Ketidakberdayaan Diri Mengakibatkan Ketakutan



Takur terhadap ketidakberdayaan diri berawal dari pemahaman tentang keberdayaan diri yang tidak profesional. Kalau Anda menilai diri sendiri tidak memiliki keberdayaan yang berarti dan kurang berharga akbibat ketidakberdayaan psokologis, sosial, atau keadaan jasmani yang kurang sempurna, maka dengan mudah Anda akan mengalami ketakutan yang bersifat serius.

Takut terhadap ketidakberdayaan diri ini dapat dibedakan menjadi dua, yakni takut yang disebabkan oleh faktor internal seperti mengalami cacat, susuah berkomunikasi atau menderita penyakit tertentu. Kedua, takut terhadap ketidakberdayaan diri yang disebabkan oleh faktor eksternal, misalanya akibat kelemahan ekonomi orangtua, broken home, atau masalah lingkungan lainnya. Kedua jenis ketakutan ini akan memaksa Anda memasuki dunia rendah diri.




Beberapa sebab yang melatar belakangi ketakutan terhadap ketidakberdayaan diri antara lain adalah:
  • Anda memiliki kondisi tubuh yang tidak sempurna, sehingga Anda menjadi rendah diri dan menolak melakukan persaingan. Akibatnya, keberdayaan Anda tidak bertambah dan Anda merasa tidak berdaya berbuat apa saja.
  • Anda merasa terlalu miskin untuk mendapatkan barang-barang yang dapat memacu keberdayaan diri, sehingga Anda merasa seberapapun beratnya Anda berusaha, hasil yang dicapai tidak akan maksimal. Hal ini akan membuat Anda berhenti berusaha.
  • Anda merasa diperlakukan tidak adil oleh keadaan, sehingga Anda memberontak dengan melakukan aksi tidak berbuat apa-apa. Dengan melakukan ini, Anda berharap orang lain mengerti keadaan Anda dan dapat memahami kekurangan Anda.
  • Anda salah dalam mengenali diri Anda, dan membuka peluang seluas-luasnya untuk ketidakberdayaan, dan menutup peluang rapat-rapat untuk sebuah keberdayaan. Hal ini cenderung menempatkan Anda pada zona aman untuk tempat menentramkan diri.
  • Anda merasa lebih nyaman dengan ketidakberdayaan ini karena tidak diminta untuk melakukan sesuatu yang memiliki resiko besar, tidak dihadapkan pada ancaman bahaya, dan akan mendapatkan rasa iba dari orang lain.
  • Anda pernah melakukan pekerjaan yang berakhir dengan kegagalan dan mendapat ejekan dari orang lain yang menyudutkan harga diri Anda yang akhirnya membuat Anda menjadi tidak percaya pada keberdayaan Anda.
  • Anda mendapat tekanan cukup besar dari keluarga untuk melakukan pekerjaan yang Anda pikir di luar kemampuan Anda. Untuk menghindari pekerjaan itu, Anda dengan sengaja mengecilkan keberdayaan Anda.


Anda akan terkubang pada ketidapercayaan akan keberdayaan diri, dan selalu menempati posisi dibawah posisi orang lain. Akibatnya, apapun yang Anda lakukan seolah-olah dalam kendali dan hinaan orang lain. Kalau saja gejala ini berkembang tanpa upaya normalisasi, maka selamanya Anda akan hidup dalam jerat-jerat ketakutan.

Pada satu kasus, misalnya ketika tiba-tiba terjadi sebuah kecelakaan hebat, seorang remaja terpaksa kehilangan kedua kakinya. Mungkin benar ia merasakan langit diatas kepalanya terasa runtuh, dan bumi dibawahnya terbelah dan menjepitnya. Ia lalu menyikapi kehilangan kedua kakinya itu sebagai kehilangan segala-galanya. Bukan ketakutanakan kehilangan kaki yang menghantuinya, malainkan takut pada hinaan dan ejekan atas ketidaksempurnaan dirinya dan kehilangan keberdayaannya untuk menghadapi segala macam situasi yang akan datang.

Kehilangan sebagian tubuh itu disikapinya sebagai bencana besar dalam hidupnya, mengoyak-ngoyak kepercayaan dirinya. Pada kondisi seperti ini, Ia lebih suka memasuki zona aman, dengan memilih berdiam diri tidak melakukan apa-apa dikamarnya, memutuskan untuk mengurung diri tanpa komunikasi dengan teman-temannya, dan melanjutkan hidupnya dari belas kasihan orangtua. Ia terlalu takut untuk mencoba keluar rumah atau mencoba melakukan sesuatu yang baru. Ia takut dikasihani temannya, takut diejek, takut ditertawakan, takut dianggap sampah, dan banyak lagi jenis takut lainnya. Maka ia akan menghabiskan seluruh hidupnya dalam jerat ketakutan seperti itu, sampai pada saatnya ia berani keluar dari zona aman  dan berani menanggung resiko yang menimpahnya. Sampai ia menyadari bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah berada ditengah-tengah masyarakat yang ramai, bukan sendirian dikamarnya.

Takut terhadap ketidakberdayaan diri yang akut akan membuat Anda secara psikologis menjadi orang yang tidak percaya diri. Kepribadian ini merupakan sinyal bahwa apapun yang akan Anda kerjakan akan berakhir dengan kegagalan.


No comments:

Post a Comment