KISAH BONAR BOCAH YATIM PIATU MENJADI ORANG SUKSES




Mestinya jika anak-anak berusia 13 tahun itu, lebih layak menempuh bangku pendidikan sekolah, dan bukan untuk bekerja keras mencari nafkah. Apalagi bekerja layaknya seorang bapak dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Segalanya dilakukan agar dapat bertahan hidup. Namun terkadang dalam hidup ini, banyak orang salah berpersepsi. Jika ingin bertahan hidup tentunya butuh sandang, pangan dan papan bukan,..?  Coba berpikir, gimana caranya agar bisa bertahan hidup tanpa semua itu. Tentulah ini akan membuat Anda perlahan-lahan mati konyol. Ibarat Anda hidup di dalam sebuah kabin tanpa dikasih makan dan minum. Salah satu jalan untuk keluar dari belenggu itu, maka harus bekerja untuk dapat penghasilan sebagai imbalan dari usaha yang telah dikorbankan. Seperti kisah Bonar, bocah yatim piatu dalam menjalani kerasnya kehidupan.

Bonar di usia tujuh tahun telah ditinggal oleh bapaknya karena mengidap penyakit kanker darah. Selama ditinggal sang bapak, Bonar hidup bersama ibunya dan kedua adik perempuannya yang baru berusia sembilan bulan dan satunya lagi berusia dua tahun. Kehidupan mereka tergolong miskin. Setiap hari Bonar dan Ibunya harus bekerja keras mengumpulkan kayu kering dari hutan untuk di jual pada seorang pengusaha penumpuk kayu bakar yang ada di kampungnya itu. Di usia Bonar yang ke sepuluh tahun ibunya meninggal dunia karena sakit jantung, sehingga Bonar harus lebih bekerja keras mengganti ibunya sebagai kepala rumah tangga dalam menghidupi kedua adiknya. Akan tetapi ada tetangga Bonar yang begitu peduli dan merasa iba akan kehidupan mereka sebagai anak yatim piatu sehingga Bonar dan kedua adiknya diminta untuk tinggal bersama tetangganya itu. Namun Bonar lebih memilih tinggal di gubuk peninggalan dari kedua orangtuanya, meskipun seorang diri tanpa kedua adiknya.

Di usia sepuluh tahun sejak kehilangan kedua orangtuanya yang tercinta, tak menyurutkan semangat hidupnya dalam mencari nafkah hidup dan biaya sekolahnya. Bonar rela kehilangan masa kanak-kanak yang layaknya selalu bermain dan gembira. Tapi kini ia harus berkutat dengan kehidupan layaknya orang dewasa atau orangtua yang bekerja demi kelangsungan hidup. Masuk usianya yang ke 13 tahun, ia memutuskan untuk tidak lanjut bersekolah ke bangku menengah dan lebih memilih bekerja menjadi seorang kulih bangunan. Sejak bekerja menjadi seorang kulih bangunan, Bonar merasa bangga karena dapat merubah kehidupannya lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak. Sedikit demi sedikit gaji yang diterimanya setiap minggu dari hasil mengulih ditabungnya dan sebagian lainnya disisipkan untuk kebutuhan sekolah kedua adiknya.

Kurang lebih 10 tahun bekerja menjadi seorang kulih semakin menambah pengetahuannya mengenal ilmu teknik bangunan, sehingga ia menjadi seorang kulih profesional. Beberapa proyek yang dikerjakannya berhasil dilakukan dengan tepat waktu dan hasil yang sangat memuaskan, sehingga namanya semakin tenar dikalangan para kontraktor bangunan. Tawaran demi tawaran pengerjaan proyek terus mengalir sebagai rejeki untuknya yang tak bisa di elakkan. Lima proyek raksasa milik orang asing mampu diselesaikan dengan konstruksi yang sangat super luar biasa. Kesuksesan yang diraih Bonar sangat di acungkan jempol. Meski tak menyelesaikan pendidikan sampai jenjang sarjana, Bonar telah menunjukkan bukti usaha kerasnya dalam mewujudkan sebuah kesuksesan.

Nah, sobat pembaca..! Kisah bonar tadi menjadi pelajaran berarti buat kita sekalian, bahwa usaha keras tak membohongi hasil. Oleh karena itu jangan sampai semangat Anda dapat dikalahkan oleh putus asa. Teruslah bangkit dan melangkah meskipun harus merangkak. Langkah demi langkah yang Anda tapaki, kelak akan mencapai tujuan yang Anda cita-citakan.

Semoga bermanfaat...

No comments:

Post a Comment