Makna terkandung dari wasiat "Tak Pernah Melihat Matahari"

Kisah Inspirasi dan Motivasi

Makna terkandung dari wasiat "Tak pernah melihat matahari"


Di tahun 2009 seorang bapak yang sukses mengolah usahanya memberikan wasiat berupah ungkapan kata pada kedua putranya di saat sang bapak sudah sakit-sakitan dan menemui ajalnya.
Sang bapak yang semasa hidupnya sukses dengan usaha pertokoan jual beli sembako yang di kelolahnya, kini mewarisi usahanya serta segala harta kekayaannya kepada kedua putranya yang sangat dibilang mapan dengan usia serta pendidikan yang dicapai keduanya.
Sebelum meninggal dunia sang bapak menyampaikan wasiat tentang kesuksesan usaha yang di kelolahnya dari nol hingga sukses kepada kedua putranya agar usahanya dapat di lanjutkan oleh kedua putranya seperti yang ia lakukan semasa hidup.
Ungkapan sang bapak yang terbata-bata di saat menjelang ajalnya mengatakan kepada kedua putranya yakni "Bapak memulai semua usaha ini dari nol, dan sampai saat ini bapak telah menikmati manfaat dari sebuah kesuksesan itu. Bapak berharap kalian berdua dapat mengikuti apa yang sebelumnya bapak lakukan sehingga menjadikan kalian dewasa dan berpendidikan tinggi. Oleh karena itu bapak ingin kalian berdua melanjutkan usaha bapak ini dengan senang hati dan mengolahnya dengan baik sebagaimana apa yang telah bapak lakukan semasa sehat.
Perlu kalian ketahui bahwa kunci kesuksesan dari usaha yang bapak miliki adalah "Bapak Tak Pernah Melihat Matahari dalam mengelolah usaha ini." 





Setelah mengungkapkan kata wasiat pada kedua putranya, sang bapak langsung menemui ajal kembali pada yang maha kuasa. Keduanya saat itu masih berada di samping jasad yang terbaring kaku, langsung memeluk dan berlinang airmata. Kesedihan menyelimuti hati  keduanya setelah kehilangan sosok seorang bapak yang sangat luar biasa merintis usaha pertokoan hingga sukses menyekolahkan mereka sampai tingkat tinggi. Dalam hati mereka hanyalah melanjutkan usaha sang bapak saat ini .

Tiga Tahun Kemudian...

Waktu terus berganti hingga tiba keduanya menikah dan menjalani hidup berumah tangga satu sama lainnya. Sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk membagi harta warisan dari sang ayah secara adil. Di tengah perjalanan hidup mereka, keduanya masih berpegang pada wasiat yang di ungkapkan almarhum sang bapak untuk melanjutkan usahanya. Sehingga keduanya membuka usaha yang sama meskipun di tempat yang berbeda yakni membuka toko jual beli sembako. Pada mulanya usaha yang di kelolah masing-masing sangat di bilang mendapat keuntungan lebih. Namun lama kelamaan salah satu dari mereka usahanya mulai menurun, sehingga timbul pemikiran negatif salah satu dari mereka terhadap usaha yang di kelolahnya masing-masing.




Tak puas melihat salah satu di antara mereka yang sukses sehingga muncul fitnah dan terjadi permusuhan kedua kakak beradik tersebut.
Waktu terus bergulir namun permusuhan kedua kakak beradik masih terus berlanjut. Rasa cemburu dalam hati melihat salah satu usaha dari mereka yang semakin maju dan sukses membuat niat jahat dalam hati untuk menghalang kesuksesan itu.
Seperti biasa setelah sholat subuh sang adik berangkat turun dari rumah hendak membuka toko usahanya, dan pagi itupun ia mulai menyambut kedatangan pelanggan yang berbelanja silih berganti. Sementara di tempat lain sang kakak setiap hari membuka toko usahanya pukul sembilan pagi masih sepih akan kedatangan pelanggannya. Setiap hari pelanggannya semakin berkurang,bahkan terkadang seharian sepih tak berkunjung pembeli. Para karyawannya yang bekerja mulai merasakan dampak usaha yang di kelolah sang Bos semakin menurun sehingga beberapa karyawan di antara mereka memilih untuk berhenti dan pindah bekerja ke usaha sang adik. Hal ini semakin membuat sang kakak makin sakit hati dengan keadaan yang menimpah usahanya karena merasa tersaingi oleh sang adik. Setiap hari dirinya di bayangi pikiran serta mimpi-mimpi buruk menimpah usahanya. Sehingga dengan pertimbangan yang matang, akhirnya ia bulatkan tekad untuk berdamai dengan sang adik.

Hari itu tepat di hari raya idul fitri sang kakak mengajak istri dan anaknya berkunjung silaturahmi ke rumah sang adik untuk berdamai dan saling maaf memaafkan. Niat itu akhirnya terwujud saat sang adik menerima dengan ikhlas permohonan maaf dari sang kakak. Keduanya terlihat penuh kasih sayang seperti dahulu kala. Keakraban tali silaturahmi yang sempat terputus kini terajut kembali dengan kebahagiaan. Sampai akhirnya sang kakak bercerita tentang usaha yang di kelolahnya saat ini mengalami penurunan. Sehingga ia meminta bantuan dari sang adik untuk dapat membantu usaha yang di kelolah saat ini termasuk kiat-kiat sukses yang membuat usaha adiknya semakin maju. Sang adik mendengar keluh kesah dari sang kakak, sampai akhirnya ia mengingatkannya kembali pada wasiat dari almarhum bapak pada sang kakak.
"Kamu lupa dengan wasiat yang di sampaikan bapak saat menjelang ajalnya untuk kita berdua,bahwa Bapak Tak Pernah Melihat Matahari dalam mengelolah usaha ini." jawab sang adik. Ungkapan inilah yang terus aku pikirkan dan aku lakukan. Oleh sebab itu selesai aku mengerjakan sholat subuh, aku sudah berangkat membuka toko dan aku kembali pulang ke rumah selesai mengerjakan sholat maghrib. Mungkin ini wasiat yang di maksud almarhum bapak akan kunci kesuksesan itu. Sementara kamu membuka toko usahamu jam sembilan pagi di saat matahari sudah terbit terang. Bahkan kamu sendiri tutup toko usahamu jam empat sore di kala matahari masih nampak.

Setelah mendengar apa yang disampaikan sang adik, hatinya mulai sadar akan apa yang ia lakukan selama ini dalam mengelolah usahanya. Semenjak saat itu sang kakak mulai merubah proses hidup dan kerjanya mengikuti wasiat yang di sampaikan almarhum bapaknya.
Alhasil baru menjelang satu bulan usahanya mulai berangsur membaik hingga ramai dengan para pembeli. Dan kini ia menjadi orang yang taat beribadah serta menjadi donatur tetap di sebuah panti asuhan anak yatim piatu.



No comments:

Post a comment