berprasangka buruk kepada Anda, agar Anda dapat memahami cara yang perlu Anda gunakan untuk mendekatinya.
  • Binalah hubungan baik dengan semua orang, lalu pelajari apa sebenarnya yang dibutuhkannya dan berikan solusi atas permasalahannya. Maka, ia akan menempatkan Anda sebagai seorang yang tidak pantas menerima prasangka buruk.
  • Terimalah sikap permusuhan dari orang yang berprasangka buruk kepada Anda, namun tetaplah Anda menjaga martabat dan harga dirinya, sehingga ia tidak merasa terhina atau dipandang rendah.
  • Jangan membalas prasangka buruk dari seseorang dengan prasangka buruk Anda, karena halitu justru akan membuat orang lain mengetahui kelemahan Anda dan berusaha untuk menghancurkannya.
  • Bangunlah citra diri Anda yang lebih besar dari emosional Anda. Hal ini akan membuat orang lain menghargai Anda. Apabila emosional Anda lebih besar dari citra diri, maka orang akan menjauhi Anda.
  • Kendalikan diri Anda ketika berhadapan dengan situasi dicurigai, jangan mencoba mengendalikan situasi karena Anda tak akan mampu.
  • Berikan perhatian yang baik pada orang yang menaruh prasangka buruk pada Anda secara ikhlas, maka orang itu akan menghormati Anda.
  • Hindarilah timbulnya prasangka buruk Anda kepada orang lain sebelum orang lain menaruh prasangka buruk kepada Anda.




Sobat pengunjung,.!? Sudah pasti Anda pernah merasakan kehilangan, bukan? Entah itu kehilangan sesuatu yang Anda miliki atau yang Anda sayangi, baik itu kehilangan yang berhubungan dengan aspek psikologi, material ataupun pergaulan sosial. Takut akan kehilangan tentu merupakan suatu peristiwa yang berat dan menyidihkan. Pada dasarnya, ada dua tindakan yang dapat Anda pilih untuk menyikapi kehilangan itu, yakni membiarkan diri terpuruk dan menyesali kejadian itu, atau merenungkan hikmah dari peristiwa itu dan mencoba bangkit untuk memulai menemukan kembali sesuatu yang hilang itu.

"Sudah tentu Anda akan menyikapi kehilangan itu dengan cara kedua".

Kehilangan material biasanya dapat Anda atasi dengan melakukan proteksi awal, misalnya dengan jalan mengasuransikan harta kekayaan Anda, menitipkannya di bank, menaruhnya di brankas atau ditempat aman lainnya. Namun kehilangan harta yang Non-material, tak mudah Anda prediksi sebelumnya dan tak mudah untuk diantisipasi. Kehilangan harta non-material misalnya, kehilangan jabatan, kehilangan kesempatan, kehilangan harga diri, kehilangan kasih sayang dan perhatian, kehilangan teman tempat pencurahan isi hati atau kehilangan istri dan sanak keluarga. Lalu bagaimana Anda menyikapi hal ini?

Takut akan kehilangan kesempatan membuat Anda mempersiapkan diri lebih baik untuk mengambil peluang yang ada. Takut akan kehilangan jabatan membuat Anda selalu berhati-hati, waspada dan profesional dalam pekerjaan Anda. Takut akan kehilangan harga diri dan kehormatan membuat Anda senantiasa menjaga prilaku dan meningkatkan kepedulian sosial dan menghargai orang lain lebih baik lagi. Takut kehilangan teman dan sahabat, membuat Anda sebisa mungkin memupuk keakraban dan menghindari hal-hal yang bisa menyinggung perasaan. Takut kehilangan kemampuan seksual akan membuat Anda menjaga stamina dengan berolahraga, pola makan sehat dan pola hidup sehat, termasuk mengkonsumsi obat-obatan untuk meningkatkan ukuran organ seksual dan tahan lama. Takut kehilangan anak dan istri, setidak-tidaknya Anda mempersiapkan diri untuk tidak berselingkuh dan meningkatkan cinta kasih.




Namun itu semua adalah antisipasi pada ketakutan terhadap sesuatu yang berjalan normal. Kehilangan bisa saja terjadi secara tiba-tiba atau tanpa terduga sebelumnya seperti pada sebuah insiden. Anda bisa kehilangan teman, sahabat, anak, istri atau harta benda dalam waktu yang singkat. Kalau sudah begini, tidak akan ada lagi yang bisa Anda siapkan untuk melakukan antisipasi. Anda harus mengembalikan posisi Anda pada fitrahnya. Anda hanya makhluk lemah yang tak memiliki apapun di dunia ini, karena semua yang melekat pada diri Anda adalah titipan yang Maha Kuasa.

Sebagai sebuah titipan, Anda hanya berkewajiban untuk menjaga dan memanfaatkan semua itu untuk kebahagiaan Anda dan untuk meningkatkan kualitas ibadah Anda. Titipan yang Maha Kuasa ini hanya dimaksudkan untuk memberi kemudahan pada Anda agar ibadah Anda semakin mudah. Pada saatnya, titipan ini akan diambil oleh pemiliknya, dan Anda tak punya kemampuan dan tak punya hak sama sekali untuk mencegahnya.

Anda harus lapang dada menerima kehilangan itu sama seperti waktu pertama kali Anda menerima titipan itu. Rasa ikhlas dan tawakal akan kekuasaan yang maha kuasa dalam mengambil kembali titipan-Nya akan membuat Anda merasa tenang dan tenteram. Kalau semua titipan itu Anda pergunakan untuk kemudahan dan kekuatan ibadah Anda, sudah saatnya Yang Maha Kuasa mengambil kembali milik-Nya dan meminta Anda membuktikan tanpa itu pun ibadah Anda tak berkurang bobotnya. Keberanian untuk bersikap ikhlas dan tawakal, serta keberatan untuk mengakui kelemahan kita dihadapan Yang Maha Kuasa akan meningkatkan keberanian menghadapi apa yang ada di depan mata.

Keberanian Anda menghadapi ketakutan akan kehilangan dapat berupa tindakan preventif, dapat pula berupa tindakan kuratif. Tindakan preventif atau tindakan pencegahan tentu merupakan tindakan yang Anda lakukan sebelum peristiwa kehilangan itu Anda alami. Tindakan ini merupakan tindakan proteksi awal. Tindakan kuratif merupakan tindakan setelah peristiwa itu terjadi, sehingga merupakan tindakan pemulihan. Tindakan kuratif ini berhubungan dengan penyembuhan mental yang juga membutuhkan keberanian untuk mencoba tegar kembali.

Berikut ini ada beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk menghadapi ketakutan akan kehilangan:
  1. Asuransikan barang-barang berharga milik Anda sehingga Anda bisa menjalani hidup dengan tenang. Atau kalau Anda tidak memiliki kemampuan finansial untuk mengikuti program asuransi barang-barang berharga, lakukan proteksi sebaik mungkin untuk memperkecil resiko kehilangan.
  2. Asuransikan pula hidup Anda dari program asuransi jiwa dan asuransi kesehatan, karena kedua peristiwa itu merupakan peristiwa yang terjadi diluar kendali Anda. Bahkan apabila Anda tiba-tiba sakit, Anda tidak akan banyak kehilangan biaya karena banyak program asuransi yang menanggung biaya perawatan sakit Anda.
  3. Kalau Anda tidak mampu mengikuti program asuransi seperti yang disebutkan diatas, lakukanlah pola hidup sehat dan tingkatkan kewaspadaan untuk melakukan proteksi atas diri Anda sendiri.
  4. Simpanlah uang Anda ditempat yang aman, misalnya dalam bentuk tabungan di bank. Jangan membawa uang tunai berlebihan pada saat berbelanja atau berada ditempat keramaian pengunjung orang banyak. Gunakan kartu kredit atau kartu debit yang bisa di uangkan sesuai kebutuhan Anda.
  5. Jagalah hubungan baik Anda dengan teman atau orang yang dapat dipercaya agar orang tersebut tidak meninggalkan Anda, terutama pada saat Anda membutuhkan pertolongan atau bantuannya.
  6. Perkecillah resiko kehilangan peluang, kesempatan atau jabatan ditempat kerja dengan melakukan semua pekerjaan Anda secara jujur, benar, profesional dan amanah.
  7. Perkuatlah keyakinan Anda terhadap kebenaran Allah, karena semua yang melekat pada diri Anda adalah milik-Nya yang dititipkan kepada Anda untuk memudahkan ibadah Anda kepada-Nya. Sebagian titipan, sudah tentu sewaktu-waktu akan diambil kembali dengan cara yang tidak pernah bisa di duga.





Seringkali orang dilanda ketakutan ketika menghadapi resiko. Kesalahan terbesar yang dilakukan oleh kebanyakan orang tersebut adalah takut untuk mencoba, dan takut menghadapi peluang yang belum tampak di depan mata mereka. Mengapa hal ini terjadi pada setiap orang? Anda menjadi takut karena Anda berprasangka buruk atau berpikiran negatif, atau mungkin terpengaruh oleh pendapat orang disekitar Anda, sehingga Anda takut menghadapi resiko yang mungkin bakal terjadi. Padahal Anda memahami bahwa takut mencoba sesuatu berarti kehilangan kesempatan untuk berhasil.

Perlu di ingat,.! Sekecil apapun tindakan Anda, selalu mengandung resiko. Meskipun Anda sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna, selalu ada kemungkinan timbulnya resiko yang tidak Anda inginkan. Antisipasi yang Anda lakukan untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang timbul dari apa yang Anda hadapi, jauh lebih baik daripada Anda tak peduli dengan resiko yang mungkin timbul. Antisipasi itu memberi arti bahwa Anda telah menyiapkan diri untuk menghadapi resiko. Akan tetapi, apabila Anda tidak peduli dengan kemungkinan terburuk yang bisa saja timbul, maka Anda bagaikan orang buta yang tak tahu tentang apa yang ada dihadapannya. Hal ini tentu menempatkan Anda pada resiko yang lebih besar.

Beranikan diri Anda untuk menghadapi resiko dan seluruh situasi yang melibatkan diri Anda.

Ketika Anda memberanikan diri untuk mencoba sesuatu, ada beberapa hal utama yang harus Anda lakukan :
  • Pertama, perkirakanlah sebanyak mungkin resiko yang mungkin akan Anda hadapi
  • Kedua, buatlah keputusan untuk menghadapinya dengan kekuatan yang Anda miliki.
  • Ketiga, Anda harus sepenuhnya menyadari dan mewaspadai bahwa apapun tindakan yang Anda lakukan selalu ada kemungkinan berakhir dengan sebuah kegagalan dan kekalahan.
  • Keempat, tentukan sikap Anda terhadap bobot resiko yang akan dihadapi. Jika Anda merasa resiko itu terlalu berat melebihi apa yang telah Anda persiapkan, sebaiknya Anda tunda saja langkah itu. Sebaliknya, jika Anda yakin bahwa resiko itu lebih kecil dibanding kekuatan Anda, maka lanjutkan rencana Anda.


Anda harus jujur pada diri Anda sendiri tentang kekuatan dan keterbatasan Anda, sehingga secara bijak Anda tahu kapan harus meninggalkan resiko yang terlalu berat, dan kapan menghadapi resiko yang relatif dapat Anda atasi. Kalau Anda telah memperhitungkan kekuatan dan keterbatasan Anda, maka Anda dapat dengan leluasa menentukan situasi apa yang seharusnya Anda hadapi terdahulu. Bagaimanapun, semakin tinggi Anda memanjat tebing, semakin besar resikonya untuk jatuh.

Ketika Anda memutuskan untuk tidak menghadapi situasi yang mengandung resiko jauh lebih besar dari kemampuan Anda, bukan berarti Anda penakut atau pengecut. Justru Anda melakukan langkah yang sangat rasional. Ketika sekawanan perampok datang kepada Anda dengan membawa senjata api lengkap dengan amunisinya, sedangkan Anda tidak memiliki kemampuan ilmu beladiri, dan hanya memiliki sebuah pisau kecil. Maka tindakan Anda untuk menyerah bukanlah tindakan penakut, kecuali Anda memiliki motif yang sangat kuat. Resiko yang Anda hadapi jauh lebih berat dari kemampuan Anda, sehingga Anda akan termaafkan bila memilih tidak berani mengambil resiko melawan.




Resiko yang barat sering menimpa kalangan medis dalam melakukan tindakan medis, kalau pasien tidak diberi tindakan medis, maka ia akan berada dalam situasi yang sangat membahayakan jiwanya. Namun kalau pada pasien itu dilakukan tindakan medis, juga akan mengundang bahaya yang sama. Itu sebabnya, sering seorang dokter mengadakan perjanjian tertulis dengan pihak keluarga pasien sebelum tindakan medis yang berbahaya itu dilaksanakan. Hal ini dilakukan demi keamanan si dokter agar ternindar dari tuntutan bila terjadi kegagalan.

Pada umumnya sesuai dengan sumpah jabatan pada saat ia memutuskan menjadi dokter, maka dokter manapun sudah seharusnya berani mengambil resiko untuk melakukan tindakan medis sesuai prosedur dan kewenangannya. Namun pada kenyataannya, walaupun ia sudah mati-matian berusaha menyelamatkan jiwa pasien, ternyata jiwa pasien tak tertolong. Resiko lain diluar resiko profesionalnya adalah ia harus menghadapi adanya tuntutan-tuntutan pertanggungjawaban dari pihak pasien sendiri.

Resiko medis yang mungkin terjadi sebagai akibat dari tindakan medis yang dilakukan seorang dokter kepada pasien cukup banyak. Antara lain adalah resiko yang melekat, misalnya rambut rontok akibat pemberian obat pembunuh sel kanker, resiko hipersensitivitas misalnya respon imun yang berlebihan atau menyimpang terhadap masuknya bahan asing atau obat-obatan, resiko komplikasi yang terjadi secara tiba-tiba dan tak bisa di duga sebelumnya seperti adanya emboli air pada saat ibu melahirkan.

Bukan hanya dokter, profesi lain juga senantiasa dihadapkan dengan resiko. Baik itu guru, polisi, tentara, wartawan, buruh, pedagang dan lain sebagainya. Semua aktivitas yang kita lakukan selalu ada resikonya. Berjalan kaki pun ada resikonya, berlari, naik kendaraan, semuanya itu ada resikonya. Bahkan berdiam diri pun ada resikonya. Jadi tidak ada alasan untuk takut pada resiko, karena setiap saat selalu kita berhadapan dengan resiko. Yang Anda perlukan adalah sebuah kejujuran untuk mengakui kekuatan dan keterbatasan Anda yang telah Anda ukur secara proporsional, untuk kemudian mengukur seberapa besar resiko yang akan Anda hadapi, lalu berbuat rasional Selama bobot resiko itu berada dibawah atau setara dengan kekuatan Anda, hadapi saja tanpa keraguan. Namun apabila kekuatan Anda berada dibawah bobot resiko itu, tundalah dulu untuk mengumpulkan dan meningkatkan kemampuan Anda.

Berani menghadapi resiko, bukan berarti berani melakukan tindakan membabi butatanpa perhitungan sama sekali. Berani mengambil resiko berarti berani menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi dengan persiapan yang matang.

Berikut ini, ada beberapa tips yang dapat Anda lakukan ketika menghadapi resiko

  1. Tentukan dan kenalilah situasi yang akan Anda hadapi.
  2. Buatlah daftar semua resiko yang mungkin terjadi sebelum hal itu benar-benar terjadi.
  3. Kenali karakteristik resiko dan tentukan strategi untuk menghadapinya. Misalnya, kalau Anda terkena hantaman ombak saat berselancar, jangan panik dan jangan memberontak. Kalau itu Anda lakukan, Anda akan terseret ke dasar laut dan tewas, carilah tempat berlindung  dan tunggu sampai badai reda.
  4. Kenali dan pahami betul kekuatan serta keterbatasan kemampuan Anda yang dapat Anda gunakan untuk menghadapi resiko.
  5. Beranikan diri Anda untuk keluar dari zona aman, dan siapkan diri Anda untuk menerima resiko.
  6. Kuatkan diri Anda dengan berfokus pada pengendalian reaksi Anda. Anda harus tahu kapan saat yang tepat untuk menghadapi resiko dan kapan meninggalkannya.
  7. Tinggalkan resiko jika itu melebihi kemampuan yang Anda miliki, dan hadapi resiko kalau dibawah atau setara dengan kemampuan Anda.
  8. Optimalkan keberanian dan kebenaran serta berorientasi pada resiko tadi. Hadapi resiko dengan konsentrasi tinggi.





Menerima kegagalan atau kekalahan dengan lapang dada, bukanlah perkara yang mudah. Anda mungkin akan merasa malu, rendah diri dan menganggap diri sebagai orang yang tak mampu. Kegagalan dalam kadar tinggi juga dapat menyebabkan seseorang frustasi. Keinginan untuk mencapai sesuatu berbanding terbalik dengan kekecewaan yang diterima. Semakin besar keinginan Anda, semakin besar pula kekecewaan Anda ketika Anda gagal dalam meraih keinginan itu.

Kegagalan memang suatu yang pahit untuk diterima, namun apapun itu harus diterima dengan jujur dan ikhlas. Kejujuran dan ikhlas menerima kegagalan bukanlah sesuatu memalukan. Semua orang pernah mengalami hal demikian. Orang yang berhasil bukanlah orang yang tak pernah mengalami kegagalan, melainkan orang yang selalu bangkit kembali dari kegagalan itu dan mencoba lagi dengan pendekatan baru. Pendekatan ini berbeda dengan yang sebelumnya. Bila pendekatan sebelumnya berakhir dengan sebuah kegagalan, maka pendekatan yang baru ini adalah pendekatan perbaikan yang menghapus kelemahan-kelemahan sebelumnya dengan menggunakan metode baru yang lebih taktis.

Anda akan menjadi luar biasa manakala menerima kegagalan tanpa merasa diri Anda telah terkalahkan. Anda mungkin gagal, tapi Anda tidak kalah. Kegagalan bukan berarti kekalahan dan bukan akhir dari segalanya. Kegagalan akan mengajarkan kepada Anda bahwa selalu ada kesulitan pada setiap peluang. Tidak mungkin terbuka sebuah peluang tanpa ada kesulitan di dalamnya. Maka ketika Anda menyikapi kegagalan bukan sesuatu yang memalukan atau membuat Anda terhina, sebenarnya Anda telah berada di ambang keberhasilan.



Kegagalan adalah rintangan yang banyak memberikan informasi tentang keterbatasan yang kita miliki dalam menghadapi situasi sulit. Apapun tindakan yang Anda lakukan, ibarat meluncurnya suatu anak panah berkepala dua. Artinya satu ujungnya mengarah pada kegagalan, dan satu ujung lainnya mengarah pada keberhasilan. Dengan mengantisipasi kemungkinan terjadinya kegagalan, maka Anda dapat menyiapkan diri untuk menghadapi kekecewaan. Kesiapan inilah yang membuat Anda harus tabah dan bisa meningkatkan kemampuan Anda untuk meraih keberhasilan.

Anda perlu menjaga keseimbangan antara keyakinan bahwa Anda akan berhasil dan pengakuan bahwa Anda mungkin akan gagal. Keyakinan bahwa Anda akan berhasil adalah sesuatu yang penting dan sangat berpengaruh dalam memberi kekuatan pada Anda dalam melakukan tindakan apapun. Akan tetapi, keyakinan itu akan menjadi tidak berarti manakala Anda  membutakan diri terhadap kemungkinan gagal. Dengan menempatkan kedua ujung tombak tindakan Anda secara proposional, berarti Anda siap menghadapi kemungkinan terburuk pada saat diri Anda masih memiliki kepercayaan diri yang cukup.

Sebenarnya ada dua keuntungan yang bisa Anda dapatkan dari kegagalan itu. Keuntungan pertama adalah, Anda dapat mempelajari penyebab kegagalan Anda, mengapa rencana dan tindakan Anda tak sesuai dengan yang di inginkan. Keuntungan lainnya adalah kegagalan itu justru memberi kesempatan bagi Anda untuk mencoba menggunakan pendekatan baru, yang merupakan perbaikan atas tindakan yang gagal tersebut.

Berikut ini ada beberapa langkah yang bisa Anda tempuh untuk menyikapi kegagalan yang pernah di alami secara benar:


  • Pertama, Hadapi bisikan-bisikan persuasif tentang kegagalan yang ada dalam pikiran Anda, sebelum Anda benar-benar menghadapinya secara nyata. Pikiran-pikiran inilah yang akan meracuni langkah Anda ketika akan memulai langkah baru. Hadapi dengan berani setiap hasutan hati yang memanipulasi keberanian Anda yang membuat Anda merasa lemah. Hasutan hati yang persuasif misalnya "percuma saja, Anda tak akan mampu menghadapinya", "Anda tak punya peluang untuk memenangkan masalah ini", atau "lupakan saja rencana Anda karena Anda pasti gagal", tentu harus Anda singkirkan jauh-jauh. Hasutan yang ada dalam pikiran Anda ini bukan saja membuat Anda menjadi ragu, namun juga berpotensi menghentikan langkah berani Anda untuk mencoba sesuatu.
  • Kedua, Ambillah langkah-langkah teratur yang sistematis dan bermakna dalam mendekati kegagalan yang pernah Anda alami sebelumnya. Langkah yang teratur akan memberi gambaran tentang tahapan apa yang telah Anda lakukan sebagai penyebab kegagalan saat itu. Anda dapat memperbaiki tahapan yang rusak dan mengganti dengan metode baru yang lebih dinamis dan memiliki energi yang bagus. Setelah Anda ketahui penyebabnya dan memperbaiki kerusakannya, maka mulailah menata langkah yang lebih terencana.
  • Ketiga, Perkuat alasan dan keyakinan Anda mengapa Anda berusaha mencoba untuk kembali melakukan tindakan yang berakhir dengan kegagalan itu. Yakinkan pula tentang manfaat apa yang Anda dapatkan dengan mencoba mengulang kembali tindakan itu. Kalau Anda yakin benar akan siap menghadapi kemungkinan terburuk, dan siap mendapatkan manfaat yang Anda butuhkan, kerjakan tanpa keraguan. Namun bila Anda belum menemukan sebab dari kegagalan terdahulu, dan belum memiliki keyakinan akan manfaatnya, jangan kerjakan semua itu.
  • Keempat, Milikilah sosok panutan untuk dijadikan idola. Adaptasikan kekuatan tokoh tersebut dalam menghadapi pengalaman-pengalamannya, termasuk kegagalan dan keberhasilannya dan pelajari bagaimana tokoh itu bangkit kembali untuk mencapai keberhasilan. Jika Anda takut melakukan sesuatu yang baru karena tidak memiliki metode dan strategi yang tepat, Anda dapat belajar dari pengalaman orang lain yang pernah melakukan hal yang sama dan berhasil mengatasinya.


Jangan biarkan kegagalan masa lalu menghentikan langkah Anda sekarang. Selalu ada peluang bagi Anda ketika memutuskan untuk berani mencoba, dan selalu ada jalan bagi Anda untuk meraih kesuksesan jikalau Anda mau berusaha.







Sobat setia pengunjung blog kesayangan Jally Junkiez dot com,. Seperti yang telah penulis sampaikan pada artikel sebelumnya, bahwa kita akan membahas topik langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjadi pemberani. Dan salah satunya adalah menentukan sikap bagaimana cara kita menghadapi rasa takut tersebut. Pada kesempatan ini, penulis akan berbagi tips tersebut pada sobat sekalian. Namun, sebelum pembahasan ini diuraikan lebih lanjut, baiknya bagi sobat yang baru mengikuti artikel ini, silahkan baca artikel yang bermanfaat lainnya terkait topik sebelumnya tentang "MATI-MATIAN MENJADI BERANI"

Sobat pengunjung,. Sebetulnya pada intinya ada tiga cara yang bisa dilakukan untuk menyikapi rasa takut ketika menyerang diri Anda, yakni :

  • Pertama, Anda akan bersikap masa bodoh, tak peduli, cuek atau tanpa memberikan tanggapan sama sekali.
  • Cara kedua, Anda akan memberikan tanggapan yang berlebih-lebihan terhadap rasa takut.
  • Cara ketiga adalah memanfaatkan ketakutan Anda sebagai sumber kekuatan.




Kalau Anda menyikapi ketakutan dengan cara pertama, maka Anda membutuhkan keberanian yang luar biasa dan kepercayaan diri yang tinggi. Orang yang terbiasa memilih cara pertama, ini bersikap seolah-olah tanpa beban, santai dan menganggap enteng saja pada semua yang seharusnya"menakutkan". Padahal bisa saja kepercayaan dirinya itu sangat rapuh dan mudah dipatahkan, namun ia memanipulasinya dengan berpura-pura gagah dan tabah. Ia sering mengatakan kalimat "Jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa" atau "Tenang saja, tidak ada yang perlu ditakutkan". Bisa juga, "Itu hal kecil, tak ada masalah". Pilihan cara ini mengundang sinyal bahaya karena Anda mengabaikan resiko yang mungkin mengancam keselamatan Anda. Andaikata resiko itu muncul, Anda tidak memiliki langkah strategi untuk menghadapinya. Itu artinya, Anda akan kembali kalah.

Cara pertama itu juga sangat berbahaya bila dilakukan tanpa motif yang jelas, karena ia tak memiliki kesiapan untuk menghadapi resiko yang mungkin timbul. Namun dalam keadaan darurat, ketika muncul sebuah motif yang luar biasa kuat, maka keberaniannya  bisa menjadi luar biasa. Orang menjadi berani tidak hanyaberorientasi pada kepentingan pribadi saja, namun bisa saja muncul justru pada saat ia menghadapi kepentingan orang lain. Manakala ia melihat ketidakadilan yang dialami orang lain, melihat penderitaan yang menimpa orang lain, atau melihat malapetaka kemanusiaan yang menggugah jiwa, bisa menimbulkan motif kemanusiaan yang menimbulkan keberanian. Motif-motif kemanusiaan seperti kewajiban untuk membela orang lain yang sengsara atau teraniaya, berpotensi menimbulkan keberanian yang luar biasa.

Ketika sebuah motif telah menggelora, maka keberanianlah wujudnya. Banyak orang yang menderita dan mati-matian memperjuangkan motif yang diyakininya, bahkan mereka terasa lega saat meregang nyawa karena berhasil memperjuangkan motif itu. Mereka telah mati-matian mengerahkan potensi apapun yang ada padanya demi sebuah motif. Motif inilah alasan, mengapa Anda harus bertindak.

Cara kedua dalam menghadapi ketakutan adalah menanggapinya secara pesimis yang berlebihan. Kalau Anda memilih cara ini, maka Anda akan menempatkan diri Anda pada situasi yang menimbulkan ketidakberdayaan diri Anda dan akan membuat Anda diselimuti kepanikan yang terus-menerus.
Orang yang menghadapi ketakutannya dengan cara ini terkesan mempermalukan dan merendahkan dirinya sendiri dalam kepasrahan total dengan emosional yang tak terkendali. Terkadang ia bahkan sangat irasional dan menempatkan dirinya untuk tak berdaya sama sekali, karena terlalu memikirkan kemungkinan terburuknya tanpa memikirkan solusi atas permasalahannya. Kalimat paling sering keluar dari bibirnya hanyalah, "Ah,itu terlalu berbahaya bagi saya. Saya tak berani melakukannya". atau, "Hal itu terlalu besar resikonya. Saya tak sanggup melakukannya".

Cara ketiga adalah memanfaatkan ketakutan dengan cara menerima dan menghargai rasa takut sebagai sesuatu yang wajar bahkan bisa menjadi sumber kekuatannya. Rasa takut dapat memberikan kehati-hatian dan kewaspadaan pada Anda. Dengan menyikapi rasa takut seperti itu, Anda akan memahami penyebab timbulnya rasa takut, dan bagaimana mengontrolnya. Sikap ini akan membuat Anda tenang walaupun dalam situasi yang paling tertekan sekalipun. Namun tetap saja motiflah yang menjadi landasan utama keberanian Anda. Bedanya dengan cara pertama, cara ketiga ini telah memperhitungkan skenario terburuk yang mungkin timbul ketika Anda keluar dari zona aman, dan waspada atas kegagalan dan kekalahan yang mungkin terjadi.





Kesimpulan, Tips terakhir untuk sobat dalam menghadapi rasa takut:
  1. Kenalilah rasa takut itu, dan analisislah mengapa Anda merasa takut terhadap sesuatu yang Anda hadapi.
  2. Hadapilah rasa takut itu sebagai sesuatu yang bermanfaat, yang dapat menunjukan kelemahan dan keterbatasan Anda.
  3. Antisipasilah kemungkinan terburuk yang bisa terjadi ketika Anda berhadapan dengan situasi yang berpotensi menakutkan diri Anda. Buatlah daftar resiko yang mungkin timbul.
  4. Ukurlah kekuatan dan kelemahan Anda secara jujur dalam menghadapi kemungkinan resiko yang sudah Anda tuliskan tadi. Kalau resiko itu lebih besar dari kemampuan Anda, maka hindari saja. Namun bila resiko itu setara atau lebih kecil dari kemampuan Anda, maka hadapi saja tanpa keraguan sama sekali.
  5. Tentukan motif apa yang menjadi alasan untuk menghadapi situasi itu, dan tentukanlah keuntungan serta kerugian atas tindakan yang akan Anda lakukan.
  6. Optimalkan rasa percaya diri dengan menanamkan keyakinan bahwa Anda akan mampu menghadapi situasi itu.
  7. Jangan ragu untuk menceritakan rasa takut Anda pada teman atau orang yang Anda percaya. Karena berbagi cerita pada orang lain yang terpercaya dapat mengurangi rasa takut Anda, bahkan mungkin ia dapat membantu Anda dalam menghadapi situasi itu.
  8. Mulailah bertindak dari sekarang tanpa menunda-nunda. Hadapi situasi dengan mengerahkan semua potensi yang Anda miliki, dan kalahkan situasi yang menakutkan itu dengan berani.
  9. Sekarang, dengan mati-matian kerahkan segala potensi dan keyakinan Anda secara maksimal untuk menghadapi situasi apapun yang ada dihadapan Anda.